LANGIT7.ID-Di bawah permukaan kulit manusia, terdapat jaringan pembuluh darah yang membentang sepanjang puluhan ribu kilometer, mengalirkan oksigen dan nutrisi ke setiap sel. Namun, dalam kosmologi Islam yang dipaparkan secara mendalam oleh Syaikh Umar Sulaiman Al Asyqar dalam kitabnya,
Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, jalur transportasi biologis ini ternyata memiliki penumpang gelap yang tak kasat mata. Setan, musuh bebuyutan Bani Adam, disebut memiliki kemampuan untuk menyusup dan bergerak searah dengan aliran hemoglobin di urat nadi.
Dasar dari narasi yang menggetarkan ini berpijak pada sebuah hadits yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Anas bin Malik. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِSesungguhnya setan mengalir dalam tubuh manusia sebagaimana mengalirnya darah.
Pernyataan ini bukan sekadar metafora puitis tentang godaan yang dekat, melainkan sebuah penegasan atas kemampuan fisik jin dan setan yang diberikan Allah untuk menjangkau titik-titik paling privat dalam tubuh manusia. Syaikh Al Asyqar menjelaskan bahwa karena asal penciptaan jin adalah dari unsur api yang sangat halus, mereka memiliki sifat permeabilitas yang memungkinkan mereka menembus pori-pori dan masuk ke dalam sistem sirkulasi manusia tanpa merusak jaringan fisik secara langsung.
Secara interpretatif, hadits ini muncul dalam konteks yang sangat manusiawi. Saat itu, Rasulullah sedang berjalan malam bersama istrinya, Safiyah binti Huyay. Ketika melewati dua orang sahabat, Nabi segera mengklarifikasi identitas perempuan di sampingnya agar tidak muncul prasangka. Beliau kemudian menjelaskan bahwa setan mampu menyusup melalui aliran darah untuk membisikkan prasangka buruk ke dalam hati manusia. Di sini, aliran darah menjadi medium bagi setan untuk mencapai jantung dan otak, dua pusat kendali emosi dan logika manusia.
Jika kita menilik literatur psikologi transpersonal, fenomena pengaruh eksternal terhadap kondisi internal sering dibahas dalam berbagai terminologi. Namun, penjelasan Syaikh Al Asyqar memberikan dimensi fisik pada gangguan spiritual tersebut. Dalam buku
The Soul of the World (2014) karya Roger Scruton, dibahas mengenai hubungan antara tubuh dan kesadaran, namun Islam melalui lisan Nabi melangkah lebih jauh dengan mengidentifikasi adanya aktor luar yang masuk ke dalam mekanisme biologis tersebut untuk mengacaukan kesadaran moral.
Infiltrasi setan ke dalam pembuluh darah memberikan penjelasan mengapa ledakan emosi seperti amarah, nafsu, dan keraguan sering kali terasa begitu mendesak dan sulit dikendalikan. Aliran darah yang membawa setan ke seluruh penjuru tubuh memungkinkan gangguan tersebut terasa sangat personal, seolah-olah keinginan buruk itu berasal dari diri manusia itu sendiri. Inilah yang disebut dalam syariat sebagai waswasah atau bisikan halus yang menyelinap.
Namun, keberadaan setan di dalam aliran darah ini bukan berarti manusia kehilangan kedaulatan atas dirinya. Syaikh Al Asyqar menekankan bahwa pengetahuan ini diberikan agar manusia senantiasa waspada. Sebagaimana bakteri atau virus yang membutuhkan kondisi tubuh yang lemah untuk berkembang biak, setan juga membutuhkan kondisi spiritual yang rapuh untuk dapat efektif memengaruhi perilaku manusia dari dalam pembuluh darahnya.
Langkah preventif yang disarankan oleh Rasulullah, sebagaimana diurai dalam maraji
Alam Al Jin Wa Asy Syayathin, adalah dengan mempersempit ruang gerak setan tersebut. Salah satu cara yang disebutkan dalam tradisi Islam adalah dengan berpuasa dan senantiasa berzikir menyebut nama Allah. Secara interpretatif, puasa yang mengosongkan perut dan menenangkan gejolak darah dipandang mampu menyempitkan jalur-jalur yang biasa dilalui oleh setan di dalam tubuh.
Pemaparan ini membawa kita pada kesimpulan bahwa pertempuran antara kebaikan dan keburukan bukan hanya terjadi di mimbar-mimbar dakwah atau medan peperangan fisik, melainkan di dalam sistem sirkulasi darah kita sendiri. Memahami bahwa setan memiliki akses hingga ke urat nadi memberikan perspektif baru tentang pentingnya menjaga kebersihan hati dan pikiran. Kita diajak untuk menyadari bahwa setiap denyut nadi membawa konsekuensi spiritual, dan bahwa penjagaan terhadap diri harus dimulai dari pengakuan akan adanya musuh yang paling dekat, yakni dia yang mengalir bersama darah, namun dapat diusir dengan kekuatan iman dan keteguhan zikir.
(mif)