LANGIT7.ID-Suatu hari di akhir abad ke-11, lonceng-lonceng
gereja berdentang di seluruh benua Eropa. Di Clermont, Paus Urbanus II menyeru, dan beribu-ribu orang menyahut: “
Deus vult!” — Tuhan menghendakinya. Kata-kata itu bukan sekadar pekik perang; ia adalah isyarat lahirnya kesadaran baru di Eropa, sekaligus pembuka luka panjang bagi dunia Islam.
Itulah permulaan dari apa yang kelak dikenal sebagai
Perang Salib. Tabrakan besar pertama antara sekutu Eropa dan Islam. Kala itu Eropa sedang bangun dari tidur panjang Abad Kegelapan. Kekaisaran Romawi sudah runtuh, peradaban Eropa masih gamang, baru saja belajar berdiri sendiri.
Kesusasteraan baru berkuncup, kesenian masih meraba-raba keluar dari reruntuhan Goth, Hun, dan Avar. Gereja memimpin, namun di bawah permukaan mulai berdenyut kesadaran kultural yang segar.
Dan tepat di saat rapuh-rapuhnya masa kanak-kanak itu, Eropa bertemu — lebih tepatnya, berbenturan — dengan dunia Islam. Bagi Eropa, inilah perang besar pertama yang disadari secara kolektif.
Baca juga: Islam di Simpang Jalan: Warisan Kebencian yang Panjang Sebelum itu sudah ada perjumpaan di perbatasan: Arab menaklukkan Sisilia, Spanyol, menyerbu hingga Poitiers. Namun semua itu hanya terasa sebagai insiden setempat, belum memberi guncangan psikologis yang mendalam.
Barulah Perang Salib-lah yang menggetarkan seluruh benua dan mematri satu kenangan purba di bawah kulit kebudayaan Eropa: persatuan yang hanya bisa lahir melalui kebencian kepada “yang lain.”
Dalam Islam di Simpang Jalan (Islam at the Crossroads, 1935), Muhammad Asad menulis bahwa pengalaman kolektif Eropa terhadap Islam bermula pada masa ketika “segala gaya kulturalnya yang khas sedang menegaskan dirinya untuk pertama kalinya.”
Dan seperti masa kanak-kanak manusia yang membekas seumur hidup, perang-perang itu membentuk psikologi massa Eropa hingga berabad-abad kemudian. “Mereka demikian terserap,” tulisnya, “sehingga mereka hanya dapat dengan susah payah, dan jarang sepenuhnya, terlepas dari pengalaman-pengalaman intelektual zaman kemudian.”
Namun, sejarah jarang memberi kemenangan yang murni. Ironi besar menunggu di balik panji salib: justru semangat salib itu, yang lahir dalam pelukan gereja Kristen, pada akhirnya melahirkan intelektualitas yang memberontak pada hampir semua yang pernah ditegakkan gereja.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad AsadDari luka-luka perang itu, Eropa belajar berpikir sendiri, mengasah cita rasa seni, menggelisahkan diri hingga akhirnya melahirkan Renaisans, Pencerahan, Revolusi. Gereja yang dulu memimpin dengan gagah, pelan-pelan kehilangan kendali atas alam pikiran Eropa.
Dan bagi dunia Islam, luka itu tak pernah benar-benar sembuh. Api yang dinyalakan kala itu terus menjalar dalam bentuk-bentuk baru: kolonialisme, orientalisme, intervensi militer.
Di satu pihak, perang-perang itu memperkenalkan Timur kepada Barat — sains, filsafat, barang-barang mewah. Namun di pihak lain, ia meninggalkan trauma kolektif tentang sebuah dunia yang tak pernah berhenti melihat Islam sebagai “musuh lama.”
Di bawah reruntuhan benteng-benteng kuno di Palestina, di lorong-lorong sempit kota-kota tua Damaskus, jejak itu masih ada: debu sejarah yang terus beterbangan, mengingatkan bahwa yang lahir dari perang itu bukan hanya korban dan pemenang, melainkan sebuah mentalitas yang membentuk dunia sampai hari ini.
Eropa, dalam banyak hal, adalah anak dari kebencian itu. Dan Islam, adalah saksi bisu dari luka yang diwariskan sejarah.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad(mif)