LANGIT7.ID – Dalam banyak doa, manusia menengadahkan tangan lalu mengucap syukur sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan. Selama berabad-abad, syukur dipahami sebagai bentuk pemujaan vertikal: manusia memberi, Tuhan menerima. Namun Al-Qur’an justru merumuskan arah yang berbeda.
Barangsiapa bersyukur, ia sesungguhnya bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri (QS An-Naml [27]: 40). Ayat itu dikutip oleh Quraish Shihab dalam
Wawasan Al-Qur’an (Mizan), menegaskan: Allah tidak memperoleh manfaat apa pun dari syukur manusia. Syukur, kata Quraish Shihab, bukan kebutuhan Tuhan, melainkan kebutuhan manusia.
Dalam tradisi tafsir, para ulama menjelaskan bahwa Allah digambarkan sebagai Syakirun ‘Alim (QS Al-Baqarah [2]: 158) bukan karena Ia memerlukan apresiasi, melainkan karena Dia melipatgandakan nikmat bagi yang menampakkan rasa terima kasihnya.
Kisah klasik yang kerap dikutip: keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah memberikan makanan berbuka mereka kepada fakir miskin, tanpa berharap pujian. Sesungguhnya kami memberi makanan untukmu hanyalah mengharapkan keridhaan Allah (QS Al-Insan [76]: 9). Syukur dalam bentuk ini tidak meminta balasan dari siapa pun — justru memperkaya jiwa pelakunya.
Dari sudut sosiologi agama, antropolog Marcel Mauss dalam
The Gift (1925) mencatat bahwa setiap pemberian mengandung dorongan untuk membalas. Al-Qur’an justru menggeser logika itu: pemberian murni sebagai kebebasan. Dengan cara ini, syukur memutus siklus kepentingan.
Penelitian psikologi kontemporer memperkuat pesan itu. Robert A. Emmons, profesor psikologi UC Davis, menemukan bahwa ekspresi syukur secara konsisten meningkatkan kesehatan mental, menurunkan stres, dan memperbaiki hubungan sosial (
Thanks: How the New Science of Gratitude Can Make You Happier, 2007). Syukur menyehatkan tubuh: sistem imun membaik, kualitas tidur meningkat, depresi menurun.
Dengan kata lain, apa yang agama ajarkan sejak awal kini diverifikasi sains: syukur kembali kepada yang bersyukur.
Quraish Shihab menulis, syukur mencakup tiga dimensi: hati yang ridha, lisan yang memuji, dan perbuatan yang menggunakan nikmat sesuai tujuannya. Ketiganya bekerja untuk manusia: menciptakan ketenangan batin, koneksi sosial, hingga perubahan tindakan yang menghasilkan kehidupan lebih baik.
Tuhan tidak bertambah mulia dengan syukur kita. Dalam narasi Al-Qur’an, Ia sudah Mahakaya. Justru manusialah yang menjadi lebih lapang: dengan memandang nikmat, bukan keluh.
Pada akhirnya, syukur adalah jalan pulang ke diri sendiri. Kita menyebut nama Tuhan, tetapi yang berubah adalah manusia. Kita menengadah, tetapi yang terangkat adalah hidup kita.
Syukur bukan untuk Tuhan. Dan karena itu, justru ia menjadi bukti paling tulus dari hubungan kita dengan-Nya.
(mif)