Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 07 Mei 2026
home masjid detail berita

Kebangkitan Barat yang Tanpa Tuhan: Ketika Pabrik Menjadi Kuil, dan Insinyur Menjadi Nabi

miftah yusufpati Kamis, 10 Juli 2025 - 17:00 WIB
Kebangkitan Barat yang Tanpa Tuhan: Ketika Pabrik Menjadi Kuil, dan Insinyur Menjadi Nabi
Jangan biarkan semangat material menggerogoti ruh keyakinan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Muhammad Asad dalam buku Islam di Simpang Jalan yang berjudul asli Islam at the Crossroads menggelar analisis tajam yang tidak hanya menguliti permukaan kebudayaan Barat, tetapi menukik sampai ke sumsum spiritualnya. Ia menelusuri akar kekosongan religius modern hingga ke tiga sebab pokok: warisan Romawi yang materialistik, pemberontakan terhadap asketisme Kristen, dan konsepsi ketuhanan yang anthropomorfis.

Menurut Asad, dogma Yesus sebagai “Anak Tuhan” bukan hanya masalah teologis—tetapi menjadi batu sandungan besar dalam kesadaran filosofis dan psikologis orang Barat. Sebab, saat pemikiran mulai dibebaskan dari kungkungan gereja, gagasan tentang Tuhan yang menyerupai manusia menjadi terlalu naif, bahkan ofensif, bagi akal yang sudah terlatih berpikir logis. Pemanusiaan Tuhan yang dimaksud untuk mendekatkan justru menjauhkan.

Konsepsi semacam itu—yang didukung oleh seni rupa dan tradisi visual Eropa—mengakar dalam bawah sadar kolektif masyarakat, dan ketika akal merdeka, mereka tidak hanya meninggalkan doktrin itu, tetapi meninggalkan agama secara keseluruhan.

Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad

Revolusi Industri

Momen industrialisasi mempercepat krisis spiritual itu. Kehidupan duniawi tampil gemerlap, kemajuan materi membius, dan agama—yang gagal memberi jawaban tentang perubahan zaman—terdesak mundur.

Gereja yang dulu berkuasa, kini menjadi simbol dari kemunafikan, pembungkaman nalar, dan sekutu penguasa. Dalam ruang kosong yang ditinggalkan agama itu, peradaban baru dibangun—bukan atas nama Tuhan, tetapi atas nama manusia yang ingin bebas dari alam.

Ironisnya, pembebasan itu justru melahirkan perbudakan baru: manusia tunduk pada teknologi, modal, dan sensasi. Asad menulis bahwa Eropa, setelah memberontak terhadap “kerohanian yang salah arah” dari gereja, kembali memeluk Romawi kuno—kali ini tanpa Tuhan dan tanpa malu.

Dalam analogi yang satir sekaligus menggetarkan, Asad melukiskan bahwa agama baru Barat adalah kemajuan material. Tempat ibadahnya adalah pabrik dan laboratorium. Para nabi dan imamnya adalah bankir, insinyur, bintang film, industriawan, dan penemu.

Manusia modern tidak lagi mencari keselamatan, tetapi efisiensi. Tidak lagi berdoa, tapi mengkalkulasi. Tidak lagi bertanya "mengapa", tetapi "bagaimana."

Dan dari agama baru ini, lahirlah tatanan sosial yang brutal: blok-blok kekuasaan yang saling mengancam, manusia-manusia yang menilai baik dan buruk hanya dari ukuran sukses materi, dan hilangnya etika dari kehidupan publik.

Baca juga: Warisan Romawi dan Tipuan Akar Barat: Di Balik Klaim Keagamaan Peradaban Modern

Agama Kristen, yang dulunya menjadi fondasi etis, kini, menurut Asad, hanya menjadi konvensi sosial. Ia hidup sebagai dekorasi, bukan sebagai kekuatan hidup. Gereja menyesuaikan dogmanya dengan realitas sekuler bukan demi kemajuan spiritual, tapi demi relevansi. Ia lebih mirip upacara warisan budaya daripada pemandu moral. Dan mereka yang masih berpikir religius hanyalah pengecualian di tengah arus besar masyarakat yang sudah memeluk “iman pada kenyamanan.”

Kebangkitan Tanpa Jiwa

Muhammad Asad tidak menulis dengan kemarahan, tapi dengan belas kasih yang tajam. Ia tidak mengutuk Barat karena kemajuannya—ia hanya memperingatkan bahwa peradaban tanpa jiwa akan menuju kehancuran, cepat atau lambat. Ketika manusia tidak lagi mengenal tujuan spiritual hidupnya, ketika kekuasaan menjadi Tuhan dan efisiensi menjadi moralitas, maka tinggal menunggu saat di mana kehancuran menjadi keniscayaan.

Dalam pandangan Asad, tragedi Barat bukan pada kemajuannya, tetapi pada kehilangan orientasi spiritualnya. Ia menjadi besar, tetapi hampa. Pandai, tetapi bingung. Kuat, tetapi takut.

Dan bagi dunia Islam—dan siapa pun yang mencari jalan hidup yang utuh—maka pelajaran paling penting adalah ini: jangan biarkan semangat material menggerogoti ruh keyakinan. Karena saat iman tinggal formalitas dan Tuhan tinggal simbol, maka peradaban akan tumbuh seperti pohon kosong: tinggi, tapi rapuh di dalam.

Baca juga: Dua Jalan Peradaban: Islam dan Barat di Simpang Spiritualitas

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 07 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)