LANGIT7.ID-
Barat tak hanya membawa mesin dan sistem, tapi juga cara pandang.
Muhammad Asad mengajak dunia Islam untuk tidak menutup diri dari perubahan, tetapi juga tidak tunduk begitu saja pada arus yang merusak fondasi nilai. Di antara dua ekstrem itulah,
simpang jalan Islam terbentang hingga hari ini.
Namun, seperti yang dicatat Muhammad Asad dalam karyanya yang monumental,
Islam at the Crossroads (1935), keterhubungan fisik ini melahirkan sebuah dilema peradaban yang lebih mendalam: bagaimana dunia Islam menanggapi dominasi kultural dan intelektual dari Barat yang secara historis, politis, dan ekonomis memiliki daya pengaruh yang jauh lebih besar?
Menurut Asad, dalam bidang
ekonomi, hukum pertukaran bersifat keras: tidak ada bangsa yang bisa terus-menerus hanya membeli atau menjual. Suatu saat, semua bangsa harus saling memberi dan menerima, jika tidak ingin tersingkir dari panggung global. Dengan kata lain, pertukaran barang memaksa adanya keseimbangan.
Namun logika ini tidak berlaku dalam ranah budaya. Pengaruh kultural sering kali berjalan satu arah. Barat—karena keunggulan teknologi, ekonomi, dan militer—telah menjadi pusat yang menyedot perhatian dunia.
Negara-negara Muslim, dalam posisi yang lebih lemah, secara pasif menjadi penerima nilai, gagasan, bahkan model hidup yang belum tentu sejalan dengan nilai-nilai mereka sendiri.
Baca juga: 5 Keutamaan Hari Arafah: Salah Satunya Hari Kesempurnaan Agama Islam Peradaban dan Jalan Satu ArahDi sinilah letak keprihatinan Asad. Bagi umat Islam, agama bukan sekadar sistem spiritual yang bisa dipeluk sambil hidup dalam kerangka budaya manapun. Islam adalah satu sistem kehidupan utuh, dengan tata nilai, struktur sosial, dan konsepsi dunia yang menyeluruh.
“Apabila suatu peradaban asing meluaskan pengaruhnya... kita wajib menerangkan pada diri kita apakah pengaruh asing itu berjalan ke arah kemungkinan-kemungkinan kultural kita sendiri atau bertentangan,” tulis Asad.
Baginya, pertanyaannya bukan sekadar “apakah kita terpengaruh?”, tetapi lebih dalam: “apakah pengaruh itu memperkuat atau melemahkan bangunan kultural dan spiritual kita sebagai Muslim?”
Peradaban Barat, dalam tafsiran Asad, tumbuh dari akumulasi rasionalisme, sekularisme, dan fragmentasi pemahaman atas hidup. Ilmu pengetahuan modern, betapapun canggihnya, hanya mampu mengurai bagian-bagian dari kehidupan, tidak menyentuh makna totalitasnya.
Islam, sebaliknya, menawarkan harmoni—sebuah penglihatan menyeluruh bahwa hidup manusia, dengan segala keindahan dan tragedinya, merupakan bagian dari rancangan Ilahi yang penuh makna. Agama, bagi Asad, bukan pelarian dari realitas, tetapi cara paling otentik untuk memahaminya.
“Yang disebut penerimaan pengertian religius... adalah satu-satunya kemungkinan pemikiran untuk memahami seluruh hidup sebagai kesatuan esensi dan kekuatan dasar,” tulisnya.
Baca juga: Semua Nabi Beragama Islam, Termasuk Nabi Isa: Begini Penjelasannya Jalan Tengah atau Jalan Baru?Apa artinya ini bagi dunia Islam hari ini? Asad tidak menolak modernitas. Ia tidak menyerukan isolasi diri dari dunia. Ia justru mengajak umat Islam untuk melihat lebih jernih: adakah kemungkinan untuk membentuk sintesis, memperkuat struktur budaya dan sosial Islam dengan mengambil sisi-sisi berguna dari kemajuan Barat tanpa kehilangan jati diri?
Penerimaan mentah atas pengaruh Barat akan menjadi racun, kata Asad. Tapi penolakan total juga akan membuat umat Islam stagnan.
Solusinya? Kritik yang tajam terhadap dua sisi peradaban: terhadap keangkuhan Barat yang merasa “netral dan universal” padahal sarat ideologi, dan terhadap ketertinggalan umat Islam yang sering bersembunyi di balik nostalgia masa lalu.
Karya Islam di Simpang Jalan, yang diterjemahkan oleh M. Hashem dan diterbitkan oleh YAPI (1967), masih terasa relevan hingga kini. Dunia Islam masih berada di persimpangan jalan: antara mengadopsi, menolak, atau membentuk jalan sendiri.
Di era ketika algoritma dan kapitalisme digital mendikte arah hidup, pertanyaan Muhammad Asad kembali menghantui: apakah kita sedang memperkuat roh Islam, atau sedang tercerabut pelan-pelan oleh pengaruh asing yang tak kita sadari?
Dan jawabannya, sebagaimana Asad ingatkan, hanya bisa ditemukan melalui analisis dan keberanian berpikir.
Baca juga: Angkat Budaya Islam Turki, Zaskia dan Shireen Sungkar Rilis Koleksi Baju Lebaran(mif)