Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur

miftah yusufpati Sabtu, 05 Juli 2025 - 16:58 WIB
Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur
Syukur, dengan begitu, bukan sekadar ucapan yang kita lafazkan setelah mendapat hadiah. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Di banyak mimbar, kata itu terdengar ringan: syukur. Ucapan yang sering dilontarkan di akhir acara, selesai makan, atau setelah terhindar dari bahaya: “Alhamdulillah.”

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, syukur berarti rasa terima kasih kepada Allah, atau sekadar “untunglah” yang menyiratkan rasa lega.

Akan tetapi makna syukur ternyata jauh lebih dalam. Al-Quran menyebut kata ini—dengan segala derivasinya—sebanyak 64 kali. Ia bukan hanya ekspresi rasa puas, tapi juga sebuah cara hidup yang menyeluruh: dengan hati, lisan, dan perbuatan.

Ahmad Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah mencatat bahwa akar kata syukur memiliki empat makna dasar: pujian atas kebaikan, kepenuhan atau kelimpahan, sesuatu yang tumbuh walau dengan sedikit, dan pernikahan. Makna-makna itu berpangkal pada satu sifat: mampu menerima dengan cukup, meski sedikit, hingga mendatangkan keberlimpahan. Dalam tradisi Arab, seekor kuda yang hanya makan sedikit rumput tetapi tetap gemuk disebut sebagai kuda yang bersyukur.

Pandangan ini senada dengan tafsir Ar-Raghib Al-Isfahani dalam Al-Mufradat fi Gharib al-Quran: syukur berarti “membuka” atau menampakkan nikmat, lawan dari kufur yang berarti “menutup” atau menyembunyikan nikmat.

Baca juga: Sabar dan Syukur: Dua Sayap Menuju Ridha-Nya

Di dalam Wawasan Al-Quran (Mizan, 1996), Prof Dr M Quraish Shihab menjelaskan bahwa hakikat syukur adalah menampakkan nikmat—bukan menyembunyikannya—dengan cara menggunakan nikmat itu sesuai tujuan pemberinya.

Al-Quran bahkan secara eksplisit memperhadapkan syukur dengan kufur: “Jika kamu bersyukur pasti akan Kutambah (nikmat-Ku) untukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih.” (QS Ibrahim [14]:7)

Rasulullah Muhammad SAW juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan At-Tirmidzi: “Allah senang melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.” Itu sebabnya syukur bukan sekadar rasa puas di dalam hati atau doa di bibir, tetapi juga perilaku nyata: memperlakukan nikmat sebagaimana mestinya.

Syukur, kata Quraish Shihab, mencakup tiga sisi:

- Hati, yaitu merasakan kepuasan batin atas anugerah.
- Lisan, dengan menyebut dan memuji pemberi nikmat.
- Perbuatan, dengan memanfaatkan nikmat untuk tujuan yang benar.

Dan syukur bukan hanya kepada Allah. Al-Quran, dalam QS Luqman [31]:14, menyebutkan bahwa manusia juga harus bersyukur kepada kedua orang tuanya: “Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Baca juga: Syukuran Sebelum dan Sesudah Berhaji Menurut Pandangan Islam

Hadis Nabi bahkan menyebut lebih luas: “Siapa yang tidak mensyukuri manusia, maka dia tidak mensyukuri Allah.”

Di tengah masyarakat modern yang serba cepat ini, syukur sering direduksi menjadi sekadar basa-basi. Padahal, seperti diingatkan Quraish Shihab, syukur justru menjadi penanda ketulusan (ikhlas) seorang hamba. Dalam QS Al-A’raf [7]:17, Iblis sendiri mengakui bahwa ia akan menyesatkan manusia kecuali mereka yang bersyukur dan ikhlas:

“Dan Engkau tidak akan menemukan kebanyakan dari mereka (manusia) bersyukur.”

Syukur, menurut tafsir para pakar, bukan berarti pasrah lalu diam, melainkan menggunakan nikmat untuk kebaikan. Ia adalah kesadaran untuk membuka diri terhadap anugerah, sekaligus menutup pintu-pintu keluh kesah yang berakar pada kelalaian.

Maka syukur bukan sekadar “untunglah” atau basa-basi sosial. Ia adalah sebuah sikap spiritual, intelektual, dan praktis untuk menempatkan nikmat pada tempatnya. Ia juga menjadi ukuran siapa yang mampu tetap “gemuk” meski dengan “rumput” yang sedikit, sebagaimana kuda bersyukur yang jadi peribahasa bangsa Arab.

Baca juga: Momen Katy Perry Sujud Syukur Usai Kembali dari Perjalanan Luar Angkasa

Orang yang mampu bersyukur, tulis Quraish Shihab, akan memperoleh banyak, lebat, dan subur. Orang yang tidak, hanya akan menutup dirinya pada karunia-karunia Tuhan yang tak pernah berhenti mengalir.

Syukur, dengan begitu, bukan sekadar ucapan yang kita lafazkan setelah mendapat hadiah. Ia adalah pilihan untuk melihat, menghargai, dan mempergunakan setiap detik hidup sebagai nikmat yang patut dirawat. Dan pada akhirnya, syukur adalah cara kita membuka pintu-pintu nikmat baru, sembari menutup celah-celah kufur yang merugikan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)