LANGIT7.ID- Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa tidak ada fitnah yang lebih membahayakan bagi laki-laki daripada wanita sering kali disalahpahami sebagai bentuk kebencian terhadap perempuan. Dalam masyarakat yang patriarkal, teks ini kerap dijadikan pembenaran untuk menyudutkan posisi wanita seolah-olah mereka adalah pembawa sial. Namun, dalam Fatwa-fatwa Kontemporer terbitan Gema Insani Press, Syaikh Yusuf Qardhawi meluruskan bahwa kata fitnah dalam konteks tersebut bermakna ujian atau cobaan, bukan berarti wanita adalah makhluk terkutuk atau penyakit yang harus dijauhi.
Qardhawi menjelaskan bahwa dalam logika Al-Quran, manusia justru lebih sering diuji dengan kenikmatan daripada musibah. Sebagaimana harta dan anak-anak disebut sebagai fitnah dalam surat at-Taghabun ayat 15, wanita juga diposisikan sebagai hal yang dicintai manusia namun mengandung risiko jika tidak dikelola dengan iman. Fitnah harta bisa membuat orang serakah, dan fitnah wanita atau istri bisa membuat seseorang melalaikan kewajiban publik demi kepentingan pribadi yang sempit. Ini bukan tentang kesalahan objeknya, melainkan tentang bagaimana subjek manusia merespons kenikmatan tersebut.
Peringatan Rasulullah SAW tentang wanita sebenarnya setara dengan peringatan beliau tentang kemakmuran dunia. Beliau tidak pernah bermaksud menyebarkan kemiskinan atau kebencian terhadap kehidupan dunia, melainkan sedang menyalakan lampu merah bagi pribadi dan masyarakat muslim di jalan kehidupan yang licin agar kaki mereka tidak terpeleset. Beliau pernah bersabda bahwa harta yang baik bagi orang yang baik adalah sebuah pujian. Begitu pula dengan wanita; wanita saleha dipuji sebagai pilar keluarga yang paling berharga. Bahaya baru muncul ketika daya tarik wanita dijadikan alat untuk merusak akhlak, mengotori harga diri, dan menghancurkan integritas sosial.
Memahami hadits fitnah wanita secara sepihak sebagai alasan untuk merendahkan perempuan adalah kekeliruan fatal yang sangat disayangkan oleh Qardhawi. Beliau menekankan bahwa sikap menyalahkan wanita atas segala bencana adalah pola pikir yang jauh dari semangat Islam. Wanita menjadi ujian apabila mereka menjadi alat pembangkit nafsu yang tak terkendali atau ketika laki-laki menjadi begitu terobsesi sehingga melanggar batasan Allah. Namun, sebagai manusia, wanita tetaplah mitra laki-laki yang setara dalam membangun peradaban, yang kelak akan mendapatkan pahala atau siksa secara adil atas perbuatannya sendiri.
Qardhawi merujuk pada hadits sahih di mana Rasulullah SAW mengkhawatirkan umatnya akan dilimpahkan kekayaan dunia sebagaimana orang-orang sebelum mereka, yang lantas membuat mereka saling memperebutkannya dan akhirnya binasa. Peringatan ini tidak berarti kekayaan itu buruk, melainkan memperingatkan bahaya keserakahan. Dengan analogi yang sama, peringatan tentang wanita adalah seruan bagi laki-laki untuk menjaga kontrol diri. Dengan memahami makna fitnah sebagai ujian kenikmatan, laki-laki diajak untuk lebih mawas diri terhadap egonya sendiri, alih-alih menyalahkan pihak lain atas kelemahan iman mereka.
Lebih jauh lagi, Qardhawi menegaskan bahwa Islam memuliakan wanita sebagai manusia yang diberi tugas (taklif) dan tanggung jawab yang utuh. Tidak ada satu pun nash sahih yang mengatakan wanita adalah penyebab penderitaan manusia sejak zaman Adam. Al-Quran justru menyejajarkan muslim dengan muslimah dalam banyak ayat. Oleh karena itu, menjadikan hadits tentang fitnah sebagai alat untuk mendiskriminasi perempuan adalah sebuah bentuk ketidaktahuan atau kepura-puraan dalam memahami agama. Islam datang untuk melindung dan memberikan hak-hak wanita, bukan untuk mengurung mereka dalam stigma negatif.
Dalam pandangan Qardhawi, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu melihat wanita secara proporsional. Wanita adalah ibu, istri, anak perempuan, dan anggota masyarakat yang berkontribusi. Fitnah terjadi ketika ada penyakit dalam hati manusia yang membuat mereka menyalahgunakan nikmat Tuhan. Dengan pemurnian makna ini, umat Islam diharapkan tidak lagi memandang wanita dengan prasangka buruk, melainkan sebagai anugerah yang harus dihormati dan dijaga marwahnya agar peradaban tetap berada di jalur yang benar.
Ketajaman analisis Qardhawi ini memberikan solusi atas tuduhan bahwa Islam bersikap keras atau zalim terhadap wanita. Dengan menempatkan hadits Nabi pada konteks yang benar, kita melihat bahwa Islam sebenarnya sedang membangun sistem peringatan dini (early warning system) agar manusia tidak hancur oleh hawa nafsunya sendiri. Kesadaran akan fitnah atau ujian ini seharusnya melahirkan sikap hati-hati, bukan sikap kebencian atau diskriminasi terhadap kaum perempuan yang merupakan separuh dari jiwa masyarakat.
