LANGIT7.ID- Dalam dunia yang semakin riuh dengan informasi yang dangkal, suara Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i kembali hadir sebagai pengingat tentang esensi intelektualitas. Bagi sang Imam, ilmu bukanlah pajangan gelar, melainkan sebuah pencarian yang melibatkan seluruh indra dan perasaan. Ia tidak memandang ilmu sebagai beban, melainkan sebagai kenikmatan yang bahkan ingin ia rasakan di setiap inci anggota tubuhnya.
Dalam catatan Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi yang dihimpun dalam risalah
Mawafiq Muatstsirah min Siratil Imamis Syafi’i (2014), terekam sebuah dialektika yang mendalam tentang bagaimana Imam Syafi’i memetakan prioritas pengetahuan. Beliau membagi ilmu menjadi dua poros utama: ilmu fikih untuk urusan agama dan ilmu kedokteran untuk urusan dunia. Di luar itu, ia memandangnya sebagai pelengkap yang jika tidak berhati-hati bisa jatuh pada kesia-siaan. Penegasan ini bukan berarti anti-sains, melainkan sebuah upaya sistematisasi fokus agar manusia tidak kehilangan arah dalam belantara informasi.
Gairah Imam Syafi’i terhadap ilmu digambarkan melalui metafora yang sangat emosional. Saat ditanya tentang bagaimana ia mencari ilmu, sang Imam menjawab bahwa ia mencarinya seperti seorang ibu yang kehilangan anak semata wayangnya. Sebuah gambaran kepedihan sekaligus kegigihan yang luar biasa. Semangatnya ia ibaratkan seperti orang pelit yang sangat rakus mengumpulkan harta.
Menurut Christopher Melchert dalam buku
The Formation of the Sunni Schools of Law (1997), etos kerja intelektual semacam inilah yang membuat Imam Syafi’i mampu melakukan pengembaraan lintas wilayah, dari Gaza, Makah, Madinah, hingga Irak dan Mesir.
Pandangan Imam Syafi’i tentang keutamaan ilmu juga melampaui rutinitas ibadah ritual harian. Beliau dengan tegas menyatakan bahwa membaca hadits dan menuntut ilmu itu lebih utama daripada mengerjakan shalat sunnah. Ini adalah pesan teologis yang kuat bahwa pemahaman (al-fahm) merupakan prasyarat dari pengabdian. Tanpa pemahaman yang benar melalui ilmu fikih dan hadits, ritual hanya akan menjadi gerakan tanpa ruh. Beliau melantunkan bait syair yang melegenda:
Setiap ilmu selain al-Qur’an adalah kesibukanKecuali hadits dan ilmu fikih dalam agamaIlmu itu adalah yang dikatakan telah menyampai pada kamiSelain dari pada itu adalah was-was setanNamun, di balik keagungan intelektualnya, Imam Syafi’i menyimpan ketulusan yang nyaris mustahil ditemukan di era pencitraan digital saat ini. Beliau pernah berujar bahwa ia berharap manusia mempelajari seluruh ilmu yang ia sampaikan tanpa harus menisbatkan satu huruf pun kepada namanya. Ia tidak haus akan pujian atau pengakuan sejarah. Integritas inilah yang menurut Wael B. Hallaq dalam
A History of Islamic Law Theories (1997) menjadikan Madzhab Syafi’i mampu bertahan dan meluas, karena dibangun di atas dasar objektivitas teks, bukan fanatisme figur.
Ketulusan itu pun berujung pada kerendahan hati ilmiah yang sangat tinggi. Imam Syafi’i mewanti-wanti para pengikutnya untuk selalu mendahulukan hadits yang shahih. Jika di kemudian hari ditemukan hadits shahih yang bertentangan dengan pendapat pribadinya, ia dengan tegas memerintahkan untuk melemparkan pendapatnya ke tembok. Baginya, kebenaran wahyu adalah batas akhir, sementara pendapat manusia tetaplah relatif.
Pesan penutup dari sang Imam merangkum dampak ilmu pada karakter manusia. Beliau percaya bahwa Al-Qur’an memuliakan kedudukan, fikih menumbuhkan kemampuan, hadits memperkuat argumen, bahasa melunakkan tabiat, dan matematika menajamkan logika. Namun, semua itu akan sia-sia jika pemiliknya tidak memiliki harga diri dan penjagaan diri (muru’ah). Tanpa akhlak dan rasa takut kepada Allah, ilmu hanyalah senjata tanpa arah. Warisan perkataan Imam Syafi’i ini adalah cermin bagi setiap pencari ilmu untuk kembali meluruskan niat: bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya hanya akan menuntun mereka yang jiwanya tulus dan tak merindu sanjungan dunia.
(mif)