LANGIT7.ID-Di sebuah ruang sunyi yang kelak dibuka di akhirat, manusia akan diminta membaca berkas hidupnya sendiri. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu hari ini sebagai penghisab atasmu. Penggalan dari QS Al-Isra’ ayat 14 ini kerap dikutip ulama untuk menegaskan satu hal: tiada pelarian dari tanggung jawab.
Namun Al-Qur’an tidak serta-merta menjerat manusia. Ia memberikan sejumlah prinsip yang menempatkan manusia pada posisi wajar: bebas, namun tidak liar. Dalam
Wawasan Al-Qur’an, M. Quraish Shihab menegaskan bahwa seseorang hanya dimintai pertanggungjawaban jika memenuhi syarat pengetahuan, kemampuan, dan kesadaran. Dua ayat dijadikan dasar: QS Al-An’am 6:164 dan QS Al-Baqarah 2:286. Yang pertama menyatakan dosa tak bisa dipikul orang lain. Yang kedua menyebut setiap beban sepadan kemampuan.
Kaidah moralnya menjadi jelas. Pertama, manusia tidak diminta bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak ia ketahui atau tak mampu ia lakukan. Kedua, ia tak dibebani urusan yang bukan perbuatannya—meski ia paham perbuatan itu terjadi. Prinsip ini menolak tudingan yang kerap menganggap agama menindas dengan aturan mutlak.
Fazlur Rahman, sarjana pemikir etika Islam, pernah menulis bahwa kebebasan memilih dalam Islam justru menjadi dasar kemuliaan manusia. Tanpa kebebasan itu, pahala dan dosa lenyap maknanya. Karena itu pula niat menjadi ukuran moral paling dalam. Hadis Nabi yang populer mencatat: Amal tergantung pada niat.
Al-Qur’an mendukung itu. Dalam QS Al-Baqarah 2:225, tanggung jawab hanya terkait apa yang benar-benar disengaja oleh hati. Begitu pula QS Al-Baqarah 2:173 dan QS An-Nahl 16:106 memberi amnesti bagi tindakan terpaksa—iman yang tetap hidup di dada tidak digugurkan oleh tekanan luar. Psikolog seperti Victor Frankl menilai ruang kecil kebebasan batin itu sebagai inti keberadaan manusia.
Contoh konkret diberikan dalam urusan keluarga. QS Al-Isra’ 23-25 memerintahkan anak merendah pada orang tua, terutama yang renta dan mungkin menyebalkan. Larangan mengucap uf—keluhan pendek yang sering lolos tanpa sadar—terkesan sepele. Namun ayat berikutnya menenangkan: Tuhan lebih mengetahui isi hati; jika kamu tetap ingin baik, maka dosa kelalaian yang tak terkontrol akan diampuni.
Pesan yang mengendap: moral bukan sekadar daftar larangan, melainkan orientasi batin. Di balik setiap tindakan, ada kehendak yang memilih arah. Sastrawan Mesir Abdurrahman Badawi menyebut pilihan moral sebagai pengalaman eksistensial: manusia mengukir dirinya melalui setiap keputusan.
Dalam dunia yang semakin bising dan serba cepat, banyak orang merasa terdorong keadaan, bukan memilihnya. Tapi Al-Qur’an mengingatkan, selalu ada ruang kecil bagi kehendak. Dan ruang itulah yang kelak dimintai pertanggungjawaban.
Pada akhirnya, manusia bukan sekadar korban takdir. Ia adalah makhluk yang dimuliakan karena kebebasannya—dan diuji karena hal yang sama.
(mif)