Al-Quran menegaskan hanya sedikit manusia yang mampu bersyukur. Di ruang batin setiap orang, syukur adalah perjuangan menuju martabat hamba yang mengenali dirinya dan Tuhannya.
Syukur bukan sekadar kata alhamdulillah. Quraish Shihab membaginya jadi tiga laku yang saling terkait: batin, ucapan, dan tindakan. Dari Al-Quran hingga riset psikologi modern, syukur ternyata kerja panjang manusia.
Syukur bukan sekadar ucapan terima kasih atau lega saat selamat dari bahaya. Dalam Al-Quran, ia adalah kesadaran menampakkan nikmat dan menggunakannya secara tepat: kunci bertambahnya karunia.
Manusia tidak benar-benar tahu cara memuji Tuhan yang paling pantas. Pengetahuan tentang Allah selalu terbatas, sedangkan pujian yang benar hanya bisa lahir dari pengetahuan yang benar tentang siapa yang dipuji.
Nikmat selalu sampai kepada kita lewat perantara-perantara: ibu yang melahirkan, guru yang mengajarkan huruf, tetangga yang membantu di saat susah, petani yang menanam padi.
Cara bersyukur dalam Islam yang benar adalah mengucap Alhamdulillah dan berterima kasih atas nikmat Allah SWT. Allah menjanjikan tambahan rezeki bagi hamba yang pandai bersyukur dalam Al-Quran Surat Ibrahim ayat 7. Bersyukur membawa kebahagiaan dan keberkahan dalam hidup.
Kisah Nabi Sulaiman, sosok pemimpin agung dalam Al-Quran yang memiliki mukjizat mengendalikan jin dan angin, menjadi teladan bersyukur bagi umat Islam. Doanya dalam Surat An-Naml ayat 19 mengajarkan pentingnya syukur nikmat kepada Allah meski memiliki kekuasaan luar biasa.