Islam menawarkan konsep kebudayaan teosentris yang menyatukan rasio dan wahyu tanpa sekat klerikal. Model ini menjadi solusi atas krisis moral, materialisme ekstrem, serta alienasi spiritual yang melanda peradaban Barat modern.
Paham sosialisme menetapkan diktator proletariat sebagai keharusan alamiah yang justru melanggengkan konflik. Islam menawarkan resolusi krisis melalui subordinasi ekonomi di bawah kendali etika transendental.
Kebudayaan Barat memisahkan rasio dari spiritualitas akibat trauma sejarah konflik gereja dan negara. Sebaliknya, Islam mengintegrasikan metode ilmiah dengan iman untuk mencegah reduksi manusia menjadi sekadar aktor ekonomi yang egois.
Kaum Muslimin meniru Barat untuk maju, tapi kehilangan jiwanya sendiri. Apakah kita mengulang kesalahan peradaban yang runtuh, atau menemukan jalan agar ilmu modern tak menggerus iman?
Suatu hari di akhir abad ke-11, lonceng-lonceng gereja berdentang di seluruh benua Eropa. Di Clermont, Paus Urbanus II menyeru, dan beribu-ribu orang menyahut: Deus vult! Tuhan menghendakinya.
Kebajikan dinilai bukan dari keluhuran moralnya, melainkan sejauh mana ia berkontribusi pada efisiensi sistem, pada kestabilan produksi, pada roda kapitalisme atau negara.
Agama Kristen, yang dulunya menjadi fondasi etis, kini, menurut Asad, hanya menjadi konvensi sosial. Ia hidup sebagai dekorasi, bukan sebagai kekuatan hidup.
Eropa pun mengalami kejutan intelektual. Ia menyebutnya Renaisanslahir kembali. Tetapi seperti dicatat Asad, kelahiran kembali itu bukan dari rahim gereja, melainkan dari sentuhan Islam.
Di masa lalu, Islam justru menjadi katalis pengetahuan. Tak ada Inkuisisi seperti yang dialami umat Kristen ketika ilmu pengetahuan menantang dogma gereja.
Dalam babak baru sejarah modern, ketika umat manusia berlari dengan kecepatan teknologi dan terpesona oleh pertumbuhan ekonomi, satu pertanyaan mendasar pelan-pelan terhapus dari ruang publik: Apa arti hidup?
Ulama asal Mekkah, Arab Saudi, Syekh Assim Al-Hakeem, melakukan perjalanan dakwah ke Indonesia. Sarjana studi Islam dari Universitas King Abdul-Aziz dan Universitas Umm al-Qura Mekkah