LIRANEWS.COM | Di tengah dunia yang membelah tajam antara yang spiritual dan yang material, Islam datang dengan satu pesan yang radikal: hidup tidak harus terbagi.
Seluruh keberadaan manusia—baik jasmani maupun rohani—dapat dan harus bergerak dalam satu arah yang harmonis. Itulah inti dari refleksi mendalam
Muhammad Asad dalam
Islam di Simpang Jalan (terjemahan dari Islam
at the Crossroads, 1935).
Bagi Asad, agama bukan sekadar jalan untuk memahami hal-hal yang tidak mampu dijelaskan oleh
ilmu pengetahuan. Agama, khususnya Islam, adalah perangkat hidup yang mengintegrasikan seluruh keberadaan manusia ke dalam satu orbit makna.
Dalam pandangan ini, kesadaran manusia dan alam semesta adalah dua manifestasi dari satu Kehendak Ilahi yang sama. Tidak ada yang sekuler atau sakral. Semuanya adalah bagian dari skema Tuhan.
Baca juga: Di Tengah Gelombang Barat: Jalan Tengah Menurut Muhammad Asad “Manfaat besar yang diberikan agama,” tulis Asad, “adalah penyadaran bahwa manusia selalu dan tidak pernah dapat terlepas dari satu kesatuan yang terencana.” Ini bukan sekadar retorika mistik.
Bagi Asad, kesatuan itu menjelma dalam cara Islam mengajarkan ibadah. Lihatlah salat: tidak hanya doa dalam batin, tapi juga gerakan fisik yang terkoordinasi. Dalam salat, tubuh dan jiwa sama-sama berpartisipasi.
Bagi sebagian pengamat luar, ritual ini dianggap formalis dan kaku. Namun kritik itu, kata Asad, lahir dari paradigma yang keliru: dari budaya yang terbiasa memisahkan pikiran dari tubuh, iman dari praktik, ibadah dari kehidupan sehari-hari.
Islam tidak mengenal dikotomi semacam itu. “Dalam susu Islam asli, yang tidak dicedok,” tulis Asad dengan metafora khasnya, “kedua unsur itu—jasmani dan rohani—hidup secara harmonis dan menyatakan dirinya bersama-sama.”
Thawaf: Hidup Berpusat pada TuhanIbadah thawaf—mengelilingi Ka’bah tujuh kali—menjadi simbol puncak dari ajaran ini. Bagi Asad, thawaf bukan sekadar ritual kuno, tetapi sebuah pernyataan eksistensial: bahwa Allah adalah pusat gerak hidup manusia.
“Kakbah melambangkan keesaan Tuhan. Gerak jasadi thawaf melambangkan aktivitas hidup manusia,” tulisnya. Semua usaha, niat, dan tindakan kita harus berputar mengelilingi kesadaran akan Tuhan. Ibadah dalam Islam bukan hanya soal sembahyang dan puasa, melainkan mencakup seluruh bentuk aktivitas, sekecil apa pun, selama itu dilakukan dalam kesadaran pengabdian kepada Allah.
Baca juga: Ketika Cendekiawan Muslim Mulai Mempelajari Filsafat dan Ilmu Pengetahuan YunaniAyat Qur’an Suci yang dikutip Asad menegaskan hal ini: “
Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS 51:56).
Tidak seperti agama-agama lain yang, menurut Asad, sering menuntut penyangkalan terhadap dunia, Islam justru menyambut dunia—dengan segala kenikmatannya—sebagai ladang pengabdian. Islam tidak mengajarkan pencapaian spiritual dengan menghindari kehidupan, tetapi justru menekankan pencapaian itu melalui kehidupan.
“Islam bukanlah doktrin mistik dan bukan pula falsafah,” kata Asad. “Islam adalah program hidup sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Allah atas penciptaan-Nya.”
Inilah posisi unik Islam: ia tidak menempatkan dunia sebagai ilusi, tetapi sebagai realitas positif yang harus dijalani dengan kesadaran moral. Keseimbangan antara harapan dan ketakutan, keyakinan dan tanggung jawab, menjadi fondasi psikologis seorang Muslim yang otentik.
Keesaan Tuhan, Keesaan HidupPemahaman tentang Tauhid—keesaan Tuhan—harus berdampak langsung pada cara kita melihat hidup. Tidak boleh ada pemisahan antara “yang duniawi” dan “yang ukhrawi”. Semuanya saling terhubung, dan semuanya bertujuan sama: pengabdian kepada Allah. Inilah “ideologi keseharian” Islam yang, menurut Asad, tidak mungkin ditemukan dalam agama-agama lain dalam bentuk yang seutuh ini.
Karena itu pula, Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal antara manusia dan Tuhannya, tetapi juga horizontal: hubungan manusia dengan sesama dan lingkungannya. Tidak ada sekat antara yang spiritual dan yang sosial, antara yang etis dan yang praktis.
Baca juga: 750 Ayat Kauniyah: Al-Quran Tidak Sama dengan Kitab Ilmu Pengetahuan Di zaman ketika hidup manusia sering kali tercerai-berai—antara ambisi profesional dan pencarian spiritual, antara rutinitas sehari-hari dan kebutuhan makna—ajaran Asad ini terdengar seperti penawar. Ia mengingatkan bahwa totalitas pengabdian adalah mungkin. Bahwa tidak perlu mengasingkan diri dari dunia untuk menjadi dekat dengan Tuhan. Bahwa hidup ini, seutuhnya, bisa menjadi ibadah.
Dalam satu kalimat padat, Asad menyimpulkan: “Pengertian kita tentang keesaan Allah harus direfleksikan ke dalam perjuangan kita ke arah koordinasi dan penyeragaman dari berbagai aspek kehidupan kita.”*
Dan barangkali di sanalah, letak "simpang jalan" umat Islam hari ini: apakah akan memilih jalan fragmentasi seperti dunia modern yang tercerai, atau merajut kembali kesatuan hidup di bawah cahaya Tauhid?
(mif)