LANGIT7.ID – Kata syukur akrab diucap: setelah mendapat bonus, lolos dari kecelakaan, atau saat rezeki datang tak terduga. Namun dalam ajaran Al-Qur’an, syukur bukan sekadar reaksi emosional sesaat. Ia adalah cara hidup yang membawa keberlanjutan nikmat.
Dalam
Wawasan Al-Qur’an, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menguraikan bahwa syukur berakar pada makna kepuasan dengan sesuatu yang sedikit sekalipun. Bahasa Arab menggunakannya untuk menggambarkan kuda yang tetap gemuk meskipun makan sedikit: menerima dengan lapang, lalu berkembang karenanya.
Ar-Raghib al-Isfahani, pakar bahasa Al-Qur’an, menambahkan: syukur berarti menghadirkan nikmat dalam kesadaran lalu menampakkannya. Lawannya adalah kufur, yang berarti menutupi dan mengingkari nikmat. Karena itu, syukur dalam Al-Qur’an kerap dipasangkan dengan kufur, seperti peringatan keras dalam QS Ibrahim ayat 7: Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah nikmat, dan jika kamu kufur, azab-Ku amat pedih.
---
Dalam tafsir itu, syukur tak berhenti pada rasa. Ia menjadi tindakan. Bukan hanya mengakui nikmat lewat lisan, tapi menggunakannya sesuai tujuan Pemberinya. Syukur menuntut orientasi moral: setiap kemampuan, kesehatan, jabatan, dan ilmu harus kembali pada kebaikan. Nabi bahkan menegaskan bahwa Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba, sebagaimana riwayat At-Tirmidzi.
Karena itu pula, para mufasir menyebut syukur sebagai ciri orang yang tulus (mukhlis). Setan, dalam QS Shad ayat 82–83, mengakui tak berdaya terhadap hamba yang ikhlas dan bersyukur. Syukur tak hanya menyelamatkan dari keluh kesah, tetapi menjadi benteng spiritual menghadapi godaan.
---
Syukur punya tiga wajah: Pertama, hati yang ridha atas anugerah yang diberikan. Kedua, lisan yang menyebut dan memuji Nama Pemberi Nikmat. Ketiga, perbuatan yang menyalurkan nikmat ke jalan yang tepat.
Ketika tiga unsur itu terhubung, syukur menjadi energi tumbuh. Bukan pasrah pada keadaan, tapi memaksimalkan potensi yang ada, seberapapun kecilnya. Ia mengubah nikmat menjadi kebermanfaatan, dan kebermanfaatan menjadi sebab bertambahnya nikmat.
Di dunia yang serba tergesa dan kompetitif hari ini, syukur kerap terdengar klise. Namun justru di sanalah aktualisasinya dibutuhkan: menjadi rem ego, penjernih tujuan, sekaligus pemantik produktivitas yang salih.
Syukur, dalam pandangan Al-Qur’an, adalah seni merawat nikmat: menyadari asalnya dan mengembalikan hasilnya pada kebaikan. Bukan hanya sikap spiritual, melainkan strategi hidup yang menyehatkan jiwa dan menumbuhkan peradaban.
(mif)