LANGIT7.ID-Seorang pria muda berdiri di depan sumur kering yang dulu pernah digalinya. Di antara desiran angin gurun, ia berkata lantang, "
Ana fathartuhu." Aku yang menciptakan ini pertama kali. Kalimat sederhana itu membuat Ibnu Abbas, sahabat Rasulullah, mengangguk paham. Ia tak lagi bertanya-tanya tentang makna kata fithrah.
Dari akar kata
al-fathr—yang berarti membelah—lahirlah pengertian tentang penciptaan: awal mula sesuatu yang wujud. Dan dari sinilah,
Prof Dr M Quraish Shihab menelusuri ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat kata fitrah sebanyak 28 kali, separuhnya berkaitan dengan penciptaan langit dan bumi, dan sebagian sisanya tentang penciptaan manusia. Namun, hanya satu ayat yang secara gamblang menyebut fitrah dalam konteks manusia dan agama: Surah Ar-Rum ayat 30.
Di dalam ayat itu, Allah berfirman bahwa manusia diciptakan atas fitrah—ciptaan Allah yang tak berubah—dan itulah agama yang lurus. Maka, kata Quraish, sejak semula manusia membawa potensi keberagamaan, yaitu tauhid.
Namun, apakah fitrah hanya soal tauhid?
Baca juga: Akhlak sang Fitrah: Tidak Hanya Berkisah tentang Baik dan Buruk Fitrah Tak Sebatas TauhidTidak. Tafsir para ulama menjelaskan bahwa fitrah juga mencakup jasmani, akal, dan roh. Keinginan manusia terhadap lawan jenis, harta benda, keindahan duniawi adalah bagian dari fitrah. Kemampuan menalar, bersedih, dan merasakan nikmat pun merupakan fitrah. Muhammad Thahir Ibn Asyur menyebut fitrah sebagai sistem dasar penciptaan manusia: menyatu dalam tubuh dan akalnya.
Maka, fitrah bukan sekadar iman, tapi juga dorongan alami untuk berbuat, merasa, dan berpikir. Itulah sebabnya dalam kerangka Islam, ibadah bukan satu-satunya jalan menjadi manusia paripurna.
Syaikh Yusuf al-Qaradawi, dalam
Fiqh Prioritas, menggugat kecenderungan manusia modern yang menumpuk ibadah individual tanpa memedulikan maslahat sosial. Baginya, jihad sosial—yang membawa manfaat luas—lebih utama daripada ritual pribadi. Ayat at-Taubah: 19–20 menjadi dasar penekanan itu.
Tak mengherankan jika Rasulullah pernah bersabda, keterlibatan dalam perjuangan di jalan Allah lebih baik daripada shalat tujuh puluh tahun. Bahkan, orang yang mengajarkan satu ayat kebaikan mendapat pahala seperti orang-orang yang mengamalkannya. Tanpa dikurangi sedikit pun.
"Orang terbaik di antara kalian," sabda Nabi, "adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya."
Baca juga: Menikah, antara Fitrah dan Syariat: Ketika Nafsu Bertemu Tuntunan Ilahi Ilmu menjadi ibadah yang lebih unggul, karena manfaatnya bisa mengalir tak hanya kepada pengembannya, tapi juga umat. Para ulama sepakat: seorang alim yang mengajar boleh menerima zakat. Seorang abid yang menyepi? Tidak.
Dari Doa Ulama untuk PenguasaKesalehan personal dalam Islam tak bisa dipisahkan dari kontribusi sosial. Seorang pemimpin yang adil, tulis Al-Qaradawi, kadang dalam sehari bisa menghapuskan kezhaliman ribuan orang. Maka, tak aneh jika ulama salaf lebih memilih mendoakan penguasa daripada dirinya sendiri—karena lewat pemimpin yang adil, Allah bisa memperbaiki banyak makhluk.
"Satu hari pemimpin yang adil," sabda Nabi, "lebih baik daripada ibadah enam puluh tahun." Hadits ini boleh diperdebatkan sanadnya, tapi maknanya mengakar dalam ajaran Islam. Dalam riwayat lain yang sahih, pemimpin yang adil akan mendapatkan naungan Allah pada hari tak ada naungan selain dari-Nya.
Itulah prinsip
fiqh al-awlawiyyat, fiqih prioritas, yang menempatkan maslahat umat di atas kenikmatan spiritual individu. Bukan berarti meninggalkan ibadah, tapi memahami bahwa ibadah tertinggi adalah yang mendekatkan manusia kepada manusia, bukan hanya kepada Tuhan.
Baca juga: Setiap Anak Dilahirkan dalam Keadaan Fitrah, Begini Penjelasan Imam Al-Ghazali Menjadi Manusia Adalah Tugas SosialFithrah manusia tidak hanya mengarah ke langit, tapi juga menjejak ke bumi. Menjadi manusia seutuhnya berarti mengenali potensi dalam dirinya, lalu memanfaatkannya bagi sesama. Itu sebabnya, membayar utang orang lain, memberi makan yang lapar, atau sekadar menghapus kegelisahan seorang Muslim, lebih dicintai Allah ketimbang i’tikaf sebulan penuh.
Dan siapa yang paling dicintai Allah? Bukan mereka yang paling lama rukuknya, tapi yang paling berguna.
Karena dalam Islam, keutamaan tak diukur dari seberapa lama kita berdoa di sudut masjid. Tapi seberapa sering kita membuat orang lain tersenyum.
(mif)