Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 05 Mei 2026
home masjid detail berita

Mengapa Tidak Semua Usaha Manusia Dicatat sebagai Syukur?

miftah yusufpati Sabtu, 26 Juli 2025 - 04:15 WIB
Mengapa Tidak Semua Usaha Manusia Dicatat sebagai Syukur?
Syukur, dalam terang Al-Quran, adalah jalan panjang. Tapi itu jalan yang bila ditempuh, bukan hanya mendapat ganjaranmelainkan membuat Allah sendiri bersyukur atas langkah kita. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di antara banyak konsep moral dalam Al-Qur’an, syukur adalah kata yang sering disebut, tetapi jarang dimaknai lebih dalam. Kita mengenal syukur sebagai ekspresi terima kasih kepada Tuhan, tetapi Al-Qur’an menempatkannya jauh lebih dari itu: sebagai puncak kesadaran manusia, sebagai cermin visi hidup, dan sebagai nilai yang menentukan ujung takdir seseorang.

Dalam surat Al-Isra’ ayat 18–20, Allah membandingkan dua tipe manusia: mereka yang mengejar kehidupan duniawi semata, dan mereka yang mengarahkan usaha untuk akhirat. Kepada yang pertama, Allah tak langsung mengutuk, justru memberikan sesuai yang mereka kehendaki—dalam batas yang ditentukan. Namun kepada yang kedua, Allah memberi ganjaran khusus: mereka itu adalah orang-orang yang usahanya disyukuri.

Kata kunci di sini: "masykur"—disyukuri. Ini bentuk pasif dari "syakara", bukan manusia yang bersyukur kepada Tuhan, tapi Tuhan yang bersyukur atas usaha manusia. Sebuah ungkapan teologis yang mengguncang. Bagaimana mungkin Tuhan—yang Maha Kaya dan Tak Membutuhkan—menyatakan rasa syukur?

Syukur dalam pengertian ini bukan hanya rasa terima kasih, tapi bentuk apresiasi ilahiah terhadap kesungguhan makhluk-Nya. Namun tidak semua usaha manusia mendapat respons ini. Dalam tafsirnya, Quraish Shihab menekankan: usaha yang masykur adalah usaha yang dibangun dari visi jauh ke depan, yang melampaui batas hidup dunia.

Sebaliknya, mereka yang visinya berhenti pada dunia ini—yang menurut istilah Al-Qur’an “menghendaki kehidupan sekarang”—bisa saja memperoleh keberhasilan, tapi stagnan. Tidak berkembang. Karena ujungnya terbatas pada detik dan jam, bukan pada makna dan keabadian. Mereka mandek setelah sukses, jenuh setelah puas, dan rusak oleh rutinitas yang membosankan.

Baca juga: Syukur Sepanjang Waktu: Ketika Alhamdulillah Menjadi Gaya Hidup dan Jalan Kesadaran

Di sinilah akar dari apa yang oleh Quraish Shihab disebut “kehancuran eksistensial”—di mana pencapaian tak lagi memberi makna, dan kemajuan berhenti pada angka-angka. Ia mengibaratkan dunia sekuler modern sebagai contoh: setelah sukses dicapai, justru kekosongan jiwa yang datang. Mereka sibuk membangun luar, tapi rapuh di dalam. Bangunan besar tak mampu menampung jiwa yang kosong.

Sebaliknya, visi akhirat melahirkan dinamika. Orang yang bercita-cita melampaui bintang, kata Quraish, tak akan pernah puas. Karena ia selalu melihat keberhasilan bukan sebagai ujung, tapi sebagai pijakan untuk naik lebih tinggi. Maka orang semacam ini tak akan jenuh, tak akan berhenti berkarya, sebab cita-citanya menembus batas waktu dan dunia.

Dan kepada merekalah, Allah menjanjikan tambahan demi tambahan petunjuk:

"Dan Allah senantiasa menambah petunjuk bagi orang-orang yang telah mendapat petunjuk." (QS Maryam: 76)

Petunjuk di sini adalah progres spiritual. Bukan hanya tahu lebih banyak, tetapi tahu lebih dalam. Mereka bergerak dari ilmu ke hikmah, dari kerja ke makna. Maka usaha mereka tidak hanya diakui, tetapi disyukuri.

Kata “masykur” muncul kembali dalam surat Al-Insan ayat 22, sebagai penutup dari deskripsi kenikmatan surga. Allah berkata kepada mereka: "Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri." "Ini" yang dimaksud adalah surge, kenikmatan kekal yang tak terputus. Artinya: surga adalah ekspresi syukur Tuhan terhadap manusia yang bersyukur dan berjuang dengan visi akhirat.

Baca juga: Apa yang Harus Disyukuri? Berikut Ini Penjelasan Quraish Shihab

Bagi Quraish Shihab, syukur tidak cukup hanya diucapkan. Ia menuntut tiga ranah: hati yang mengakui nikmat, lisan yang memuji, dan perbuatan yang mencerminkan rasa terima kasih itu. Maka syukur sejati bukan hanya doa setelah makan atau ucapan saat mendapat rezeki. Ia adalah orientasi hidup, cara menata langkah, bahkan fondasi kerja sosial dan politik.

Tidak semua orang bisa masuk dalam barisan *asy-syakirun*, orang-orang yang rasa syukurnya mendarah daging. Tetapi, kata Quraish, jangan berhenti. Jika tak bisa menjadi orang yang sepenuhnya bersyukur, maka jadilah orang yang **berusaha bersyukur**—*yasykurun*—walau kecil. Karena dalam agama, *“apa yang tidak bisa diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan sepenuhnya.”*

Syukur, dalam terang Al-Qur’an, adalah jalan panjang. Tapi itu jalan yang bila ditempuh, bukan hanya mendapat ganjaran—melainkan membuat Allah sendiri bersyukur atas langkah kita.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 05 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)