LANGIT7.ID-Malam itu di pinggiran Makkah, kecemasan menggelayuti para sahabat. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mendadak hilang dari rombongan. Pencarian di sela-sela lembah dan jalan setapak pegunungan nihil hasil. Muncul spekulasi kelam dalam benak mereka: apakah sang Nabi diculik jin atau dibunuh secara senyap? Ketakutan ini bukan tanpa alasan, sebab dalam lanskap sosiokultural Arab saat itu, interaksi dengan dimensi lain adalah hal yang dianggap mungkin, meski penuh misteri.
Kisah yang diriwayatkan Imam Muslim dari jalur Ibnu Masud ini menjadi salah satu pilar dalam memahami alam jin menurut kacamata As-Sunnah. Syaikh Umar Sulaiman Al-Asyqar dalam bukunya,
Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, menempatkan peristiwa ini sebagai bukti material bahwa jin bukan sekadar abstraksi. Ketika fajar menyingsing dan Nabi muncul dari arah Gua Hira, sebuah rahasia dimensi terungkap.
أتاني داعي الجن فذهبت معه فقرأت عليهم القرآنSeorang utusan jin mendatangiku, maka aku pun pergi bersamanya (mendatangi para jin), lalu aku membacakan Al-Qur'an kepada mereka.Kalimat pendek ini mengandung makna interpretatif yang mendalam. Rasulullah tidak hanya mengakui keberadaan mereka secara verbal, tetapi juga melakukan interaksi edukatif. Lebih jauh lagi, Nabi mengajak para sahabat melihat bukti fisik berupa bekas-bekas aktivitas mereka dan sisa api yang mereka gunakan. Ini adalah pesan kuat bagi mereka yang mencoba merasionalisasi jin sebagai sekadar energi abstrak atau penyakit mental. Ada jejak yang ditinggalkan, ada interaksi yang terjadi.
Gema dari peristiwa ini kemudian dirumuskan secara akademis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam
Majmu Fatawa. Beliau menegaskan bahwa keberadaan jin adalah masalah yang sudah mencapai derajat mutawatir—berita yang diriwayatkan oleh begitu banyak jalur sehingga mustahil untuk diingkari. Ibnu Taimiyah mengkritik keras kelompok seperti Jahmiyah dan Mutazilah yang mencoba mengingkari eksistensi jin atau menafsirkannya sebagai gejala-gejala yang menimpa manusia.
Bagi Ibnu Taimiyah, jin adalah makhluk yang hidup, berakal, memiliki kehendak, serta terikat oleh beban hukum berupa perintah dan larangan. Beliau menyebutkan bahwa mayoritas umat manusia, mulai dari kaum muslimin, Yahudi, Nasrani, hingga kaum kafir pada umumnya, mengakui keberadaan mereka. Menisbatkan diri kepada para rasul namun mengingkari adanya jin dianggap sebagai sebuah kontradiksi logis terhadap ajaran para nabi yang telah tersebar luas secara dharuri atau pasti.
Dalam diskursus ilmiah dunia, fenomena keberadaan makhluk halus sering kali dibedah lewat kacamata parapsikologi atau antropologi agama. Namun, pendekatan Sunnah yang dipaparkan Syaikh Al-Asyqar melampaui sekadar fenomena psikis. Sunnah menempatkan jin dalam struktur penciptaan yang teratur. Mereka adalah entitas yang juga menjadi sasaran dakwah Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Hal ini menegaskan universalitas risalah Nabi yang melampaui batas-batas spesies manusia.
Interpretasi atas hadits Ibnu Masud juga menepis anggapan para ateis atau mulhid yang mencoba menyederhanakan fenomena jin sebagai halusinasi kolektif. Kehadiran bekas api dan jejak tempat tinggal yang diperlihatkan Nabi kepada sahabat menjadi bukti empiris dalam ruang lingkup sejarah yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Rasulullah ingin menunjukkan bahwa alam gaib memiliki titik temu dengan alam nyata dalam momen-momen tertentu atas izin Allah.
Kewajiban mengimani jin lewat jalur Sunnah ini pada akhirnya menjadi ujian bagi rasionalitas seorang mukmin. Di satu sisi, Islam melarang umatnya terjebak dalam takhayul dan ketakutan berlebih terhadap jin, namun di sisi lain, Islam menuntut pengakuan jujur atas keterbatasan indra manusia. Sebagaimana ditegaskan oleh para imam, keberadaan mereka telah menjadi bagian dari identitas keimanan yang tidak mungkin diceraikan dari risalah kenabian.
Menutup uraian ini, Syaikh Al-Asyqar dalam marajinya mengingatkan bahwa memahami alam jin melalui Sunnah adalah cara terbaik untuk menjaga akidah dari dua kutub ekstrem: kutub pengingkaran total yang sombong akan rasionalitasnya, dan kutub pemujaan mistis yang tersesat dalam khurafat. Jalan tengah yang ditawarkan Sunnah adalah pengakuan bahwa mereka ada, mereka berakal, dan mereka juga akan berdiri di hadapan pengadilan Tuhan yang sama dengan manusia.
(mif)