LANGIT7.ID-Ada satu hal yang lebih pelik dari sekadar perbedaan keyakinan: prasangka yang diwariskan lintas abad.
Muhammad Asad, dalam bukunya
Islam di Simpang Jalan, menyebutnya sebagai “sikap permusuhan yang aneh terhadap Islam” yang membentuk watak khas peradaban Barat modern.Menurut Asad, permusuhan itu bukan semata lahir dari ketidaksesuaian spiritual antara
Islam dengan Barat. Masalah ini juga berakar jauh pada keyakinan lama: bahwa hanya orang-orang Eropa—yang dahulu diwakili oleh Yunani dan
Romawi—yang pantas disebut sebagai “beradab,” sedangkan yang lain, khususnya yang berada di timur Laut Tengah, hanyalah barbar. Pandangan merendahkan bangsa lain itu bertahan bahkan setelah ribuan tahun, berganti wujud tetapi tak pernah benar-benar sirna.Namun, sikap terhadap Islam, tulis Asad, jauh lebih pekat daripada sikap terhadap agama-agama Timur lainnya seperti Hindu atau Buddha. Pada agama-agama itu, orang Barat masih berupaya menjaga jarak intelektual, menatapnya sebagai “sistem reflektif” yang patut dihormati. Sementara pada Islam, prasangka yang muncul begitu emosional dan penuh dendam.
“Eropa selalu akan mempertahankan pemikiran reflektif yang berimbang berhubung dengan sistem-sistem itu. Namun, segera apabila ia menghadapi Islam maka keseimbangan itu terganggu
,” tulis Asad.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad AsadBahkan para orientalis—yang seharusnya mewakili pandangan paling terpelajar dan ilmiah tentang Timur—tak luput dari watak itu. Dalam pengamatan Asad, mereka lebih sering berperilaku layaknya jaksa dalam pengadilan Inkuisisi abad pertengahan, yang sudah lebih dulu yakin akan kesalahan terdakwa. Banyak dari mereka memulai penelitiannya bukan dengan pikiran terbuka, melainkan dengan asumsi-asumsi yang sudah dipenuhi prasangka.
“Mereka memilih bukti-bukti sesuai dengan kesimpulan yang secara a priori hendak mereka capai
,” tulisnya.Dalam penulisan para orientalis itu, fakta-fakta sejarah kerap dipotong-potong dari konteksnya, lalu diinterpretasikan dalam semangat kecurigaan dan fitnah. Gambaran tentang Islam yang lahir dari metode semacam itu, lanjut Asad, adalah sebuah karikatur yang telah “dirusak secara dahsyat” oleh warisan panjang kebencian Eropa terhadap Timur.Dari Inggris ke Jerman, dari Prancis ke Rusia, bahkan hingga Italia dan Belanda, kebencian itu tampaknya tidak mengenal batas nasional.
“Mereka seperti dikilik-kilik oleh semacam perasaan kebencian yang menyenangkan
,” tulis Asad,
“setiap kali ada kesempatan—secara nyata atau khayali—untuk menimbulkan kritik terhadap Islam
.”
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad
Menurut Asad, prasangka itu hanya bisa dimengerti jika kita melihat lebih dalam ke sejarah, ke zaman ketika dunia masih dipandang sebagai panggung antara “Eropa” dan “barbar.” Atau lebih dekat lagi, ke abad-abad pertengahan, ketika Perang Salib bukan hanya perang atas tanah suci, tetapi juga tentang hegemoni budaya.Kini, di abad modern, jejak itu belum sepenuhnya hilang. Seolah dunia masih berdiri di persimpangan jalan yang sama: antara memahami secara jernih atau terus mewarisi kebencian yang sama tuanya dengan tembok-tembok Roma.
(mif)