Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 15 Januari 2026
home masjid detail berita

Mendahulukan Orang Lain: Akhlak yang Terlupa dalam Ruang Publik

miftah yusufpati Jum'at, 01 Agustus 2025 - 05:15 WIB
Mendahulukan Orang Lain: Akhlak yang Terlupa dalam Ruang Publik
Dalam istilah Al-Quran, orang seperti itu adalah al-muhsinmereka yang selalu berbuat baik melebihi yang dituntut. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di jalan raya Jakarta, klakson bertalu-talu memecah pagi. Di meja layanan publik, suara tinggi kerap terdengar lebih dulu daripada permintaan maaf. Di linimasa media sosial, umpatan lebih lekas muncul ketimbang sapaan. Di ruang-ruang kehidupan modern, akhlak kepada sesama manusia perlahan surut ke latar.

Padahal, dalam konstruksi moral Al-Qur’an, sikap kepada sesama manusia bukan pelengkap, melainkan inti. Nilai-nilai yang ditegakkan tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan, melainkan juga hubungan horizontal antar sesama manusia.

“Ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia,” demikian perintah Al-Qur’an dalam Surah Al-Baqarah ayat 83. Seruan ini tidak berhenti pada formalitas kesopanan, tetapi menuntut kelembutan yang berakar dari kesadaran batin.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Penerbit Mizan) menjelaskan bahwa Al-Qur’an menuntut perlakuan manusiawi yang utuh, dari larangan membunuh hingga larangan menyakiti perasaan dengan cara membicarakan aib orang lain di belakangnya—meski yang diucapkan benar dan diiringi sedekah sekalipun.

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah yang disertai dengan sesuatu yang menyakitkan,” tulis beliau, mengutip QS Al-Baqarah [2]: 263.

Baca juga: Mencari Akhlak di Antara Tuhan dan Tumbuhan Menurut Quraish Shihab

Hormat kepada Semua, Termasuk kepada Nabi

Penerapan akhlak sosial ini bahkan sangat halus dalam interaksi dengan Rasulullah Muhammad SAW. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 2, umat diperingatkan untuk tidak meninggikan suara di hadapan Nabi. Dalam Surah An-Nur ayat 63, umat pun dilarang memanggil beliau seperti mereka memanggil satu sama lain.

Konteksnya jelas: manusia harus ditempatkan secara proporsional. Muhammad adalah manusia seperti manusia lainnya, tetapi kedudukannya sebagai Rasul membuatnya berhak atas penghormatan istimewa.

Di ruang kehidupan modern, etika ini nyaris lenyap. Kita terbiasa menyejajarkan semua orang di dunia digital—termasuk guru, orang tua, pemimpin—tanpa pembeda adab.

Akhlak Qur’ani juga menekankan pentingnya privasi. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin dan memberi salam...” (QS An-Nur [24]: 27). Bahkan anak-anak pun, dalam ayat lain, diperintahkan meminta izin di waktu-waktu tertentu kepada orang tua.

Perintah-perintah ini tidak sekadar etiket, melainkan upaya menjaga harga diri dan kenyamanan sesama.

Lebih lanjut, salam yang kita ucapkan wajib dibalas dengan yang serupa, bahkan lebih baik (QS An-Nisa’ [4]: 86). Tindakan kecil ini melatih kepekaan untuk menghormati orang lain dalam bentuk paling sederhana: ucapan.

Baca juga: Kaya Tanpa Meminta, Perkasa Tanpa Menindas: Berakhlaklah dengan Akhlak Allah

Dari Memaafkan ke Mengutamakan

Tingkat tertinggi dari akhlak sosial dalam Al-Qur’an adalah mendahulukan orang lain daripada diri sendiri. Ini melampaui prinsip liberal “asal tidak melanggar hak orang lain.”

“They prefer others over themselves, even though they are in need,” tulis QS Al-Hasyr [59]: 9. Ini bukan akhlak biasa, ini pengorbanan. Dalam dunia serba transaksional, prinsip ini nyaris utopis.

Namun Al-Qur’an tidak hanya menuntun kepada pengorbanan, tetapi juga melatih kita untuk menahan amarah, memberi maaf, bahkan membalas kesalahan dengan kebaikan (QS Ali Imran [3]: 134).

Salah satu kisah paling menyentuh adalah saat Abu Bakar bersumpah tidak akan lagi membantu Misthah, kerabat yang turut menyebarkan fitnah tentang Aisyah. Allah kemudian menurunkan QS An-Nur [24]: 22 untuk memerintahkannya memaafkan dan terus membantu.

“Apakah kamu tidak ingin Allah mengampuni kamu?” ayat itu bertanya, seolah menampar ego siapa pun yang terlalu bangga untuk memberi maaf.

Baca juga: Akhlak sang Fitrah: Tidak Hanya Berkisah tentang Baik dan Buruk

Gentleman ala Qur’an

Di Barat, istilah gentleman disematkan pada mereka yang santun dan punya kehormatan, terutama terhadap perempuan. Namun dalam bingkai Qur’ani, Muslim yang berpegang pada nilai akhlak sosial ini jauh melampaui itu. Ia tidak hanya memuliakan orang lain, tapi juga selalu sadar bahwa dirinya bisa saja berada di posisi yang lebih lemah.

Dalam istilah Al-Qur’an, orang seperti itu adalah al-muhsin—mereka yang selalu berbuat baik melebihi yang dituntut.

Di ruang publik kita hari ini, orang seperti ini semakin langka. Tapi justru karena langka, ia layak dicari, diteladani, dan dibina. Mungkin ia tak viral di media sosial, tapi dalam timbangan Tuhan, dialah yang paling berat timbangannya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 15 Januari 2026
Imsak
04:17
Shubuh
04:27
Dhuhur
12:05
Ashar
15:30
Maghrib
18:18
Isya
19:33
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan