Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 April 2026
home masjid detail berita

Doktrin Turunnya Allah ke Langit Dunia Menurut Perspektif Imam Syafii

miftah yusufpati Senin, 20 April 2026 - 03:00 WIB
Doktrin Turunnya Allah ke Langit Dunia Menurut Perspektif Imam Syafii
Allah yang Maha Tinggi di atas Arsy adalah Allah yang sama yang turun ke langit dunia. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Dalam bentang sejarah pemikiran Islam, Muhammad bin Idris al-Syafi’i atau yang masyhur dikenal sebagai Imam Syafi’i, berdiri sebagai mercusuar yang mendamaikan teks wahyu dengan nalar yang jernih. Di tengah hiruk-pikuk perdebatan teologis pada masa dinasti Abbasiyah, sang Imam tidak hanya menyusun fondasi hukum (fikih), tetapi juga memberikan garis batas yang tegas dalam persoalan akidah. Salah satu noktah penting yang ia gariskan adalah mengenai sifat Nuzul atau turunnya Allah ke langit dunia.

Bagi sebagian kalangan rasionalis saat itu, konsep Tuhan yang turun dianggap sebagai persoalan pelik yang menuntut penafsiran metaforis (tawil) demi menghindari penyerupaan Tuhan dengan makhluk. Namun, bagi Imam Syafi’i, keimanan terhadap sifat-sifat Tuhan harus berangkat dari kepasrahan terhadap berita yang dibawa oleh Rasulullah. Dalam adikarya hukumnya, Kitab Al-Umm, Imam Syafi’i menorehkan prinsip yang jernih:

وَ أَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لِيْلَةٍ إِلَى سَمَاء الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Allah turun setiap malam ke langit dunia dengan dasar berita Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. (Al-Umm, Juz 2, Halaman 358).

Kalimat ini bukan sekadar pernyataan dogmatis. Imam Syafi’i sedang menekankan metodologi khabar (berita). Sebagaimana dicatat oleh Wael B. Hallaq dalam bukunya A History of Islamic Law Theories (1997), Imam Syafi’i memiliki kecenderungan kuat untuk menjadikan otoritas hadis sebagai pilar utama hukum dan akidah. Bagi sang Imam, jika seorang nabi yang jujur telah mengabarkan sesuatu, maka kewajiban hamba adalah membenarkannya tanpa harus membebani akal untuk mencari tahu teknis pelaksanaannya. Lebih jauh lagi, Imam Syafi’i memberikan penjelasan tambahan yang merangkum posisi Tuhan dalam ruang metafisika:

وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Sesungguhnya Allah berada di atas Arsy-Nya di atas langit-Nya, mendekat dari makhluk-Nya bagaimana Dia suka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala turun ke langit dunia bagaimana Dia suka. (Al-Umm, Juz 2, Halaman 358).

Penggunaan frasa kaifa sya-a atau bagaimana Dia suka adalah kunci dari interpretasi Imam Syafi’i. Di sinilah letak kecerdasan teologis beliau. Dengan menyatakan bagaimana Dia suka, Imam Syafi’i secara otomatis memutus rantai imajinasi manusia yang cenderung membandingkan turunnya Tuhan dengan turunnya makhluk dari satu tempat ke tempat lain.

Dalam kajian akademik George Makdisi, The Rise of Colleges: Institutions of Learning in Islam and the West (1981), sikap ini disebut sebagai tradisionalisme yang cerdas, di mana makna teks diakui namun hakikatnya diserahkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta (tafwidh al-kayfiyah).

Pernyataan Imam Syafi’i ini sekaligus menjadi tameng terhadap tuduhan bahwa beliau berpaham mujassimah (menyerupakan Allah dengan benda). Justru dengan menegaskan bahwa Tuhan turun sesuai kehendak-Nya, beliau memisahkan antara perbuatan Tuhan dengan hukum alam yang mengikat fisik manusia.

Allah turun tanpa harus meninggalkan Arsy-Nya dalam pengertian fisik yang terbatas, sebab Dia adalah Dzat yang tidak terkekang oleh dimensi ruang. Jika kita merujuk pada pemikiran sarjana kontemporer seperti Khaled Abou El Fadl dalam Speaking in Gods Name (2001), pendekatan Imam Syafi’i terhadap teks-teks sifat adalah bentuk integritas terhadap pesan orisinal agama.

Imam Syafi’i ingin memastikan bahwa umat Islam tidak kehilangan rasa keagungan terhadap Tuhan akibat terlalu banyak bermain dalam spekulasi filosofis yang kering. Bagi Imam Syafi’i, sifat Nuzul adalah kabar gembira tentang kedekatan Tuhan dengan hamba-Nya. Di saat sepertiga malam terakhir, Sang Pencipta mendekat untuk mendengar doa dan rintihan.

Menghilangkan makna turun dalam ayat atau hadis dengan alasan logika, bagi Imam Syafi’i, justru akan menjauhkan hamba dari nuansa spiritual yang dibangun oleh teks tersebut. Narasi dalam Kitab Al-Umm ini menunjukkan bahwa bagi Imam Syafi’i, akidah adalah tentang keyakinan yang kokoh namun tetap rendah hati di hadapan kemahakuasaan. Allah yang Maha Tinggi di atas Arsy adalah Allah yang sama yang turun ke langit dunia.

Keduanya adalah kebenaran yang harus diimani secara simultan tanpa ada pertentangan. Sebuah warisan intelektual yang menempatkan wahyu di tempat tertinggi, sembari membiarkan akal sujud di hadapan kehendak Sang Khaliq. Syafi’i telah memberikan pagar: kita mengimani apa yang dikabarkan, namun kita tetap menyucikan Allah dari segala bayangan kekurangan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 April 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:14
Maghrib
17:53
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)