Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home masjid detail berita

Islam dan Barat: Jalan yang Tak Bertemu di Persimpangan Moralitas

miftah yusufpati Jum'at, 11 Juli 2025 - 05:45 WIB
Islam dan Barat: Jalan yang Tak Bertemu di Persimpangan Moralitas
Kemajuan material Barat, seterang apapun kilauannya, dibangun di atas reruntuhan etika dan jiwa. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah gemuruh kemajuan material dan teknologi, Barat modern, dalam pengamatan Muhammad Asad, mengalami transformasi sosial yang dalam dan diam-diam tragis: moralitas kehilangan pondasi etikanya, diganti dengan nilai-nilai utilitarian yang tak menyisakan ruang bagi roh.

Asad dalam buku Islam di Simpang Jalan yang berjudul asli Islam at the Crossroads menelusuri bagaimana kehidupan sosial Barat kini bergerak berdasarkan satu prinsip utama: apakah sesuatu itu “berguna” secara material atau tidak.

Kebajikan dinilai bukan dari keluhuran moralnya, melainkan sejauh mana ia berkontribusi pada efisiensi sistem, pada kestabilan produksi, pada roda kapitalisme atau negara.

Nilai-nilai seperti cinta anak kepada orang tua, kesetiaan dalam perkawinan, atau kedekatan kekeluargaan menjadi luntur karena tak lagi memiliki nilai ekonomi langsung. Maka tak heran, kata Asad, ayah kehilangan kekuasaan, anak kehilangan respek. Keluarga—dulu benteng nilai—dijadikan reruntuhan oleh logika sosial yang mengutamakan jaringan produksi kolektif.

Demikian pula dengan disiplin seksual. Dulu, seks dikendalikan oleh etika. Sekarang, digantikan oleh kebebasan jasmani yang dijustifikasi oleh ilmu populasi dan genetika. Akibatnya, relasi kemanusiaan pun menjadi transaksional, dingin, teknokratik.

Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad

Komunisme dan Kapitalisme

Asad tidak hanya menyasar kapitalisme. Ia juga menguliti komunisme Soviet sebagai puncak dari evolusi anti-agama yang dibangun oleh Barat.

Perbedaan antara keduanya, kata Asad, hanyalah soal kecepatan dan metode. Tujuannya sama: menundukkan individualitas spiritual kepada sistem material kolektif. Manusia dijadikan roda dari mesin sosial, bukan sebagai makhluk bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Pandangan ini menggugah, bahkan menantang asumsi dasar sejarah kontemporer yang biasa melihat komunisme dan kapitalisme sebagai dua kutub yang saling bertentangan. Asad melihat keduanya sebagai anak-anak dari ayah yang sama: peradaban materialistik yang anti-spiritual.

Maka dari itu, pertanyaan mendasar muncul: dapatkah Islam mengadopsi cara hidup Barat? Jawaban Asad jelas dan tegas: tidak! Karena titik tolak keduanya bertolak belakang secara prinsip.

Islam menempatkan kemajuan moral sebagai tujuan tertinggi. Etika bukan pelengkap, tetapi poros dari seluruh kegiatan sosial, ekonomi, politik. Sebaliknya, dalam sistem Barat, etika dikerdilkan menjadi teori kosong, bahkan jadi “angka irasional” yang terpaksa digunakan hanya untuk menutupi lubang metodologis dalam sistem berpikir yang tidak memercayai hal-hal transenden.

Baca juga: Warisan Romawi dan Tipuan Akar Barat: Di Balik Klaim Keagamaan Peradaban Modern

Asad dengan jernih membedakan antara kemajuan teknologi dan semangat kebudayaan. Ia tidak menolak ilmu eksakta, teknik, atau pengetahuan terapan dari Barat. Kaum Muslimin, katanya, harus mau belajar dan mengambil manfaat dari sains modern.

Namun membebek sistem sosial, gaya hidup, dan tata nilai Barat adalah bencana bagi Islam. Meniru sistem Barat, menurut Asad, sama dengan membunuh Islam dari dalam—karena itu berarti mengganti pemerintahan Tuhan dengan logika manusia yang mementingkan manfaat jangka pendek.

Apa yang disampaikan Asad bukan sekadar kritik terhadap Barat. Ia adalah peringatan keras bagi umat Islam sendiri—agar tidak terperangkap dalam kagum yang membutakan. Kemajuan material Barat, seterang apapun kilauannya, dibangun di atas reruntuhan etika dan jiwa.

Bagi Islam, jalan yang benar bukanlah menjadi bayang-bayang Barat, melainkan membangun kembali peradabannya sendiri—dengan ilmu yang canggih, tapi jiwa yang tetap tertambat kepada Tuhan.

Sebab, seperti yang Asad tegaskan, Islam bukan sekadar agama ibadah personal. Ia adalah sistem hidup menyeluruh yang tidak bisa hidup di tanah yang kehilangan etika, apalagi kehilangan Tuhan.

Baca juga: Dua Jalan Peradaban: Islam dan Barat di Simpang Spiritualitas

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)