LANGIT7.ID - Dalam diskursus teologi Islam yang panjang, sosok Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau Imam Syafi’i sering kali diletakkan sebagai tokoh sentral yang menjembatani antara tradisi ahli hadis dan ahli nalar. Namun, di balik kejeniusannya membedah hukum, Imam Syafi’i memiliki ketegasan yang tak tergoyahkan dalam urusan akidah, terutama menyangkut sifat-sifat Allah yang bersifat khabariyah atau yang bersumber dari berita wahyu. Salah satu isu yang paling sensitif dan mendalam adalah pemahamannya mengenai sifat tangan bagi Allah.
Bagi Imam Syafi’i, berbicara tentang Zat Allah menuntut integritas moral untuk tidak melampaui apa yang telah dinyatakan oleh Sang Pencipta sendiri. Dalam naskah klasik yang menjadi rujukan Madzhab Syafi’i, sang Imam menekankan bahwa Allah memiliki dua tangan. Dasar yang digunakannya bukan sekadar logika, melainkan hantaman argumentasi Al-Quran dalam surat Al-Maidah ayat 64:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ ۚ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا ۘ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ Orang-orang Yahudi berkata: Tangan Allah terbelenggu, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Tidak demikian, tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Argumentasi Imam Syafi’i ini menempatkan teks sebagai otoritas tertinggi. Sebagaimana dicatat oleh Wael B. Hallaq dalam buku
A History of Islamic Law Theories (1997), metodologi Imam Syafi’i selalu berupaya menjaga kemurnian pesan wahyu dari distorsi penafsiran yang terlalu bebas.
Dengan menetapkan kedua tangan Allah sebagaimana teks menyebutnya, Imam Syafi’i sedang menolak klaim kaum rasionalis yang sering kali mereduksi makna tangan semata-mata menjadi kekuasaan atau nikmat. Lebih spesifik lagi, Imam Syafi’i juga merujuk pada sifat tangan kanan Allah, sebuah diksi yang menuntut keimanan tanpa harus terjatuh pada penggambaran fisik (tajsim). Beliau bersandar pada surat Az-Zumar ayat 67:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Interpretasi Imam Syafi’i ini memberikan warna tersendiri dalam sejarah pemikiran Islam. Menurut George Makdisi dalam
The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West (1981), posisi Imam Syafi’i adalah sebagai tradisionalis yang moderat. Beliau menetapkan sifat tersebut tanpa bertanya bagaimana (bila kaifa) dan tanpa menyerupakannya dengan makhluk (bila tasybih).
Bagi Imam Syafi’i, mengakui Allah memiliki tangan adalah bentuk pengagungan, karena pengingkaran terhadap apa yang Tuhan tetapkan bagi diri-Nya sendiri justru dianggap sebagai kegagalan dalam menghargai kebesaran-Nya.
Pesan tersembunyi dari pernyataan Imam Syafi’i dalam
Kitab Al-Umm (2/358) ini adalah sebuah peringatan bagi akal manusia agar tahu batas. Dalam kajian orientalisme yang lebih luas, seperti yang disinggung Joseph Schacht dalam
An Introduction to Islamic Law (1964), pendekatan Imam Syafi’i terhadap teks-teks metafisika adalah untuk menjaga kestabilan sistem kepercayaan umat agar tidak goyah oleh perdebatan dialektika yang spekulatif.
Imam Syafi’i ingin menunjukkan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang memperkenalkan diri-Nya melalui kata-kata yang bisa dipahami secara bahasa, namun hakikatnya tetap tak terjangkau oleh imajinasi makhluk. Ketika Al-Quran menyebut tangan, maka hamba harus beriman bahwa Allah memiliki tangan yang sesuai dengan keagungan-Nya, bukan tangan yang terdiri dari daging, tulang, atau sendi.
Di era modern, di mana skeptisisme dan relativisme merambah ruang-ruang keagamaan, narasi Imam Syafi’i ini menjadi pengingat penting tentang konsep
tauhid asma wa shifat. Kesetiaan Imam Syafi’i pada lafaz ayat sekaligus penyuciannya terhadap Zat Allah dari sifat-sifat kekurangan manusiawi adalah jalan tengah yang menyelamatkan. Sifat tangan bagi Allah, dalam kacamata Imam Syafi’i, adalah simbol kedermawanan-Nya yang melimpah dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas alam semesta, yang diimani dengan kepasrahan intelektual yang penuh. Beliau mengajarkan bahwa untuk benar-benar mengagungkan Allah, seseorang harus menerima Allah sebagaimana Dia memperkenalkan diri-Nya sendiri, bukan menurut selera logika yang terbatas.
(mif)