LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen)
Abdul Mu'ti mengatakan, kemampuan memecahkan masalah menjadi salah satu keterampilan paling penting yang harus dimiliki generasi masa depan.
Menurutnya, di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat membuat peserta didik tidak lagi cukup hanya menguasai pengetahuan melainkan juga dituntut mampu berpikir kritis, mengambil keputusan, dan menemukan solusi atas berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Pesan tersebut disampaikan
Menteri Mu'ti dalam acara Bedah Buku Bermutu
Presiden Solusi: Problem Solving Ala Presiden Prabowo di Plaza Insan Berprestasi, Gedung A Kantor Kemendikdasmen, Jakarta, Selasa (7/7/2026).
Mendikdasmen berujar bahwa dirinya menyambut baik pemilihan buku tersebut sebagai bahan diskusi dalam rangka peringatan Hari Pustakawan yang jatuh pada hari ini. Alasannya, karena tema yang diangkat snagat relevan dengan kebutuhan bangsa sekarang dan tentu sangat relevan dengan dunia pendidikan yang kita geluti bersama.
Ia pun menilai, tema besar yang diangkat buku tersebut sangat relevan dengan kebutuhan Indonesia saat ini, terutama dalam membangun dunia pendidikan yang mampu melahirkan generasi pembelajar sekaligus pemimpin masa depan.
"Buku Presiden Solusi: Problem Solving Ala Presiden Prabowo mengangkat tema besar tentang kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan keberanian menghadapi tantangan. Tema ini sangat relevan dengan kebutuhan bangsa hari ini dan tentu sangat relevan dengan dunia pendidikan yang kita geluti bersama," ujar Abdul Mu'ti.
Dia menambahkan, konsep problem solving yang dibahas dalam buku tersebut tidak boleh dipahami hanya sebagai kemampuan teknis untuk menyelesaikan persoalan.
Baca juga: Buku Presiden Solusi: Problem Solving Ala Presiden Prabowo Dirilis, Menawarkan Peta Jalan Menuju Bangsa MajuLebih dari itu, problem solving merupakan cara berpikir yang menuntut seseorang mampu membaca situasi secara jernih, mempertimbangkan berbagai pilihan, lalu berani mengambil keputusan meski berada dalam kondisi yang penuh ketidakpastian.
![Sambut Baik Buku Presiden Solusi, Abdul Mu'ti: Problem Solving Harus Jadi Budaya Belajar Generasi Muda]()
Ia menilai hal tersebut merupakan benang merah dari buku itu. Kepemimpinan sejati, katanya, bukan diuji ketika keadaan berjalan baik, melainkan ketika seorang pemimpin dihadapkan pada persoalan yang rumit dan harus segera menemukan jalan keluarnya.
Nilai-nilai tersebut, lanjut Abdul Mu'ti, sejalan dengan tujuan pendidikan Indonesia. Sekolah tidak hanya bertugas mengajarkan peserta didik membaca buku pelajaran, tetapi juga membentuk kemampuan mereka membaca realitas kehidupan. Dengan demikian, peserta didik mampu berpikir kritis terhadap persoalan di lingkungan sekolah maupun masyarakat yang lebih luas.
Dalam kesempatan itu, Abdul Mu'ti juga menyoroti peran perpustakaan yang kini telah mengalami transformasi. Menurutnya, perpustakaan tidak lagi sekadar menjadi tempat menyimpan koleksi buku, melainkan telah berkembang menjadi ruang strategis untuk memperkuat budaya literasi dan melatih kemampuan berpikir peserta didik.
"Kecakapan memecahkan masalah merupakan salah satu kompetensi abad ke-21 yang harus terus dikembangkan bersamaan dengan pembentukan karakter, peningkatan literasi, kemampuan memimpin, dan keberanian mengambil keputusan. Semua kemampuan tersebut, katanya, perlu ditanamkan sejak peserta didik masih berada di bangku sekolah," imbuhnya.
Baca juga: Kemendikdasmen Bersama TNI Percepat Rekonstruksi dan Renovasi Sekolah di AcehKarena itu, Abdul Mu'ti mengajak para pustakawan, baik di lingkungan kementerian maupun satuan pendidikan, untuk terus menghadirkan berbagai program literasi yang inovatif. Bedah buku, menurutnya, merupakan salah satu kegiatan yang dapat memperkaya wawasan sekaligus melatih cara berpikir kritis peserta didik terhadap berbagai persoalan bangsa.
![Sambut Baik Buku Presiden Solusi, Abdul Mu'ti: Problem Solving Harus Jadi Budaya Belajar Generasi Muda]()
Di akhir sambutannya, Abdul Mu'ti memberikan pesan khusus kepada para pelajar. Ia mengajak mereka menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sekadar kewajiban akademik. Setiap buku yang dibaca hendaknya menjadi ruang refleksi yang melahirkan gagasan dan keberanian untuk bertindak.
"Berani berpikir kritis, berani mengambil keputusan, dan beranilah mencari solusi atas persoalan yang kalian hadapi sebagaimana semangat yang diusung buku ini. Kalianlah calon pemimpin masa depan bangsa ini," pesannya.
Melalui bedah buku
Presiden Solusi: Problem Solving ala Presiden Prabowo, Abdul Mu'ti menegaskan bahwa budaya membaca dan kemampuan problem solving merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Literasi yang kuat akan melahirkan cara berpikir yang matang, sementara kemampuan memecahkan masalah akan menjadi bekal penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan pembangunan Indonesia di masa depan.
(lsi)