LANGIT7.ID — Tak satu pun ayat dalam
Al-Qur’an menyebut kata “akhlak” dalam bentuk jamaknya. Yang ditemukan hanyalah bentuk tunggalnya:
khuluq, seperti termaktub dalam surat Al-Qalam ayat 4. Namun, justru dari ayat inilah arah besar risalah
Muhammad SAW dapat ditarik: "Sesungguhnya engkau (Muhammad) berada di atas budi pekerti yang agung."
Ayat itu bukan hanya pujian. Ia adalah pengakuan sekaligus legitimasi kenabian. Jika wahyu adalah cahaya yang turun dari langit, maka akhlak adalah pantulan cahayanya dalam kehidupan. Nabi membawa risalah bukan dengan senjata atau doktrin kaku, tapi dengan keteladanan yang mewujud dalam perilaku. "Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia," sabdanya. Hadis ini adalah tesis utama seluruh misinya.
Namun, di balik narasi tentang akhlak sebagai budi pekerti, ada kedalaman yang lebih hakiki. Akhlak bukan semata soal norma sosial, tapi hasil dari dialektika batin manusia dengan dirinya sendiri. Ketika Nabi ditanya oleh Wabishah bin Ma’bad tentang kebaikan, beliau menjawab: "Tanyailah hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang tenteram terhadap jiwa, sedangkan dosa adalah yang mengacaukan hati."
Baca juga: Lampu yang Menyinari Umat: Jejak Aisyah dalam Ilmu dan Akhlak Dalam "
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat",
Prof. Dr. Quraish Shihab menegaskan bahwa akhlak adalah cermin dari fitrah. Dan fitrah, menurut Al-Qur’an, adalah bawaan asli manusia: kecenderungan kepada kebenaran, kepada yang baik.
Dalam surat Ar-Rum ayat 30 disebutkan, "Itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu." Artinya, menjadi baik bukanlah pilihan yang asing. Ia adalah gerak alami manusia sejak lahir.
Dibentuk, Bukan DibelokkanBanyak pemikir besar Islam percaya, manusia pada dasarnya condong kepada kebajikan. Mereka tidak menafikan adanya kejahatan dalam diri manusia, tapi lebih melihatnya sebagai penyimpangan akibat lingkungan atau kelemahan. Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Bukhari menyatakan, "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci). Hanya saja kedua orangtuanya (lingkungannya) yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
Keburukan, dalam pandangan ini, bukan asal. Ia adalah penyimpangan dari garis lurus fitrah. Ayat Al-Qur’an dalam surat Asy-Syams memberi isyarat kuat tentang ini: "Maka Allah mengilhami jiwa manusia kedurhakaan dan ketakwaan." Ada dua jalan yang terbentang. Namun jalan kebaikan selalu lebih dahulu membuka diri.
Baca juga: Puasa Bangun Pribadi Berakhlak Luhur karena Belajar Menahan Nafsu Menarik ketika Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menafsirkan surat Al-Baqarah ayat 286. Ia membedakan dua kata: kasabat dan iktasabat—sama-sama berarti “melakukan”. Tapi kasabat digunakan untuk amal baik, sedangkan iktasabat untuk amal buruk. Bagi Abduh, ini menunjukkan bahwa kebaikan dilakukan dengan ringan, sementara keburukan harus dilalui dengan usaha keras. Sebab, ia melawan fitrah.
Akhlak yang MenyatukanDi tengah perbedaan budaya, ras, dan zaman, konsep-konsep dasar akhlak justru menunjukan kesamaan yang mencengangkan. Semua peradaban mencela kebohongan, menghina keangkuhan, dan memuliakan kejujuran serta kasih sayang. Al-Qur’an menyebut nilai-nilai itu sebagai ma’ruf—yakni yang dikenal, yang sudah ada dalam hati manusia.
Maka, ketika Nabi mengajarkan akhlak, beliau sejatinya tidak menanamkan benih baru, tetapi menyirami yang sudah tumbuh. Akhlak bukan barang asing yang ditanamkan dari luar, tapi sesuatu yang tinggal disadarkan. Di sinilah urgensi pendidikan moral: bukan menciptakan, tetapi membangkitkan.
Kondisi ini membawa konsekuensi serius dalam pertanggungjawaban. Karena kebaikan adalah bagian dari kodrat, maka keburukan adalah pilihan sadar. Maka di akhirat, manusia diminta menghitung dirinya sendiri. "Bacalah kitab amalmu,"* demikian Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 14, "cukup engkau sendiri yang menghitungnya."
Baca juga: Monas Dipadati Lautan Massa Reuni 212, Rizieq Shihab Hadir Serukan Revolusi Akhlak & Bela Palestina Kebajikan yang Dibela TuhanKecenderungan kepada kebaikan bukan hanya fakta psikologis. Ia adalah amanat yang dijaga oleh Allah. Karena itu, ketika manusia menyalahi fitrahnya, Tuhan tidak tinggal diam. Kisah Nabi Adam menjadi ilustrasi kuat bahwa pelanggaran terhadap fitrah terjadi karena godaan eksternal. "Durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah ia," (Thaha: 121). Tapi sebelumnya, ia berada dalam kemurnian. Dan sesudahnya, ia bertobat—kembali ke pangkuan fitrah.
Maka agama, sejatinya bukan sekadar ajaran dogmatis. Ia adalah cermin dari kemanusiaan yang paling murni. Ketika Islam menuntun kepada akhlak mulia, ia bukan sedang menawarkan idealisme utopis, tapi mengajak kembali kepada asal penciptaan.
Namun, di sinilah tantangan muncul. Akhlak, dalam masyarakat modern yang disesaki kepentingan dan keserakahan, mudah sekali terpinggirkan. Kebajikan kini butuh perjuangan, karena ia melawan arus.
Tapi bukan berarti ia tidak mungkin dilakukan. Sebab, sebagaimana Al-Qur’an dan hadis menyiratkan, kebajikan selalu menyisakan ketenangan bagi jiwa. Ia tak selalu gemerlap, tapi menyala tenang di dasar hati. Dan karena itulah, akhlak akan selalu menjadi cahaya yang menyinari jalan bagi siapa pun yang ingin kembali menjadi manusia.
(mif)