Meski berbeda dalam rincian hukum fikih, empat imam mazhab berdiri di satu barisan dalam urusan akidah. Mereka sepakat pada prinsip tauhid salaf, menolak filsafat kalam, dan menjaga kemurnian iman.
Ahlus Sunnah wal Jamaah bukanlah rival bagi Syafiiyah maupun Malikiyah. Namun, loyalitas tunggal pada mazhab sering kali menjebak umat dalam fanatisme yang justru menjauhkan dari kemurnian sunnah.
Para imam madzhab tidak pernah menuntut ketaatan buta. Sebaliknya, mereka mewariskan prinsip bahwa kebenaran mutlak hanya milik wahyu, sementara pendapat manusia tetap memiliki ruang untuk dikoreksi.
Meski berbeda dalam rincian hukum fikih, empat imam madzhab berdiri di satu barisan dalam urusan aqidah. Mereka sepakat pada prinsip tauhid salaf, menolak filsafat kalam, dan menjaga kemurnian iman.
Mesir menjadi saksi bisu rebahnya sang matahari ilmu. Di pengujung hayatnya, Imam Syafii meninggalkan jejak ketawaduan yang ekstrem, sebuah pengakuan jujur seorang hamba di hadapan luasnya ampunan Tuhan.
Bagi Imam Syafii, kekayaan bukan tentang timbunan dinar, melainkan tentang seberapa banyak manfaat yang dilepaskan. Sebuah potret kegeniusan yang dibalut kedermawanan dan ketulusan jiwa yang ekstrem.
Bagi Imam Syafii, ilmu bukan sekadar hafalan yang menumpuk di memori, melainkan manfaat yang membumi. Di balik ketajaman fikihnya, tersimpan laku zuhud yang ekstrem dan disiplin ibadah yang tak tergoyahkan.
Bagi Imam Syafii, ilmu bukan sekadar kognisi, melainkan gairah yang merasuk hingga ke tulang. Sebuah perjalanan mencari kebenaran yang menuntut ketulusan mutlak tanpa ambisi pujian manusia.
Pujian para ulama terhadap Imam Syafii bukan sekadar basa-basi intelektual. Bagi mereka, sang Imam adalah pembuka kunci fikih dan pembaharu agama yang kehadirannya tak tergantikan.
Bagi Imam Syafii, melihat Allah di akhirat bukan sekadar janji teologis, melainkan ruh yang menggerakkan setiap sujud di dunia. Sebuah keyakinan yang lahir dari kedalaman tafsir atas kemurkaan dan keridhaan Sang Pencipta.
Bagi Imam Syafii, mengimani sifat Allah adalah kepasrahan pada teks wahyu. Menetapkan sifat tangan bagi-Nya bukan berarti menyerupakan-Nya dengan makhluk, melainkan bentuk pengagungan yang murni.
Mengikuti jejak para pendahulu, Imam Syafii menegaskan sifat Nuzul sebagai bagian tak terpisahkan dari iman. Sebuah ajakan untuk mengagungkan Tuhan tanpa terjebak jerat visualisasi manusiawi.
Bagi Imam Syafii, akidah bukan ruang hampa tanpa akar. Menegaskan kedudukan Allah di atas Arsy adalah bentuk kesetiaan pada tradisi salaf sekaligus penjagaan terhadap kemurnian tauhid dari takwil yang berlebihan.