LANGIT7.ID-Jakarta; - Dalam ajaran Islam, tolok ukur kebaikan dan keburukan tidak hanya dirumuskan dalam aturan hukum yang kaku, melainkan juga menyentuh kedalaman nurani manusia. Hal ini tergambar jelas dalam salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Nawwas bin Sam'an Al-Kilabi. Dalam riwayat tersebut, Rasulullah SAW memberikan definisi yang sangat mendalam namun sederhana mengenai hakikat kebajikan dan dosa, yakni bahwa kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang mengganjal di dalam dada dan engkau benci jika hal itu diketahui oleh orang lain.
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمِ بْنِ مَيْمُونٍ. حَدَّثَنَا ابن مهدي عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ النواس بن سمعان الأنصاري. قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عن البر والإثم؟ فقال "البر حسن الخلق. والإثم ما حاك في صدرك، وكرهت أن يطلع عليه الناس
"
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Hatim bin Maimun; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi dari Muawiyah bin Shalih, dari Abdurrahman bin Jubair bin Nufair, dari ayahnya, dari Nawwas bin Sam'an Al-Anshari, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebajikan dan dosa. Beliau bersabda: Kebajikan adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang mengganjal di dalam dadamu dan engkau benci jika hal itu diketahui oleh orang lain."
Catatan riwayat tersebut juga menyimpan keunikan tersendiri dari sisi keilmuan sanad. Meskipun dalam beberapa naskah tertulis nama Nawwas bin Sam'an Al-Anshari, para ulama ahli hadis seperti Abu Ali Al-Jayyani, Al-Maziri, dan Qadhi Iyadh meluruskan bahwa Nawwas sebenarnya berasal dari suku Kilab atau Al-Kilabi. Nisbah Al-Anshari kemungkinan terjadi karena statusnya sebagai sekutu atau tamu terhormat bagi kaum Anshar selama menetap di Kota Madinah.
Latar belakang pencarian ilmu oleh Nawwas bin Sam'an memberikan gambaran menarik mengenai tradisi bertanya di masa kenabian. Nawwas rela menunda status hijrah dan menetapnya secara permanen di Madinah selama satu tahun semata-mata agar tetap memiliki keleluasaan bertanya kepada Nabi SAW. Pada masa itu, kaum Muhajirin yang sudah menetap cenderung membatasi diri untuk bertanya secara langsung karena rasa hormat dan kepatuhan. Kedatangan para tamu atau warga dari luar Madinah justru menjadi momen yang sangat dinantikan oleh kaum Muhajirin, karena pertanyaan para tamu tersebut membukakan pintu jawaban dan hikmah baru dari Rasulullah SAW bagi seluruh umat.
Mengenai makna kebajikan atau al-birr, Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama menafsirkan kata tersebut ke dalam beberapa dimensi, mulai dari menyambung tali silaturahmi, bersikap lemah lembut, berbuat kebaikan, hingga membangun hubungan kemasyarakatan yang harmonis dan penuh ketaatan. Seluruh cakupan makna indah tersebut bermuara pada satu muara utama, yaitu keluhuran akhlak seseorang.
Baca Juga: Tafsir Hadits: Bersyukur dengan Menatap Mereka yang Berada di BawahSementara itu, untuk memahami makna dosa, Rasulullah SAW menggunakan indikator psikologis berupa gejolak dalam dada. Istilah haaka merujuk pada perasaan ragu, cemas, dan tidak tenang yang meresap ke dalam hati. Ketika seseorang melakukan atau memikirkan sesuatu yang tidak selaras dengan fitrah kebenaran, hatinya akan menolak dan memunculkan kekhawatiran jika perbuatan tersebut sampai terlihat oleh orang lain. Rasa takut terlihat oleh publik ini menjadi tanda bahwa nurani sebenarnya menyadari adanya cela dalam perbuatan tersebut.
Penjelasan menarik juga disampaikan oleh Abu Al-Abbas Al-Qurtubi dalam kitab Al-Mufhim. Menurutnya, jawaban Rasulullah SAW yang menyerahkan indikator dosa pada kejujuran hati nurani tidak berlaku untuk semua orang secara general. Pendekatan ini secara khusus diberikan kepada penanya seperti Nawwas bin Sam'an yang memiliki kejernihan pikiran, kebersihan hati, dan pemahaman yang tajam.
Bagi individu yang memiliki kepekaan nurani, hati akan menjadi kompas alami yang merespons keburukan dengan rasa tidak nyaman. Sebaliknya, bagi masyarakat awam atau mereka yang berhati keras, penjelasan agama tetap membutuhkan batas-batas perintah dan larangan syariat secara terperinci.
Melalui hadis ini, umat Islam diajak untuk senantiasa merawat kejernihan hati agar mampu membedakan mana kebaikan yang mendatangkan ketenangan dan mana dosa yang memicu kegelisahan. Akhlak mulia tidak hanya ditunjukkan melalui sikap lahiriah kepada sesama manusia, tetapi juga dijaga melalui kejujuran batin saat berhadapan dengan pilihan-pilihan moral dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Ilusi Orang Munafik Dapat Menipu Allah dan Orang Beriman(zhd)