LANGIT7.ID- Istilah akhlak telah lama menjadi kosakata penting dalam dunia Islam. Namun kata itu, yang sering diterjemahkan sebagai budi pekerti, ternyata tidak pernah muncul dalam Al-Qur’an dalam bentuk jamaknya. Yang ditemukan justru kata tunggalnya:
khuluq, dalam surat Al-Qalam ayat 4, yang memuji Nabi Muhammad sebagai berakhlak agung. Dari hadis-lah kata akhlak berkembang sebagai konsep moral yang utuh.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam
Wawasan Al-Qur’an menjelaskan bahwa perilaku manusia amat beragam. Al-Qur’an mengakui keberagaman itu sebagai bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia: Sesungguhnya usaha kamu pasti beragam (QS Al-Lail 92:4). Keberagaman itu bisa ditinjau dari nilai baik atau buruk, juga dari objek tindakan: untuk diri, sesama, maupun Tuhan.
Perdebatan filosofis tentang asal-usul baik dan buruk—dibentuk oleh Tuhan atau pilihan manusia—telah panjang dan berliku. Namun Al-Qur’an menunjukkan manusia diberi dua jalur: kebaikan dan keburukan. Ia diilhami keduanya (QS Asy-Syams 91:7–8). Artinya potensi moral tertanam dalam diri setiap manusia.
KebajikanSejarah awal manusia menggambarkan arah dasar itu. Adam tersesat hanya setelah tergoda iblis (QS Thaha 20:121). Sebelum godaan itu datang, ia berada dalam keadaan lurus. Bagi Quraish Shihab, ini menunjukkan titik awal manusia adalah kebajikan, bukan kejahatan.
Kesucian bawaan ini dipertegas dalam hadis Nabi: setiap anak lahir dalam keadaan fitrah. Lingkunganlah yang kemudian menjadikannya berbeda keyakinan atau perilaku. Psikolog agama seperti Gordon Allport menegaskan kondisi bawaan manusia bersifat plastis: bisa mengarah pada moral luhur, bisa pula tumbuh menjadi karakter destruktif jika mendapat input buruk.
Di banyak peradaban, nilai dasar moral pun senada. Tidak ada masyarakat yang menilai kebohongan, pengkhianatan, atau keangkuhan sebagai kebaikan. Begitu pula penghormatan kepada orang tua yang secara universal dianggap mulia—meski bentuknya berbeda menurut ruang dan waktu. Yang dianggap baik oleh masyarakat, selama dalam kerangka moral universal, dapat disebut ma’ruf.
Berbuat BaikAl-Qur’an juga memberi pesan tersembunyi tentang kemudahan berbuat baik. Dalam QS Al-Baqarah 2:286, perbuatan baik disebut dengan kata kasabat, sedangkan perbuatan buruk dengan kata iktasabat. Muhammad Abduh dalam tafsir Al-Manar menjelaskan: iktasabat mengandung unsur upaya keras dan keterpaksaan, sementara kasabat bisa dilakukan ringan oleh jiwa yang lurus. Keburukan adalah beban yang melawan arah fitrah.
Karena itu, akhlak bukan sekadar aturan, melainkan arah gerak asal manusia. Agama datang untuk mengembalikan fitrah itu, sebagaimana ajakan QS Ar-Rum 30:30 agar manusia menghadapkan diri secara lurus kepada Tuhan.
Namun pilihan tetap ada. Pada akhirnya, manusia akan berhadapan dengan dirinya sendiri: Bacalah catatan amalmu; cukuplah dirimu menghitung perbuatanmu (QS Al-Isra’ 17:14). Pertanggungjawaban moral adalah ujung dari kebebasan memilih.
Dalam lanskap dunia yang makin bising, di tengah banjir informasi dan krisis keteladanan, fitrah kebaikan sering tertimbun. Tapi ia tidak hilang. Ia hanya menunggu dibangunkan: oleh hati yang resah, oleh bisikan nurani yang tak bisa sepenuhnya dibungkam, atau oleh pertemuan singkat dengan teladan akhlak yang agung.
Selebihnya, manusia memilih sendiri: mengikuti tangga terjal menuju kebajikan, atau meluncur ke lembah keburukan yang licin.
(mif)