Akhlak terhadap lingkungan lahir dari kesadaran sebagai khalifah: menjaga, bukan menaklukkan. Al-Quran memerintahkan harmoni dengan alam, bukan eksploitasi yang merusak dirinya sendiri.
Akhlak terhadap manusia bukan sekadar etika sopan santun. Ia menuntut empati, kelapangan dada, dan keberanian menahan diri. Al-Quran membentangkan standar moral yang jauh melampaui etiket sosial.
Akhlak terhadap Allah menempatkan manusia pada hubungan yang melampaui etika sosial. Ia menuntut kesadaran batin, penyerahan diri, dan tanggung jawab spiritual yang tak dijangkau etika kemanusiaan biasa.
Di tengah dunia yang kian memuja manfaat instan, Al-Quran menempatkan akhlak sebagai kompas yang tak berubah. Ia menjadi tolok ukur kebaikan yang melampaui selera, situasi, dan zaman.
Al-Quran menegaskan manusia bebas memilih jalan hidupnyabaik atau buruk. Tapi kebebasan itu tak gratis. Ada syarat pengetahuan, kemampuan, dan niat yang kelak diperiksa di pengadilan akhirat.
Al-Quran menegaskan manusia memiliki dua potensi: kebajikan dan keburukan. Namun fitrah awalnya cenderung pada kebaikan. Para mufasir, filosof, dan psikolog mengulas bagaimana akhlak terbentuk dan ke mana ia bisa dibelokkan.
Anwar Abbas menegaskan posisi Muhammadiyah: mendukung jika pemerintah benar, menjewer jika salah. Tradisi lama yang menjaga organisasi ini tetap di tengahantara agama dan negara.
Dalam Surah Al-Hujurat ayat 2, umat diperingatkan untuk tidak meninggikan suara di hadapan Nabi. Dalam Surah An-Nur ayat 63, umat pun dilarang memanggil beliau seperti mereka memanggil satu sama lain.
Etika adalah tentang kelakuan. Akhlak, lebih dalam dari itu. Ia menyentuh ruang terdalam dari iman, pikiran, dan hati nuranidari relasi manusia dengan Tuhan hingga dengan batu yang tak bersuara.
Lantas, bagaimana meneladani keangkuhan Tuhan, jika angkuh itu sendiri dianggap nista? Di sinilah Quraish menekankan konteks. Bahwa sifat-sifat Allah itu bersifat integral dan tak saling bertentangan.
Nabi membawa risalah bukan dengan senjata atau doktrin kaku, tapi dengan keteladanan yang mewujud dalam perilaku. Aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia, sabdanya.