Nikmat terlalu banyak untuk dihitung. Tapi Al-Quran merinci apa saja yang wajib disyukuri: dari hidup hingga kemerdekaan. Syukur adalah kesadaran tentang siapa manusia dan siapa Tuhan.
Syukur tak mengenal jam atau ruang. Al-Quran menunjukkan: pagi, petang, lapang, sempit. Dunia hingga akhirat. Bersyukur adalah keadaan batin yang terus hidup, tak berhenti pada nikmat semata.
Syukur bukan sekadar kata alhamdulillah. Quraish Shihab membaginya jadi tiga laku yang saling terkait: batin, ucapan, dan tindakan. Dari Al-Quran hingga riset psikologi modern, syukur ternyata kerja panjang manusia.
Al-Quran menegaskan: syukur tak menambah apa pun bagi Tuhan. Lalu kepada siapa kembali manfaat syukur? Para mufasir hingga psikolog modern menemukan jawabannya pada manusia itu sendiri.
Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih atau lega saat selamat dari bahaya. Dalam Al-Quran, ia adalah kesadaran menampakkan nikmat dan menggunakannya secara tepat: kunci bertambahnya karunia.
Manusia tidak benar-benar tahu cara memuji Tuhan yang paling pantas. Pengetahuan tentang Allah selalu terbatas, sedangkan pujian yang benar hanya bisa lahir dari pengetahuan yang benar tentang siapa yang dipuji.
Nikmat selalu sampai kepada kita lewat perantara-perantara: ibu yang melahirkan, guru yang mengajarkan huruf, tetangga yang membantu di saat susah, petani yang menanam padi.
Cara bersyukur dalam Islam yang benar adalah mengucap Alhamdulillah dan berterima kasih atas nikmat Allah SWT. Allah menjanjikan tambahan rezeki bagi hamba yang pandai bersyukur dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 7. Bersyukur membawa kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup.