Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 24 April 2026
home masjid detail berita

Sabda Nabi tentang Fitnah Akhir Zaman: Perintah Meninggalkan Kelompok Sempalan

miftah yusufpati Jum'at, 24 April 2026 - 16:00 WIB
Sabda Nabi tentang Fitnah Akhir Zaman: Perintah Meninggalkan Kelompok Sempalan
Keselamatan umat tidak bergantung pada seberapa besar organisasi yang mereka ikuti, melainkan pada seberapa setia mereka pada prinsip-prinsip Islam yang orisinal. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Dunia Islam hari ini tampak seperti hamparan kepingan yang berserakan. Di setiap sudut, muncul kelompok-kelompok yang menawarkan janji keselamatan, mulai dari yang berbalut ideologi politik global hingga yang terkungkung dalam fanatisme golongan yang sempit. Namun, di balik keramaian bendera dan yel-yel tersebut, tersimpan sebuah peringatan klasik yang kembali relevan. Peringatan itu datang dari dialog antara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan Hudzaifah bin Al-Yaman, yang kemudian dibedah secara mendalam oleh Syaikh Salim bin Ied al-Hilali dalam kitabnya, Al-Qaulul Mubin Fii Jama’atil Muslimin.

Pesan intinya cukup radikal untuk ukuran aktivisme modern: tinggalkan semua kelompok sempalan itu. Perintah ini muncul sebagai solusi darurat ketika umat berada dalam fase fitnah yang pekat, yakni saat jamaah kaum muslimin yang bersatu di bawah satu pemimpin sah (imam) tidak ditemukan. Dalam kondisi ketiadaan jangkar politik dan spiritual yang tunggal, kelompok-kelompok kecil sering kali bermunculan, namun sayangnya, banyak di antaranya yang justru menjadi pintu gerbang menuju kesesatan.

Syaikh Salim al-Hilali mengidentifikasi kelompok sempalan ini sebagai entitas yang menyatukan manusia di atas kemungkaran, hawa nafsu, atau ideologi-ideologi yang secara fundamental bertentangan dengan Islam. Ia menyebut spektrum yang luas, mulai dari sosialisme, komunisme, kapitalisme, hingga demokrasi yang dipandang sebagai pemikiran kufur. Selain itu, kelompok yang berkumpul hanya karena fanatik golongan atau hizbiyyah juga masuk dalam kategori yang harus dijauhi.

Interpretasi ini sejalan dengan kekhawatiran para ilmuwan sosial mengenai sosiologi kelompok. Dalam teori identitas sosial yang dikembangkan oleh Henri Tajfel, manusia cenderung membangun in-group favoritism yang sering kali berujung pada perendahan kelompok lain. Dalam konteks agama, ini bermetamorfosis menjadi fanatisme buta yang menurut Syaikh Salim dapat menjerumuskan manusia ke neraka Jahanam. Hal ini dikarenakan ajaran yang mereka bawa bukan lagi bersumber dari kemurnian Islam, melainkan hasil sinkretisme dengan kepentingan politik atau ego kelompok.

Landasan utama dari sikap menjaga jarak ini adalah sabda Nabi dalam hadits Hudzaifah yang legendaris. Saat ditanya apa yang harus dilakukan jika tidak ada jamaah dan tidak ada imam, beliau bersabda:

فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ

Tinggalkan semua kelompok-kelompok sempalan itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon hingga ajal mendatangimu dan engkau tetap dalam keadaan tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim).

Tamsil menggigit akar pohon adalah gambaran tentang betapa beratnya menjaga integritas iman secara mandiri di tengah kepungan faksi-faksi yang saling klaim. Namun, Syaikh Salim memberikan catatan penting agar perintah ini tidak disalahartikan sebagai ajakan untuk apatis total. Ada garis pemisah yang jelas antara kelompok sempalan yang sesat dengan kelompok yang konsisten menyeru kepada Al-Haq.

Kelompok yang dikecualikan adalah mereka yang benar-benar menyeru kepada Islam yang murni, memerintahkan kebajikan, dan melarang kemungkaran tanpa terjebak dalam kepentingan sektoral. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surat Ali-Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaklah ada di antara kalian sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan dan memerintahkan kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Interpretasi interpretatif dari ayat ini menunjukkan bahwa berorganisasi atau berkelompok tetap diperbolehkan, bahkan dianjurkan, selama tujuannya adalah dakwah yang bersifat universal dan bukan untuk membangun kekuasaan kelompok di atas kelompok lain. Masalah muncul ketika organisasi dakwah berubah menjadi sekte yang menganggap diri mereka adalah satu-satunya representasi Islam.

Meninggalkan kelompok sempalan, dalam narasi Syaikh Salim, adalah sebuah tindakan politis sekaligus teologis untuk menyelamatkan diri dari pusaran fitnah. Di era di mana narasi agama sering dipolitisasi oleh kepentingan kapitalisme atau ideologi asing, kembali kepada akar—sebagaimana tamsil Nabi—menjadi jalan sunyi yang menyelamatkan.

Pada akhirnya, keselamatan umat tidak bergantung pada seberapa besar organisasi yang mereka ikuti, melainkan pada seberapa setia mereka pada prinsip-prinsip Islam yang orisinal. Ketika sekat-sekat golongan mulai menutupi kejernihan wahyu, maka mengasingkan diri dari hiruk-pikuk sektarianisme adalah pilihan yang lebih mulia daripada menjadi bagian dari barisan yang menuju jurang Jahanam. Sebagaimana diperingatkan oleh Syaikh Salim, fitnah akhir zaman menuntut ketajaman mata hati untuk membedakan mana kelompok yang menyeru kepada Allah dan mana yang hanya menyeru kepada kepentingan dirinya sendiri.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 24 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:14
Maghrib
17:52
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)