Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 14 April 2026
home masjid detail berita

Kaya Tanpa Meminta, Perkasa Tanpa Menindas: Berakhlaklah dengan Akhlak Allah

miftah yusufpati Selasa, 29 Juli 2025 - 16:19 WIB
Kaya Tanpa Meminta, Perkasa Tanpa Menindas: Berakhlaklah dengan Akhlak Allah
Ada tempat bagi kasih sayang, ada tempat pula bagi keperkasaan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di tengah zaman yang kian menjadikan manfaat instan dan kenikmatan sesaat sebagai tolok ukur moral, Prof Dr Quraish Shihab mengajak pembacanya untuk menengok kembali sumber nilai paling esensial: sifat-sifat Tuhan. Dalam buku "Wawasan Al-Qur’an", pakar tafsir itu menyodorkan sebuah gagasan penting yang nyaris tenggelam dalam arus etika relativistik modern: bahwa ukuran baik dan buruk semestinya berpijak pada ketetapan Allah, bukan pada persepsi manusia yang kerap menipu.“Tidak mungkin Dia menilai kebohongan sebagai kelakuan baik,” tulis Quraish. Alasannya, kebohongan itu sendiri esensinya buruk, sebagaimana kebenaran yang esensinya mulia. Dengan kerangka ini, ia menegaskan bahwa nilai-nilai universal sebetulnya telah tertanam dalam sifat-sifat Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an. Tak tanggung-tanggung, Quraish bahkan menyarankan agar umat Islam menjadikan sifat-sifat itu sebagai rujukan etika sosial-politik sehari-hari.“Berakhlaklah dengan akhlak Allah,” sabda Nabi Muhammad SAW yang dikutip Quraish Shihab. Lantas, bagaimana meneladani keangkuhan Tuhan, jika angkuh itu sendiri dianggap nista? Di sinilah Quraish menekankan konteks. Bahwa sifat-sifat Allah itu bersifat integral dan tak saling bertentangan. Ada tempat bagi kasih sayang, ada tempat pula bagi keperkasaan. Keangkuhan Allah, misalnya, hanya relevan dalam konteks menghadapi orang-orang sombong yang menindas. “Bersikap angkuh terhadap orang yang angkuh adalah sedekah,” kutipnya dari riwayat Nabi.

Baca juga: Akhlak sang Fitrah: Tidak Hanya Berkisah tentang Baik dan Buruk

Interpretasi ini membuka ruang baru bagi etika Islam yang aktif dan kontekstual, bukan pasif dan reaksioner. Dalam konteks sosial-politik, seorang pemimpin bisa meneladani sifat Maha Kuasa dengan memelihara kekuatan untuk melindungi yang lemah, bukan untuk mengintimidasi yang tak berdaya. Ia bisa meneladani sifat Al-Ghani (Yang Maha Kaya) bukan dengan memamerkan kekayaan, tapi dengan menunjukkan kemandirian dan integritas—tidak tunduk pada kepentingan pemilik modal.Buku ini menghidupkan kembali semangat tafsir tematik (tafsir maudhu’i) yang mengaitkan Al-Qur’an dengan realitas kontemporer. Ketika Quraish Shihab membahas sifat Al-Ghani, ia mengkritik mentalitas meminta-minta yang tak selaras dengan nilai kemuliaan manusia. Dalam tafsirnya atas QS Al-Baqarah [2]: 273, ia menggarisbawahi bahwa mereka yang memelihara kehormatan diri meski hidup berkekurangan justru layak disebut “kaya”. Kekayaan dalam Islam, ujarnya, bukan soal saldo, tapi soal sikap.Tak ketinggalan, ia juga menyoroti pentingnya meneladani sifat Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Dalam ruang publik yang sering gaduh oleh komentar dangkal, mengklaim kebenaran tanpa dasar ilmu, atau membuat keputusan tergesa-gesa, seruan Shihab agar umat belajar dari Allah yang Maha Tahu dan Maha Adil menjadi pengingat keras. Bahwa akhlak bukan sekadar sopan santun, tapi kompas dalam mengambil sikap.Barangkali inilah yang membuat *Wawasan Al-Qur’an* tetap relevan dibaca bertahun-tahun setelah terbit. Ia bukan sekadar mengurai makna ayat, tapi menawarkan cara pandang baru dalam memaknai hidup. Bukan sekadar menyerukan moralitas abstrak, tapi menghubungkan etika ilahiah dengan praksis kehidupan: dari pasar hingga parlemen, dari rumah tangga hingga ruang pengadilan.

Baca juga: Lampu yang Menyinari Umat: Jejak Aisyah dalam Ilmu dan Akhlak

Di tengah dunia yang semakin menyamakan kebaikan dengan keuntungan dan menilai keburukan hanya dari sisi kerugian, gagasan Shihab menawarkan kerangka etika yang lebih kokoh. Satu yang tak bergantung pada mayoritas, tren, atau rating. Sebuah ajakan untuk kembali menimbang hidup dengan timbangan yang lebih tinggi: sifat-sifat Tuhan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 14 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:55
Isya
19:05
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)