LANGIT7.ID-Di banyak mimbar, orang diingatkan: “Kalau dapat nikmat, jangan lupa
bersyukur!” Di meja makan, di podium wisuda, di balik mikrofon saat memenangi penghargaan, ucapan yang paling sering terdengar adalah “Alhamdulillah.” Namun, bagi Al-Qur’an, syukur jauh lebih luas dari sekadar satu kata di ujung lidah.
Di dalam surat Al-Baqarah ayat 152, Tuhan berfirman: “
Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku.” Ayat ini kerap dijadikan sandaran untuk menegaskan bahwa segala bentuk syukur, pada akhirnya, memang harus kembali kepada-Nya.
Tapi tafsir yang jernih menunjukkan bahwa Allah sendiri, lewat firman-Nya dalam surat Luqman ayat 14, juga menyebut nama lain yang wajib disyukuri: kedua orang tua. “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu.”
Ini semacam konfirmasi bahwa nikmat selalu sampai kepada kita lewat perantara-perantara: ibu yang melahirkan, guru yang mengajarkan huruf, tetangga yang membantu di saat susah, petani yang menanam padi. Dan Al-Qur’an meminta kita tidak hanya melihat kepada Pemberi Utama, tetapi juga menghormati tangan-tangan yang membawakan rezeki itu ke pangkuan kita.
Rasulullah bahkan menegaskan dengan kalimat yang lebih lugas, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad: “Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, ia tidak bersyukur kepada Allah.”
Baca juga: Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur Untung bagi Diri, Bukan untuk TuhanPertanyaan besar lain: untuk siapa sebenarnya syukur itu? Apakah Tuhan membutuhkan ucapan terima kasih kita?
Al-Qur’an menjawab tegas dalam surat An-Naml ayat 40: *“Barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri.”*
Tuhan Mahakaya, tidak butuh apapun dari makhluk-Nya. Syukur adalah kebutuhan manusia sendiri—ia menenangkan jiwa, menyehatkan hati, memperbaiki relasi sosial, bahkan memperkuat iman.
Ada keluarga Ali bin Abi Thalib dan Fatimah yang digambarkan dalam surat Al-Insan ayat 9 memberi makanan kepada fakir miskin, yatim, dan tawanan, lalu berkata: “Kami memberi makanan kepada kalian hanya untuk mengharap ridha Allah, kami tidak menghendaki balasan maupun ucapan terima kasih dari kalian.”
Mereka memberi bukan karena ingin dipuji; dan syukur mereka pun tak pernah untuk Tuhan secara transaksional. Tuhan sendiri bahkan menyebut diri-Nya dalam Al-Baqarah ayat 158 sebagai “Syakirun ‘Alim”, Yang Maha Bersyukur dan Maha Mengetahui—artinya, Dia membalas berkali lipat setiap syukur hamba-Nya.
Baca juga: Sabar dan Syukur: Dua Sayap Menuju Ridha-Nya Bagaimana Bersyukur?Tafsir
Quraish Shihab dalam
Wawasan Al-Qur’an merinci bahwa syukur itu punya tiga dimensi: hati, lidah, dan anggota tubuh.
Syukur hati berarti menyadari bahwa semua nikmat ini datang dari Allah, bukan murni karena usaha kita. Qarun, yang sombong berkata “Ini semua karena ilmuku sendiri” dalam surat Al-Qashash, justru dicatat sebagai orang yang kufur nikmat.
Syukur lidah berarti mengucapkan pujian kepada Allah dengan alhamdulillah, memuji-Nya di depan manusia, menyebut-nyebut kebaikan-Nya dengan rendah hati.
Syukur perbuatan berarti menggunakan nikmat itu sesuai tujuan-Nya: ilmu untuk membimbing, harta untuk membantu, tubuh untuk beribadah. Dalam syukur ini ada pula ekspresi fisik yang disebut sujud syukur, saat seseorang menyentuhkan dahinya ke bumi untuk menunjukkan kerendahan diri di hadapan Tuhan.
Baca juga: Syukuran Sebelum dan Sesudah Berhaji Menurut Pandangan Islam Syukur Saat SempitMungkin yang paling sulit adalah syukur saat sempit. Ketika musibah datang, orang biasanya lupa nikmat-nikmat yang masih tersisa. Padahal, orang yang benar-benar bersyukur tetap menemukan celah untuk berkata “untung”—beruntung karena cobaan itu lebih ringan dari yang seharusnya, beruntung karena masih ada nikmat lain yang tersisa.
Seperti ditegaskan oleh Nabi: “Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian, jangan lihat orang yang di atas kalian, supaya kalian tidak meremehkan nikmat yang telah Allah berikan kepada kalian.”
Di balik sujud syukur, ada kesadaran bahwa semua nikmat hanya titipan. Bahkan penderitaan pun kadang membawa berkah tersembunyi.
Di tingkat paling tinggi, seseorang yang bersyukur belajar memberi tanpa syarat—sebagaimana Tuhan memberi tanpa pernah butuh ucapan terima kasih. Karena itu, Al-Qur’an memuji keluarga Ali yang tak meminta imbalan apapun atas sedekah mereka.
Dan bagi orang yang benar-benar beriman, bersyukur bukan hanya soal menundukkan kepala dan mengucap
alhamdulillah. Ia adalah cara hidup: melihat dunia sebagai anugerah, melihat orang lain sebagai amanah, melihat diri sendiri sebagai hamba.
Baca juga: Usai Mualaf, Ruben Onsu Bersyukur Kini Bisa Shalat di Mushala yang Dibangunnya(mif)