LANGIT7.ID-, Jakarta - - Populasi Muslim di dunia meningkat sebanyak 347 juta orang selama 10 tahun, lebih banyak dari gabungan semua agama lain.
Hasil penelitian dari Pew Research Center yang dirilis pada Juni 2025, menunjukkan terjadi peningkatan pada populasi muslim di dunia. Hal ini termasuk diantaranya mereka yang berpindah agama, imigran serta disafiliasi agama dan pertumbuhan populasi alami di wilayah tertentu yang memengaruhi lanskap agama global.
"Jumlah Muslim yang memiliki anak lebih banyak daripada jumlah Muslim yang meninggal," kata Conrad Hackett, demografer senior di Pew Research Center, dikutip Selasa (24/3/2026).
"Sangat sedikit perubahan dalam jumlah populasi Muslim yang disebabkan oleh orang-orang yang menjadi Muslim saat dewasa atau meninggalkan Islam saat dewasa," lanjutnya.
Studi yang mengamati karakteristik demografi kelompok ini, juga turut mengamati struktur usia mereka, jumlah anak yang dimiliki, hingga seberapa banyak pendidikan yang dimiliki. "Karakteristik demografi ini memengaruhi jumlah kelompok agama di masa mendatang," tegas Hackett.
Umat Muslim sebagian besar terkonsentrasi di wilayah dengan pertumbuhan populasi tinggi, seperti wilayah Timur Tengah-Afrika Utara, dan Afrika sub-Sahara. Populasi Muslim tumbuh paling besar di wilayah Asia Pasifik, yang merupakan rumah bagi populasi Muslim terbesar.
Imigran Muslim di EropaStudi tersebut bukan pertama kali dilakukan, sebelumnya pada 2017 Pew Research Center juga merilis bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Eropa memecahkan rekor gelombang masuk pencari suaka. Mereka kebanyakan berasal dari konflik di Suriah maupun negara-negara mayoritas Muslim lainnya.
Gelombang migran Muslim ini telah memicu perdebatan tentang kebijakan imigrasi dan keamanan di banyak negara, dan telah menimbulkan pertanyaan tentang jumlah Muslim di Eropa saat ini dan di masa mendatang.
Untuk melihat bagaimana ukuran populasi Muslim Eropa dapat berubah dalam beberapa dekade mendatang, hasil Pew Research Center menyimpulkan ada tiga skenario yang bervariasi, tergantung pada tingkat migrasi di masa depan.
Baca juga: Perkembangan Populasi Umat Islam di Eropa yang Perlahan MenguatIni bukanlah upaya untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi lebih merupakan serangkaian proyeksi tentang apa yang dapat terjadi dalam berbagai keadaan.
Data dasar untuk ketiga skenario tersebut adalah:1. Populasi Muslim di Eropa, yang didefinisikan di sini sebagai 28 negara yang saat ini tergabung dalam Uni Eropa, ditambah Norwegia dan Swiss pada pertengahan tahun 2016. Diperkirakan mencapai 25,8 juta (4,9% dari total populasi), meningkat dari 19,5 juta (3,8%) pada tahun 2010.
Bahkan jika semua migrasi ke Eropa dihentikan secara langsung dan permanen, populasi Muslim di Eropa diperkirakan akan tetap meningkat dari tingkat saat ini sebesar 4,9% menjadi 7,4% pada tahun 2050.
Hal ini karena Muslim lebih muda (rata-rata 13 tahun lebih muda), dan memiliki tingkat kesuburan yang lebih tinggi (rata-rata satu anak lebih banyak per wanita) daripada warga Eropa lainnya, yang mencerminkan pola global.
2. Skenario migrasi kedua, "menengah", mengasumsikan bahwa semua arus pengungsi akan berhenti pada pertengahan tahun 2016, tetapi tingkat migrasi "reguler" ke Eropa saat ini akan terus berlanjut yaitu migrasi mereka yang datang karena alasan selain mencari suaka. Dalam kondisi ini, Muslim dapat mencapai 11,2% dari populasi Eropa pada tahun 2050.
3. Skenario migrasi "tinggi" memproyeksikan arus pengungsi yang mencapai rekor tertinggi ke Eropa antara tahun 2014 dan 2016 akan terus berlanjut tanpa batas di masa depan dengan komposisi agama yang sama yaitu, sebagian besar terdiri dari Muslim, di samping arus migran reguler tahunan yang biasa.
Dalam hal ini, Muslim dapat mencapai 14% dari populasi Eropa pada tahun 2050, hampir tiga kali lipat dari bagian saat ini, tetapi masih jauh lebih kecil daripada populasi Kristen dan orang-orang yang tidak beragama di Eropa.
Namun, arus pengungsi beberapa tahun terakhir sangat tinggi dibandingkan dengan rata-rata historis dalam beberapa dekade terakhir, dan telah mulai menurun karena Uni Eropa dan banyak negara anggotanya telah melakukan perubahan kebijakan dengan tujuan untuk membatasi arus pengungsi.
Jerman Tujuan Utama Pengungsi MuslimSalah satu negara di Eropa menjadi tujuan utama para pengungsi muslim yaitu Jerman, sebagaimana merujuk hasil penelitian berbeda, yang juga dirilis Pew Research Center.
Jerman menjadi tujuan bagi sekira 670.000 pengungsi antara pertengahan 2010 dan pertengahan 2016, lebih dari tiga kali lipat jumlah pengungsi di negara dengan jumlah terbesar berikutnya, Swedia tercatat 200.000 pengungsi.
Jumlah migran reguler dari luar Eropa yang tiba di Jerman dalam beberapa tahun terakhir juga hampir sama sekira 680.000. Namun secara agama, pengungsi dan migran lainnya di Jerman terlihat sangat berbeda; diperkirakan 86% pengungsi yang diterima oleh Jerman adalah Muslim, dibandingkan dengan hanya 40% migran reguler di Jerman.
Ada beberapa alasan Jerman menjadi tujuan pengungsi muslim, diantaranya karena memiliki populasi dan ekonomi terbesar di Eropa. Lalu secara posisi terletak di tengah benua, dan memiliki kebijakan yang menguntungkan bagi pencari suaka.
Baca juga: Sejarah Syawal: Pernikahan Nabi Muhammad dan Aisyah Sebagai Tonggak Intelektual IslamNamun begitu, Inggris sebenarnya merupakan tujuan bagi sejumlah besar migran dari luar Eropa secara keseluruhan antara pertengahan 2010 dan pertengahan 2016 (1,6 juta).
Inggris memilih untuk meninggalkan Uni Eropa dalam referendum tahun 2016, yang mungkin akan memengaruhi pola imigrasi di masa mendatang, tetapi masih dihitung sebagai bagian dari Eropa dalam laporan ini.
(lsi)