LANGIT7.ID- Rasulullah Saw. konon pernah menangis dalam sujud: Ya Allah, bantu aku mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik untuk-Mu. Para sahabat terperangah—jika manusia paling utama saja memohon kemampuan itu, apalagi manusia biasa.
Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam
Wawasan Al-Qur’an menulis: manusia tidak akan pernah mampu mensyukuri Allah secara sempurna, bahkan sekadar memuji-Nya pun manusia membutuhkan bimbingan. Ia mengutip doa Nabi Sulaiman dalam QS An-Naml 19 dan doa serupa dalam QS Al-Ahqaf 15. Kalimat pujian pun dituntun lewat wahyu: lima kali Al-Qur’an memerintahkan Rasul dan umatnya untuk berkata, “Alhamdulillah”.
Filsuf Muslim Syed Muhammad Naquib al-Attas menyebut syukur sebagai kesadaran yang melahirkan adab: mengetahui tempat Tuhan sebagai Tuhan dan diri sebagai hamba (
Islam and Secularism, 1978). Sedangkan psikolog Malik Badri menegaskan, syukur mengakar dalam fitrah Insan, tetapi digerogoti oleh tabiat lalai dan tuntutan dunia modern (
Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study, 2000).
Al-Qur’an tidak menutupi kenyataan pahit: kebanyakan manusia tidak bersyukur. Ayat itu berulang dari QS Al-Baqarah 243, Saba’ 13, hingga pengakuan Nabi Yusuf dalam QS Yusuf 38. Godaan setan, kata QS Al-A’raf 17, datang dari segala arah—mendorong manusia lupa pada pemberi nikmat.
Kisah keluarga Nabi Daud menjadi pengecualian langka: “Bekerjalah untuk bersyukur.” Kalimat itu menunjukkan syukur bukan hanya ucapan, melainkan gerak sosial yang memuliakan sesama. Bahkan hanya dua nabi, Nuh dan Ibrahim, yang dinyatakan sebagai hamba syakur—syukur yang telah menjadi sifat, bukan sekadar respon.
Azyumardi Azra dalam
Agama dan Moral Publik (2012), menggambarkan syukur sebagai kekuatan sipil: ia menjauhkan masyarakat dari keluhan yang melemahkan dan memupuk etos kerja. Tapi modernitas membuat manusia merasa sebagai pemilik nikmat, bukan penerima. Pencapaian berubah menjadi kesombongan yang pelan-pelan mengikis kesadaran.
Di pelabuhan kehidupan, manusia kerap hanya ingat Tuhan saat gelombang meninggi: “Jika Engkau selamatkan kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur,” begitu janji dalam QS Yunus 22 dan QS Al-An’am 63. Namun saat kapal kembali tenang, janji disimpan dalam laci paling dalam.
Syukur, dengan demikian, adalah perang melawan lupa.
Di ujung kajiannya, Quraish Shihab menulis: manusia mendahulukan tasbih dalam rukuk dan sujud—Subhana Rabbiyal ‘Azhim wa bi hamdih—karena mereka khawatir pujiannya tak layak bagi keagungan Tuhan. Itu bentuk kerendahan hati yang justru menjadi inti syukur.
Perjalanan menjadi hamba syukur tidak pernah usai. Tapi mungkin permulaan terbaiknya masih sama seperti doa Nabi Saw.: memohon untuk bisa bersyukur.
Sebab tanpa pertolongan-Nya, bahkan kemampuan berterima kasih pun bukan milik manusia.
(mif)