Kolonialisme membelah arah Islam di Nusantara: Inggris merangkul elite lama, Belanda mendekati kaum pembaru. Dari benturan sayyid, reformis, dan kolonial lahirlah kesadaran baru: Islam sebagai ruang perjuangan bangsa.
Seabad setelah Khilafah runtuh, umat Islam masih gamang: modernisasi atau westernisasi? Muhammad Asad mengingatkan, tiruan buta pada Barat bisa mengikis roh peradaban Islam.
Suatu hari di akhir abad ke-11, lonceng-lonceng gereja berdentang di seluruh benua Eropa. Di Clermont, Paus Urbanus II menyeru, dan beribu-ribu orang menyahut: Deus vult! Tuhan menghendakinya.
Pada agama-agama itu, orang Barat masih berupaya menjaga jarak intelektual, menatapnya sebagai sistem reflektif yang patut dihormati. Sementara pada Islam, prasangka yang muncul begitu emosional dan penuh dendam.
Dalam babak baru sejarah modern, ketika umat manusia berlari dengan kecepatan teknologi dan terpesona oleh pertumbuhan ekonomi, satu pertanyaan mendasar pelan-pelan terhapus dari ruang publik: Apa arti hidup?
Di sinilah letak keunikan Islam sebagai agama yang menyatukan, bukan memisahkan yang menyelaraskan dunia dan akhirat, bukan mengadu keduanya dalam konflik yang tak berkesudahan.
Muhammad Asad mengajak dunia Islam untuk tidak menutup diri dari perubahan, tetapi juga tidak tunduk begitu saja pada arus yang merusak fondasi nilai. Di antara dua ekstrem itulah, simpang jalan Islam terbentang hingga hari ini.