LANGIT7.ID-, Madinah, - Joshua Harris, seorang bocah
autis non-verbal asal Inggris, kini memperluas
kampanye perdamaiannya melawan
Islamofobia ke kancah internasional.
Saat mengunjungi
kota suci Madinah, ia menyesuaikan pesan persatuannya dengan mengubah slogan kampanyenya dari "Kue bukan benci" (Cake not hate) menjadi "Kurma bukan benci" (Dates not hate).
Baca juga: Anak Autisme Butuh Dukungan Tepat Sesuai Tingkat KeparahanJoshua, yang popular dengan julukan "The Joshie-Man" beberapa bulan terakhir mengunjungi puluhan masjid di Inggris. Ia membagikan kue buatannya sendiri kepada para
jamaah masjid sebagai bentuk solidaritas, seperti dilansir dari Arab News, Rabu (11/2/2026).
Aksi ini bermula saat masjid di kampung halaman Joshua, Peterborough, diserang kelompok
Islamofobia pada Oktober 2025.
Sebagai bentuk simpati, Joshua dan ayahnya membawakan kue buatan sendiri ke masjid tersebut untuk dibagikan kepada jamaah. Aksi tulus bocah 12 tahun ini pun menjadi viral.
Dalam perjalanannya ke Timur Tengah, Joshua membawa semangat yang sama di Madinah. Berbeda dengan di Inggris, Joshua menyesuaikan aksinya dengan konteks lokal.
Ia membagikan kurma, panganan yang identik dengan kota tersebut, kepada orang-orang di pelataran Masjid Nabawi.
Gestur tersebut menandai evolusi simbolis dari gerakan ini, dari "Kue bukan benci" menjadi "Kurma bukan benci."
Baca juga: Kisah 3 Mahasiswa Autisme Kuliah di UGM, Ada yang Lanjut S2“Dia disambut dengan sangat, sangat hangat. Ada momen-momen yang sangat menyentuh di mana orang-orang mencium tangan dan kepalanya. Itu sangat indah,” ujar ayahnya.
Ayah Joshua, Dan Harris adalah pendiri yayasan amal global Neurodiversity in Business. Ia mengatakan kunjungan tersebut memberikan wawasan mendalam tentang komunitas Muslim dunia.
“Kami bertemu orang-orang dari seluruh dunia. Rasanya luar biasa, seperti PBB di sana; Anda bertemu orang-orang dari berbagai negara, dan itu menunjukkan bahwa komunitas Muslim, atau umat secara umum, bukanlah kelompok yang homogen,” katanya.
“Kami melihat orang-orang dari Tajikistan dan Uzbekistan, itu sangat menarik bagi kami.”
Ia menggambarkan kunjungannya ke kota suci Madinah sebagai pengalaman yang sangat mengharukan.
“Saya bisa katakan ini adalah kota favorit saya di dunia karena kedamaian dan ketenangan yang saya rasakan di sana,” tuturnya.
Baca juga: Diplomasi Dua Sayap Madinah: Retorika Penyelamat Abu BakarBahkan, tambah Dan Harris, keluarganya begitu terkesan dengan kehangatan sambutan yang diterima.
“Ke mana pun kami pergi, orang-orang mencatat nomor saya dan memaksa kami datang untuk makan malam, bersikeras menjemput kami dari lokasi. Mereka juga sangat perhatian kepada Joshie, memastikan kebutuhannya terpenuhi. Kami merasakan keramahan yang luar biasa, sesuatu yang memang dikenal dari Arab Saudi.”
Bagi Joshua dan keluarganya, perubahan dari kue di Inggris menjadi kurma di Madinah mempertegas pesan yang konsisten, bahwa kebaikan kecil dapat melintasi budaya, batas negara, dan keyakinan, menjadi jawaban senyap namun kuat terhadap kebencian.
(est)