Lamine Yamal Kecewa Berat Usai Chant Anti-Muslim Menggema di Laga Spanyol vs Mesir
esti setiyowatiKamis, 02 April 2026 - 11:33 WIB
Lamine Yamal Kecewa Berat Usai Chant Anti-Muslim Menggema di Laga Spanyol vs Mesir. Foto: Instagram/lamineyamal.
LANGIT7.ID, Jakarta,- - Pemain Timnas Spanyol, Lamine Yamal mengecam nyanyian bernada anti-Muslim di pertandingan persahabatan dengan Mesir di RCDE Stadium, Barcelona, pada Selasa (31/3/2026) lalu.
Nyanyian dari para suporter yang berbunyi "siapa yang tidak melompat adalah Muslim" dilaporkan terus terdengar selama pertandingan berlangsung.
Pendukung Spanyol menujukan nyanyian tersebut untuk Timnas Mesir, negara dengan mayoritas penduduk Muslim dan menjadikan Islam sebagai agama resmi.
Lamine Yamal, terlihat emosional usai laga akibat nyanyian bernada anti-Muslim yang terdengar dari tribun penonton.
Dalam pertandingan yang berakhir imbang 0-0 tersebut, Yamal tampak meninggalkan lapangan dengan raut wajah murung tanpa ikut merayakan bersama para pendukung.
Aksi tersebut terekam kamera dan dengan cepat menyebar di media sosial.
Meski ditujukan kepada tim lawan, Yamal yang memiliki keturunan Maroko dan beragama Islam mengaku tetap merasa tersinggung.
Melalui pernyataan resminya, Yamal menegaskan bahwa tindakan tersebut tidak dapat diterima dalam sepak bola.
“Saya seorang Muslim, Alhamdulillah. Kemarin di stadion ada chant yang mengatakan ‘siapa yang tidak melompat adalah Muslim’. Saya tahu itu ditujukan kepada tim lawan, tetapi sebagai seorang Muslim, itu tetap tidak menghormati dan tidak bisa diterima,” tulis Yamal di akun Instagram miliknya, dilihat Kamis (2/4/2026).
Ia juga menambahkan bahwa tidak semua suporter bersikap demikian, namun penggunaan agama sebagai bahan ejekan dinilai sebagai tindakan yang tidak pantas.
“Sepak bola adalah untuk dinikmati dan untuk mendukung, bukan untuk merendahkan orang lain karena siapa mereka dan apa yang mereka yakini,” lanjutnya.
Di akhir pernyataannya, Yamal tetap mengapresiasi kepada para penggemar yang memberikan dukungan dan berharap dapat kembali bertemu di ajang Piala Dunia mendatang.
Dikutip dari Marca, insiden ini terjadi di tengah situasi politik yang sedang memanas di Spanyol. Kebijakan pemerintah yang melegalkan sekitar 500 ribu migran tanpa dokumen memicu perdebatan publik.
Sebagian besar migran tersebut berasal dari Maroko dan wilayah Afrika Utara, yang kini menjadi bagian dari minoritas yang terus berkembang di negara tersebut.