LANGIT7.ID-Malam di sebuah kota Muslim yang bergolak itu sunyi, tapi penuh kecemasan. Di balik pintu rumah, sebagian orang memilih menunggu badai reda. Namun di sudut-sudut pasar, lorong-lorong kampung, dan majelis kecil yang masih menyala lampunya, ada segelintir yang tetap bekerja: mengajar, menolong, menegakkan kebenaran.
Fenomena itu bukan hal baru. Lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah Muhammad SAW sudah mengabarkan betapa masa-masa fitnah akan datang. Dalam satu hadits yang diriwayatkan Ahmad, Muslim, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, beliau bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” Kekuatan yang dimaksud bukan sekadar fisik, tapi keteguhan memegang prinsip ketika gelombang ujian memukul.
Syaikh Yusuf Al-Qardhawi, dalam bukunya
Fiqh Prioritas (Robbani Press, 1996), menyebut masa-masa fitnah sebagai periode langka yang justru menuntut kerja keras ekstra. “Keperluan untuk melakukan amal saleh pada masa seperti ini lebih ditekankan daripada masa-masa yang lain,” tulisnya. Alasannya sederhana: kerja di masa damai lebih mudah daripada kerja di tengah badai.
Baca juga: Kemerdekaan Bukan Sekadar Lepas dari Penjajah: Pandangan Fikih dan Sejarah Islam Menyebut Zalim di Depan PenguasaSebuah hadits lain yang diriwayatkan Ibn Majah dan Ahmad, yang disebutkan Al-Qardhawi, menegaskan prioritas itu: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran di depan penguasa yang zalim.”
Bagi umat Islam, pernyataan ini bukan sekadar dorongan moral. Ia adalah ujian nyali. Sebab, sejarah mencatat, banyak yang hilang nyawa karenanya. Nabi bahkan menyebut mereka setara dengan Hamzah bin Abdul Muthallib, “penghulu para syuhada,” termasuk mereka yang terbunuh karena menegur penguasa zalim (Shahih al-Jami’, no. 3676).
Tak heran, Abu Tsa’labah al-Khasyani—seorang sahabat Nabi—pernah menafsirkan ayat Al-Maidah:105 dengan penekanan pada amar ma’ruf nahi munkar, meski dunia penuh kekikiran, hawa nafsu, dan kebanggaan diri. “Kesabaran untuk menghadapi hal itu seperti menggenggam bara api,” katanya. Rasulullah menambahkan, pahala orang yang teguh pada masa seperti itu setara lima puluh kali lipat pahala sahabat di masa beliau.
Realitas Masa KiniBagi banyak pekerja sosial, aktivis kemanusiaan, dan dai di garis depan konflik, hadis-hadis itu terasa hidup. Mereka menghadapi dua serangan sekaligus: dari luar oleh kekuatan yang memusuhi Islam, dan dari dalam oleh perpecahan umat sendiri.
“Banyak yang memilih diam, tapi ada juga yang tak bisa,” kata seorang relawan yang bertugas di wilayah rawan. “Kami tahu risikonya, tapi kalau semua mundur, siapa yang berdiri?”
Baca juga: Menyelaraskan Fitrah dan Fikih Prioritas dalam Kehidupan Muslim Modern Al-Qardhawi menulis, janji Rasulullah itu sudah terbukti. Mereka yang bekerja untuk agamanya di tengah badai akan diberi kekuatan yang tak terlihat, “hingga Allah mempersempit ruang gerak musuh dan memporak-porandakan mereka.”
Kondisi ini, menurut hadits riwayat Ahmad, Muslim, Tirmidzi, dan Ibn Majah, disebut al-haraj: masa perselisihan, fitnah, hingga pembunuhan. Rasulullah menegaskan, ibadah di masa seperti itu nilainya setara hijrah kepada beliau.
Artinya, sekecil apa pun kebaikan, mengajar satu anak membaca Al-Qur’an, membagi sepotong roti, atau meluruskan hoaks, bernilai ibadah besar di mata Allah.
Fitnah bukan sekadar ujian spiritual, tapi juga ujian sosial dan keberanian moral. Orang-orang yang tetap bekerja di masa itu ibarat menyalakan pelita di tengah malam: kecil, tapi cukup untuk menunjukkan arah.
Dan mungkin, seperti sabda Nabi, jika Allah tersenyum pada mereka, maka “tiada hisab lagi atasnya.” Senyum itu, kata Al-Qardhawi, adalah janji yang membuat para penggenggam bara api tak pernah melepaskannya, meski tangan mereka melepuh.
Baca juga: Jalan Bertahap Menuju Masyarakat Islam: Menelusuri Fikih Transformasi Sosial ala Qardhawi(mif)