LANGIT7.ID-Suatu ketika, Hudzaifah bin Al-Yaman pernah melontarkan pertanyaan yang tak lazim bagi rekan-rekannya sesama sahabat Nabi. Ketika yang lain sibuk menggali kabar gembira tentang surga, Hudzaifah justru memburu informasi tentang keburukan. Ia bukan sedang pesimistis, melainkan waspada. Kewaspadaan inilah yang kini menjadi relevan saat kita membedah karya Syaikh Salim bin Ied al-Hilali,
Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin, yang mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi Islam justru datang dari dalam.
Syaikh Salim menggarisbawahi sebuah konsep metaforis yang disebut Nabi shallallahu alaihi wa sallam sebagai
dakhan atau asap. Dalam interpretasinya, asap ini bukanlah kabut biasa, melainkan penyimpangan ajaran yang membuat garis terang Sunnah menjadi abu-abu. Asap ini muncul dari sebuah kaum yang, menurut sabda Nabi, membuat ajaran bukan dari ajaran beliau dan memberikan petunjuk bukan dari petunjuk beliau. Inilah awal mula dari apa yang disebut sebagai dai-dai yang menyeru ke pintu neraka Jahanam.
Logika kehancuran ini bekerja secara laten. Musuh-musuh Allah, menurut Syaikh Salim, tidak perlu selalu menghunus pedang di medan terbuka. Mereka cukup menunggu saat penyakit
wahn—cinta dunia dan takut mati—menjalar ke nadi umat. Ketika stamina spiritual melemah, kuman-kuman penyimpangan atau bidah mulai disuntikkan ke dalam tubuh muslimin. Bid'ah, dalam analisis ini, dipandang jauh lebih berbahaya daripada serangan fisik orang kafir. Sebab, serangan militer hanya merusak raga, sementara bidah merusak hati dan fondasi keyakinan.
Kondisi ini menciptakan paradoks. Di permukaan, apa yang ditawarkan oleh para dai penyesat ini tampak sebagai sebuah kebaikan. Namun, di dalamnya terdapat zat yang membinasakan. Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam riwayat Muslim memberikan peringatan yang sangat getir mengenai munculnya manusia-manusia yang
yatakallamuna bi alsinatina (berbicara dengan bahasa kita) namun
qulubuhum qulubus syayathin (hati mereka adalah hati setan). Mereka fasih mengutip ayat, namun arah tujuannya adalah membelokkan umat dari orisinalitas wahyu.
Sejarah mencatat bahwa "asap" ini bukanlah fenomena baru. Syaikh Salim menyebutkan sederet faksi yang dianggap sebagai penebar asap sejak berabad-abad silam, mulai dari Mutazilah, Sufiyah, Jahmiyah, Khawarij, hingga Syiah Rafidhah. Kelompok-kelompok ini dipandang telah mengotori kejernihan ajaran Islam dengan syubhat yang samar. Kerancuan inilah yang membuat umat Islam kehilangan arah, menjadi terbelakang, dan akhirnya hanya menjadi santapan empuk bagi musuh-musuh eksternal.
Kelemahan umat Islam saat ini, menurut pandangan interpretatif ini, juga disebabkan oleh kelalaian para pemegang kebenaran. Ketika penjaga gawang Sunnah tertidur, asap bidah merajalela menutupi kebenaran yang asli. Dampaknya sistemik: setiap orang munafik kini merasa memiliki otoritas untuk berbicara atas nama Islam, mengaburkan batas antara mana yang merupakan wahyu dan mana yang merupakan sekadar opini manusia yang berbungkus agama.
Menghadapi fenomena dai-dai penyesat ini, para salaf telah memberikan garis demarkasi yang tegas. Imam Dzahabi, mengingatkan bahwa hati manusia itu lemah, sementara syubhat atau keraguan yang ditebarkan ahli bidah sangat cepat mencengkeram. Oleh karena itu, memerangi pemikiran menyimpang dan melakukan tahdzir (peringatan) terhadap mereka bukan dipandang sebagai tindakan intoleransi internal, melainkan sebuah prosedur penyelamatan darurat bagi integritas ajaran.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan peringatan keras melalui hadits Hudzaifah yang menjadi basis analisis ini:
دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوْهُ فِيْهَاAkan muncul para dai yang menyeru ke pintu neraka Jahanam. Barangsiapa yang menerima seruan mereka, maka merekapun akan menjerumuskan ke dalam neraka. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kesimpulannya, ancaman dari dalam bukan lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realitas sejarah yang terus berulang. Tanpa kemampuan untuk menyaring "asap" yang mengaburkan pandangan, umat akan terus terjebak dalam pusaran fitnah. Strategi bertahan terbaik, sebagaimana disarankan oleh teks-teks klasik, adalah kembali kepada kejernihan Sunnah dan tetap waspada terhadap setiap narasi yang mencoba menggeser sendi-sendi agama dengan bungkus kemasan yang menipu mata. Hanya dengan mengenali keburukan, seorang muslim bisa benar-benar mengapresiasi dan menjaga kebaikan yang asli.
(mif)