LANGIT7.ID- Siapa sesungguhnya manusia yang disyukuri Allah? Pertanyaan ini muncul dalam pembahasan tafsir bertema syukur, salah satu konsep terpenting dalam Al-Qur’an. Frasa masykur—yang berarti disyukuri atau dibalas dengan kebaikan—hanya dua kali disebut dalam kitab suci.
Dalam
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, M. Quraish Shihab mengurai bahwa penyebutan langka itu menandakan kedudukan khusus pelakunya. Kedua ayat tersebut terdapat pada Al-Isra’ 17:18–20 dan Al-Insan 76:22.
Ayat di surat Al-Isra’ menggambarkan dua tipe manusia: mereka yang hanya mengejar dunia dan mereka yang menatap akhirat melalui usaha yang sungguh-sungguh. Kelompok pertama meraih apa yang Allah kehendaki untuk mereka, namun hanya sampai batas dunia yang singkat. Kelompok kedua, yang bekerja dengan visi kehidupan setelah mati, itulah yang disebut usahanya disyukuri.
Quraish Shihab menafsirkan, visi dunia semata membuat seseorang mudah jenuh dan mandek. Kemajuan bersifat sementara, lalu berubah menjadi kehampaan. Ia mengutip fenomena kejenuhan masyarakat modern yang meraih keberhasilan material namun kehilangan makna. Sebaliknya, visi akhirat menciptakan energi kreatif yang tiada putus. Di atas satu keberhasilan, selalu ada tujuan lebih tinggi.
Konsep ini dikuatkan dalam QS Maryam 19:76: Allah terus menambah petunjuk bagi mereka yang konsisten mengupayakan kebaikan. Usaha yang menyatu antara dunia dan akhirat itulah yang diganjar dengan syukur dari Sang Pencipta.
Ayat kedua, dalam Al-Insan 76:22, merujuk pada balasan nikmat surga. Kata masykur di sini adalah bentuk kepastian: amal yang benar-benar dihargai Allah akan berubah menjadi kenikmatan abadi.
---
Fazlur Rahman dalam
Major Themes of the Qur’an (1980) menegaskan bahwa syukur adalah sikap eksistensial manusia yang sadar akan tujuan hidupnya. Ia bukan sekadar ucapan, tapi keselarasan hati, lisan, dan tindakan. Sedangkan Toshihiko Izutsu dalam God and Man in the Qur’an (1964) menempatkan syukur sebagai fondasi relasi manusia–Tuhan yang saling melengkapi: manusia mengakui nikmat, Allah menambahkannya.
Meski demikian, kelompok yang benar-benar mencapai derajat asy-syakirun—orang-orang yang syukurnya telah mendarah daging—diakui Al-Qur’an sangat sedikit. Karena itu, kata Quraish Shihab, jika tak mampu menjadi golongan unggul tersebut, manusia tetap harus berjuang menjadi yasykurun: orang-orang yang senantiasa berupaya bersyukur walau kecil.
Dalam kaidah agama yang ia kutip: Sesuatu yang tidak dapat diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan sama sekali.
Syukur, pada akhirnya, bukan tentang kepemilikan, melainkan arah perjalanan. Mereka yang berjalan menuju Allah dengan kesungguhan: itulah yang amalnya disyukuri.
(mif)