LANGIT7.ID-Jakarta; Pembahasan mengenai Lailatulqadar kembali menjadi perhatian umat Islam pada sepuluh hari terakhir Ramadan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti melalui unggahan di Instagram pribadinya @abe_mukti membagikan penjelasan mengenai makna Lailatulqadar serta sejumlah pandangan yang berkaitan dengan malam yang diyakini penuh kemuliaan tersebut.
Dalam penjelasan yang ia tuliskan, Abdul Mu’ti mengutip pandangan M Quraish Shihab dalam buku
Wawasan Al-Qur'an: Tafsir Madhu'i Atas Pelbagai Persoalan Umat (1996) mengenai pengertian Lailatulqadar. Menurut Quraish Shihab, istilah tersebut terdiri atas dua kata, yaitu lail yang berarti malam dan qadar yang memiliki beberapa pengertian.
Pertama, qadar bermakna penetapan dan pengaturan. Dalam pengertian ini, Lailatulqadar dipahami sebagai malam penetapan Allah bagi perjalanan hidup manusia. Kedua, qadar berarti kemuliaan. Lailatulqadar disebut sebagai malam yang mulia, tidak ada yang menandingi dan melebihi kemuliaannya, sekaligus menjadi malam ketika Allah menurunkan Al-Qur’an.
Ketiga, qadar juga dimaknai sebagai sempit. Dalam pengertian ini, Lailatulqadar digambarkan sebagai malam yang sempit karena para malaikat dan Malaikat Jibril turun ke bumi.
Abdul Mu’ti juga menyampaikan kesimpulan dari penjelasan tersebut sebagaimana dikemukakan Quraish Shihab.
"Quraish Shihab menyimpulkan bahwa ketiga pengertian tersebut dapat menjadi benar karena malam itu adalah malam mulia, yang apabila dapat diraih maka ia menetapkan masa depan manusia dan bahwa pada malam itu malaikat turun ke bumi membawa ketenangan serta kedamaian," ujar dia, dikutip Sabtu (14/3/2026).
Dalam penjelasan tersebut juga disebutkan bahwa jika Lailatulqadar dikaitkan dengan peristiwa diturunkannya Al-Qur’an, maka peristiwa tersebut sudah tidak ada lagi. Hal itu karena pewahyuan Al-Qur’an berakhir setelah Rasulullah SAW wafat.
Meski demikian, keyakinan mengenai adanya Lailatulqadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan tetap didasarkan pada sejumlah hadis. Dalam riwayat Imam Bukhari disebutkan sabda Rasulullah SAW: "Carilah olehmu sekalian Lailatulqadar itu pada malam witir (ganjil) sepuluh terakhir bulan Ramadan."
Riwayat lain dari Abu Hurairah juga menyebutkan sabda Rasulullah SAW: "Barangsiapa beribadah pada Lailatulqadar dengan iman dan ikhlas maka diampuni dosanya yang telah lalu."
Sejumlah riwayat juga menyebutkan kemungkinan waktu terjadinya Lailatulqadar, di antaranya malam ke-27, 25, 23, 21, bahkan ada yang menyebutkan malam ke-19 Ramadan. Meski demikian, tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan malam tersebut terjadi.
Dalam penjelasan yang dibagikan Abdul Mu’ti juga disampaikan sejumlah sudut pandang mengenai makna Lailatulqadar. Dari sudut pandang teologi, Allah menurunkan Al-Qur’an yang berisi peraturan-peraturan bagi manusia. Manusia diyakini akan meraih kehidupan yang damai apabila menjalankan peraturan-peraturan Allah tersebut dengan sepenuh kemampuan.
Dari sudut pandang syariat, Allah memberikan pahala yang berlipat ganda bagi mereka yang beribadah dengan mengharapkan rida-Nya. Dengan rida tersebut, Allah mengampuni dosa, mengabulkan doa, serta memberikan anugerah kepada manusia.
Sementara dalam perspektif psikologi, keyakinan tentang adanya Lailatulqadar dipandang sebagai motivasi agar manusia mempertahankan dan meningkatkan ibadah selagi masih ada kesempatan. Penjelasan tersebut juga mengingatkan bahwa Lailatulqadar tidak akan bermakna apabila manusia tidak mengisinya dengan ibadah, meskipun Allah tidak akan menyia-nyiakan ibadah hamba-Nya.
(lam)