Wasiat Luqmn al-Hakm dalam al-Qur'an bukan sekadar nasihat kuno, melainkan metode jitu pendidikan karakter. Fokus pada syukur dan tauhid menjadi kunci meraih hikmah yang hakiki bagi pendidik masa kini.
Al-Quran menyebut hanya sebagian kecil manusia yang amalnya dinilai layak dibalas dengan syukur oleh Allah. Siapa mereka, dan bagaimana cara meraihnya? Tafsir para ulama memberi jawabannya.
Syukur bukan sekadar kata alhamdulillah. Quraish Shihab membaginya jadi tiga laku yang saling terkait: batin, ucapan, dan tindakan. Dari Al-Quran hingga riset psikologi modern, syukur ternyata kerja panjang manusia.
Al-Quran menegaskan: syukur tak menambah apa pun bagi Tuhan. Lalu kepada siapa kembali manfaat syukur? Para mufasir hingga psikolog modern menemukan jawabannya pada manusia itu sendiri.
Syukur dalam pengertian ini bukan hanya rasa terima kasih, tapi bentuk apresiasi ilahiah terhadap kesungguhan makhluk-Nya. Namun tidak semua usaha manusia mendapat respons ini.
Manusia tidak benar-benar tahu cara memuji Tuhan yang paling pantas. Pengetahuan tentang Allah selalu terbatas, sedangkan pujian yang benar hanya bisa lahir dari pengetahuan yang benar tentang siapa yang dipuji.
Nikmat selalu sampai kepada kita lewat perantara-perantara: ibu yang melahirkan, guru yang mengajarkan huruf, tetangga yang membantu di saat susah, petani yang menanam padi.
Cara bersyukur dalam Islam yang benar adalah mengucap Alhamdulillah dan berterima kasih atas nikmat Allah SWT. Allah menjanjikan tambahan rezeki bagi hamba yang pandai bersyukur dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 7. Bersyukur membawa kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup.