LANGIT7.ID-Kapan waktu yang tepat untuk bersyukur? Lelap malam atau riuh siang? Di ruang lapang atau saat sempit mendesak? Bagi Al-Qur’an, jawabannya sederhana: semua waktu adalah panggung syukur.
Ayat pertama surah Saba’ menyatakan bahwa segala puji milik Tuhan di langit dan bumi, kini di dunia maupun kelak di akhirat. Di sana, para penghuni surga tetap memuji sambil menengok ke belakang: Kami tidak akan memperoleh petunjuk ini seandainya Allah tidak memberi petunjuk (QS Al-A’raf 43). Syukur tak berhenti di dunia, ia berlanjut di alam yang abadi.
Dalam
Wawasan Al-Qur’an (Mizan), Prof. Dr. M. Quraish Shihab menulis, syukur adalah kesadaran manusia atas keterbatasannya dan pengakuan akan sumber segala karunia. Karena nikmat Tuhan tidak pernah kosong dari hidup manusia, waktu syukur juga tidak mungkin kosong.
Di dunia yang digilir siang-malam, Al-Qur’an membayangkan manusia hidup dalam siklus pendidikan spiritual: Dia menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingin mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur (QS Al-Furqan 62). Artinya, syukur bukan hanya respons terhadap rezeki, tetapi proses memahami hikmah.
Dalam QS Ar-Rum 17-18, syukur bahkan dipetakan dalam ritme harian: petang hari, pagi hari, siang terik. Seolah hidup manusia dibingkai empat penjuru waktu, dan setiap sisi adalah pintu untuk memuji.
---
Rasulullah menjadi contoh paling konkret. Saat bangun tidur, beliau menyebut hidup sebagai nikmat yang baru saja dikembalikan. Usai makan, pakaian dikenakan, bahkan menjelang tidur — selalu Alhamdulillah. Penanda bahwa syukur bukan acara seremonial, melainkan pengetahuan bahwa hidup ini tidak terjadi dengan sendirinya.
Psikolog muslim Malik Badri dalam
Contemplation (2000) menilai syukur sebagai terapi eksistensial: ia menyembuhkan manusia dari rasa ditinggalkan. Sementara Azyumardi Azra dalam
Agama dan Moral Publik (2012) menulis bahwa syukur adalah daya sosial, mengubah masyarakat dari mental korban menjadi pelaku perubahan.
Maka orang yang terbiasa bersyukur akan tetap mengucapkannya bahkan saat pahit menggigit. Notulen batinnya mencatat: jika cobaan datang, karunia sebelumnya jauh melebihi luka hari ini. Ia percaya tak ada perbuatan Tuhan yang sia-sia.
---
Syed Naquib al-Attas, dalam
Islam and Secularism (1978), menempatkan syukur sebagai inti adab: mengetahui siapa yang memberi dan siapa menerima. Karena itu, syukur tidak berhenti pada ucapan, tetapi pada cara kita memperlakukan nikmat.
Waktu dan tempat bersyukur tidak ditentukan oleh nikmat yang datang, melainkan oleh kesadaran yang terjaga. Ia bisa tumbuh di kantor yang ramai atau di kamar yang sunyi. Di tengah pesta atau usai kehilangan.
Di dunia atau di akhirat.
Bagi orang yang bersyukur, setiap detik adalah kesempatan. Setiap ruang adalah panggilan.
(mif)