Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 21 Juli 2026
home masjid detail berita

Mengapa Bersyukur Itu Berat: Sebuah Doa yang Tak Pernah Selesai

miftah yusufpati Selasa, 22 Juli 2025 - 05:45 WIB
Mengapa Bersyukur Itu Berat: Sebuah Doa yang Tak Pernah Selesai
Bahkan Nabi pun memohon: bantulah aku untuk bersyukur. Sebuah doa yang tampaknya tidak pernah selesai. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Di antara semua kewajiban manusia kepada Tuhan, mungkin yang paling sederhana terdengar adalah bersyukur. Tapi justru di situlah letak ujian paling sunyi: kemampuan manusia untuk mengakui nikmat dan memuji pemberi nikmat.

Namun, Al-Qur’an sendiri memberi petunjuk bahwa bahkan para nabi—manusia pilihan yang dijaga dari dosa—pun memohon bimbingan agar bisa bersyukur. Nabi Sulaiman berdoa:

Wahai Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai…” (QS An-Naml [27]:19).

Nabi lain, dalam kisah berbeda, juga memohon hal serupa: “Wahai Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan supaya aku dapat berbuat amal saleh yang Engkau ridhai…” (QS Al-Ahqaf [46]:15).

Bahkan Rasulullah SAW sendiri tidak hanya mengajarkan doa ini, tetapi juga mengucapkannya setiap hari:

“Wahai Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur untuk-Mu, dan beribadah dengan baik bagi-Mu.”

Mengapa para nabi yang maksum dan selalu ingat Tuhan masih memohon bimbingan untuk bersyukur?

Baca juga: Syukur yang Lahir, Syukur yang Batin: Bukan Hanya dengan Lidah

Menurut Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan), ada dua alasan besar. Pertama, karena manusia tidak benar-benar tahu cara memuji Tuhan yang paling pantas. Pengetahuan tentang Allah selalu terbatas, sedangkan pujian yang benar hanya bisa lahir dari pengetahuan yang benar tentang siapa yang dipuji.

Karena manusia tidak pernah mampu menjangkau hakikat-Nya, maka mustahil pula ia dapat memuji-Nya sesuai dengan kebesaran-Nya. Itu sebabnya Allah sendiri menuntun manusia dengan kalimat pujian yang tepat. Dalam Al-Qur’an tak kurang dari lima kali muncul perintah: wa qul: alhamdulillah (“katakanlah: segala puji bagi Allah”).

Karena khawatir bahwa pujian yang diucapkan tidak layak bagi-Nya, banyak zikir yang didahului dengan pensucian (tasbih)—mengakui bahwa Allah Mahasuci dari segala kekurangan—sebelum pujian (hamd). Maka dalam rukuk kita berkata: Subhana rabbiyal ‘azhim wa bihamdih, dan dalam sujud: Subhana rabbiyal a’la wa bihamdih.

Alasan kedua, lanjut Quraish Shihab, adalah karena setan tidak pernah berhenti menggoda manusia untuk melupakan syukur. Setan sudah bersumpah di hadapan Allah untuk menyesatkan manusia dari segala arah, hingga akhirnya, seperti ia sendiri akui:

Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS Al-A’raf [7]:17)

Baca juga: Syukur: Membuka Pintu Nikmat, Menutup Celah Kufur

Kenyataan memang begitu. Dalam Al-Qur’an berulang kali Allah menegaskan bahwa sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur. Nabi Yusuf sendiri berkata: kebanyakan manusia tidak bersyukur (QS Yusuf [12]:38).

Hanya dua nabi yang Al-Qur’an sebut secara eksplisit sebagai syakûr—hamba yang benar-benar bersyukur—yakni Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim. Nuh disebut: innahu kana ‘abdan syakura (“sesungguhnya dia adalah hamba yang banyak bersyukur”, QS Al-Isra’ [17]:3), sedangkan Ibrahim disebut: syakiran li an’umihi (“yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah”, QS An-Nahl [16]:121).

Yang paling menyedihkan adalah kenyataan bahwa banyak manusia hanya berjanji untuk bersyukur ketika berada dalam kesulitan. Dalam gelombang dahsyat di laut, mereka meratap:

“Jika Engkau menyelamatkan kami dari bencana ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.” (QS Yunus [10]:22)

Tapi begitu mereka selamat, janji itu terhapus oleh angin daratan.

Baca juga: Sabar dan Syukur: Dua Sayap Menuju Ridha-Nya

Maka, syukur bukan hanya soal kata, tetapi juga soal kesadaran yang terus dilatih. Karena syukur adalah salah satu ibadah paling berat: ia menuntut pengetahuan, ketulusan, kerendahan hati, dan kekuatan untuk melawan bisikan setan yang membisikkan bahwa nikmat itu datang dari usaha kita sendiri.

Karena itu, bahkan Nabi pun memohon: bantulah aku untuk bersyukur. Sebuah doa yang tampaknya tidak pernah selesai.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 21 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan