LANGIT7.ID- Di tengah perdebatan moral yang sering berkutat pada soal benar-salah dalam relasi antar-manusia, akhlak terhadap Allah kerap terlupa. Padahal, menurut Quraish Shihab dalam
Wawasan Al-Quran, fondasi akhlak Islam justru dimulai dari hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Dari hubungan vertikal inilah laku horizontal menemukan arah dan maknanya.
Etika yang berkembang dalam tradisi filsafat Barat umumnya merujuk pada perilaku sosial. Aristotle misalnya menekankan etika sebagai pembiasaan menuju kebajikan demi kehidupan yang baik dalam polis. Kant memandang etika sebagai kewajiban rasional. Sementara etika modern sering kali hanya menjadi tata krama publik: sopan santun, penghormatan hak orang lain, atau ketertiban sosial.
Tetapi akhlak dalam tradisi agama jauh lebih dalam. Ia merambah wilayah batin: kesadaran, niat, keyakinan, dan pengakuan spiritual. Akhlak bukan sekadar cara manusia memperlakukan sesamanya, tetapi juga bagaimana manusia memaknai keberadaan Tuhan. Maka, akhlak tidak berhenti pada tindakan, melainkan pada orientasi terdalam manusia.
Akhlak terhadap Allah bermula dari pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Dia, sebagaimana dicatat Quraish Shihab. Ia memiliki sifat-sifat terpuji yang tak terjangkau manusia—bahkan malaikat mengakui ketidakmampuan mereka memuji-Nya sesuai kebesaran-Nya. Ayat demi ayat Al-Quran memerintahkan manusia untuk memuji dan menyucikan-Nya, dari guntur yang bertasbih (QS Ar-Ra'd: 13) hingga seluruh makhluk yang berserak di semesta (QS Al-Isra: 44).
Berbeda dengan etika yang kerap mengandalkan penilaian rasional atau kesepakatan sosial, akhlak terhadap Allah menuntut kesadaran tentang kesempurnaan-Nya. Menyucikan-Nya berarti membersihkan gambaran manusia tentang Tuhan dari segala kekurangan. Memuji-Nya berarti mengakui bahwa segala kebaikan kembali kepada-Nya. Hubungan moral ini bersifat spiritual, bukan sosial.
Salah satu bentuk akhlak yang dibahas Quraish Shihab adalah menjadikan Allah sebagai wakil—perlindungan tempat manusia menyerahkan urusannya. Di permukaan, konsep ini tampak serupa dengan perwakilan dalam hubungan antar-manusia. Tetapi perbedaannya mencolok. Perwakilan manusia bersifat simetris: mewakilkan berarti memberi kuasa dan menariknya kembali jika tidak sesuai kehendak. Namun perwakilan kepada Allah sepenuhnya asimetris: manusia menyadari keterbatasannya dan menerima keputusan Tuhan tanpa menarik kembali kepercayaannya.
Ahli etika kontemporer Charles Taylor menyebut kehidupan spiritual sebagai “ruang kedalaman moral” tempat manusia mengakui adanya sumber nilai yang lebih tinggi daripada dirinya. Dalam Islam, kedalaman moral itu terletak pada kesadaran bahwa Allah Maha Mengetahui, sedangkan manusia tidak (QS Al-Baqarah: 216). Maka akhlak terhadap Allah bukan menyerah buta, melainkan penyerahan yang disertai usaha.
Al-Quran memang tidak pernah memerintahkan tawakal tanpa didahului tindakan. Perintah-perintah itu selalu datang berpasangan: bergerak, lalu berserah. Masuklah pintu gerbang kota, kemudian bertawakallah (QS Al-Maidah). Cenderunglah kepada perdamaian, kemudian bertawakallah (QS Al-Anfal). Penyerahan yang dianjurkan bukan penghindaran tanggung jawab, tetapi pengakuan bahwa hasil akhirnya bukan kendali manusia.
Perbedaan lain dengan etika adalah cara manusia menyandarkan sesuatu kepada Tuhan. Dalam narasi Al-Quran, tindakan buruk tidak pernah langsung disandarkan kepada Allah. Nabi Ibrahim berkata, “Ketika aku sakit,” bukan “Ketika Engkau membuatku sakit,” tetapi ia menegaskan, “Dialah yang menyembuhkan” (QS Asy-Syu’ara: 80). Khidir berkata “Aku ingin merusaknya” ketika membocorkan kapal, tetapi “Tuhanmu menghendaki” saat menjelaskan pembangunan tembok. Ada kehati-hatian spiritual yang tak ditemukan dalam etika sekuler.
Sesungguhnya, akhlak terhadap Allah membentuk kedewasaan moral yang imperatif bagi seorang Muslim. Ia membangun kesadaran bahwa segala nikmat dari Allah, tetapi keburukan adalah akibat dari diri sendiri (QS An-Nisa: 79). Relasi moral ini mendorong manusia bertanggung jawab pada tindakannya sendiri—lebih tegas daripada etika sosial yang sering kali bergantung pada pengawasan eksternal.
Dalam dunia modern yang cenderung menempatkan agama hanya pada ruang privat, pembahasan akhlak terhadap Allah tampak seperti suara dari masa lampau. Tapi justru di tengah krisis moral global—ketika batas kebenaran menjadi cair—akhlak menawarkan kompas yang tidak ditentukan oleh mayoritas atau manfaat sesaat.
Etika mungkin menjadikan manusia lebih santun. Namun akhlak terhadap Allah menjadikan manusia lebih sadar: sadar akan kekurangannya, sadar akan tugasnya, sadar akan Sang Pencipta yang menjadi sumber segala kebaikan. Di situlah letak perbedaan utama keduanya. Etika menyentuh permukaan; akhlak menembus inti.
Dan tanpa inti itu, sopan santun mudah menjadi topeng, bukan karakter.
(mif)