LANGIT7.ID-Jakarta; - Dalam kehidupan sehari-hari, kecenderungan manusia untuk membandingkan diri dengan orang lain sering kali menjadi sumber rasa kurang dan gelisah. Islam memberikan resep bersyukur yang sangat praktis agar hati senantiasa tenang dan senantiasa menghargai setiap karunia yang dimiliki.
Rasulullah ﷺ memberikan petunjuk berharga mengenai sudut pandang yang tepat dalam memandang nikmat duniawi sebagaimana diriwayatkan dalam hadits shahih berikut:
وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ. حَدَّثَنَا جَرِيرٌ. ح وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ. حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ. ح وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ (وَاللَّفْظُ لَهُ). حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
"انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ. وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ. فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ."
(
Dan Zuhair bin Harb telah menceritakan kepadaku. Jarir telah menceritakan kepada kami. [Dalam jalur lain] Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami. [Dalam jalur lain] Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami [dan lafaz ini miliknya]. Abu Mu'awiyah dan Waki' telah menceritakan kepada kami dari Al-A'masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Pandanglah kepada orang yang berada di bawah kalian, dan janganlah memandang kepada orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah [atas kalian].")
Untuk memahami kedalaman pesan hadits ini, para ulama memberikan rincian kosakata kunci sebagai berikut:
Ajdar (أجدر): Bermakna lebih berhak, lebih layak, atau lebih pantas.
Tazdaru (تزدروا): Bermakna menghina, mengecilkan, atau meremehkan.
Menurut Abu al-Abbas al-Qurthubi dalam Al-Mufhim, hadits ini memuat perintah eksplisit agar seseorang senantiasa melihat kepada orang yang berada di bawahnya dalam urusan harta maupun kondisi fisik. Prinsip ini diajarkan agar manusia tidak memandang sebelah mata atau meremehkan nikmat yang telah Allah ﷻ anugerahkan kepadanya.
Ibnu Jarir at-Thabari beserta para ulama lainnya menjelaskan bahwa petunjuk Nabi ﷺ ini mencakup pintu-pintu kebaikan yang sangat luas. Kecenderungan mayoritas manusia ketika melihat orang yang memiliki kelebihan dalam hal duniawi adalah munculnya dorongan jiwa untuk menuntut hal serupa. Akibatnya, ia akan menganggap kecil nikmat Allah ﷻ yang ada pada dirinya dan terdorong oleh ambisi berlebih demi menyamai atau melebihi orang tersebut.
Baca Juga: Tafsir Al-Baqarah Ayat 8: Bahaya Laten Kemunafikan dan Pura-Pura BerimanSebaliknya, apabila dalam urusan dunia ia membiasakan diri melihat kepada orang yang kondisinya di bawahnya, maka besarnya nikmat dan kasih sayang Allah ﷻ akan tampak begitu jelas. Kesadaran ini akan membuahkan rasa syukur, sifat tawadhu (rendah hati), serta dorongan untuk berbuat kebaikan kepada sesama.
Al-Munawi dalam Faydh al-Qadir turut menegaskan bahwa hadits ini merupakan kunci kebaikan mental dan spiritual. Memandang ke atas dalam urusan duniawi hanya akan memicu kecemburuan, rasa tidak puas, dan keinginan tak bertepi untuk terus mengejar kemewahan. Namun saat mata dan hati diarahkan untuk melihat mereka yang kurang beruntung, jiwa akan menjadi lebih tenang, sadar akan melimpahnya karunia yang ada, serta terdorong untuk hidup bersahaja dan berbagi.
Melatih diri untuk senantiasa menatap ke bawah dalam urusan dunia pada hakikatnya adalah jalan untuk menyadarkan jiwa akan betapa melimpahnya karunia Allah yang telah kita terima. Sering kali, manusia terjebak dalam rasa kurang bukan karena nikmat yang sedikit, melainkan karena enggan menghitung apa yang telah dimiliki dan terlalu sibuk menginginkan apa yang ada di tangan orang lain.
Kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia dalam menghitung karunia Ilahi ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam Surah Ibrahim ayat 34:
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ
(
Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat).
Baca Juga: Kemenag Siapkan Replikasi Eco-Masjid ke Berbagai Daerah, Program Panel Surya Meluas ke Tiga ProvinsiMelalui ayat ini, Allah mengingatkan bahwa karunia yang dicurahkan kepada setiap hamba sungguh tidak terbatas, mulai dari helai napas, kesehatan, hingga ketenangan hati. Namun sifat dasar manusia kerap kali zalim kepada dirinya sendiri dan kufur nikmat karena terlalu fokus pada hal-hal yang belum digenggamnya.
Oleh karena itu, mengamalkan petunjuk Rasulullah SAW untuk melihat mereka yang berada di bawah kita merupakan benteng terbaik agar tidak tergolong sebagai hamba yang zalim dan ingkar. Dengan menjaga cara pandang tersebut, hati akan belajar untuk senantiasa merasa cukup, ridha atas setiap takdir, dan memuji Allah atas segala kelapangan yang telah diberikan.
(zhd)