Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 06 Agustus 2026
home sosok muslim detail berita

Jejak Sang Maestro Hadits: Riwayat, Keilmuan, dan Ujian Imam Bukhari

ahmad zuhdi Kamis, 06 Agustus 2026 - 19:15 WIB
Jejak Sang Maestro Hadits: Riwayat, Keilmuan, dan Ujian Imam Bukhari
LANGIT7.ID-Jakarta; - Nama lengkap beliau adalah Muḥammad bin Ismāʿīl bin Ibrāhīm bin al-Mughīrah al-Juʿfī al-Bukhārī, dengan kunyah Abū ʿAbdillāh. Nisbah al-Juʿfī dinisbatkan kepada al-Mughīrah, seorang maula (budak yang dimerdekakan) dari kabilah Juʿfī yang masuk Islam di tangan al-Yamān al-Juʿfī, Gubernur Bukhara. Sementara itu, nisbah al-Bukhārī menunjukkan tempat kelahiran dan tanah asalnya, yaitu kota Bukhara di wilayah Transoxiana (Mā Warāʾ al-Nahr). Beliau lahir pada bulan Syawwal tahun 194 Hijriah (810 Masehi), sebagaimana dicatat oleh Abū Jaʿfar Muḥammad bin Abī Ḥātim al-Bukhārī, penulis kitab Syamāʾil al-Bukhārī. Al-Dzahabī dalam Siyar Aʿlām al-Nubalāʾ menegaskan kelahiran beliau melalui riwayat: "Abū ʿAbdillāh lahir pada bulan Syawwal tahun 194 H."

Ayah beliau, Ismāʿīl bin Ibrāhīm, merupakan seorang ulama dan perawi hadits terpandang. Imam al-Bukhārī pernah meriwayatkan bahwa ayahnya sempat mendengar hadits dari Mālik bin Anas, melihat Ḥammād bin Zaid, serta berjabat tangan dengan Ibn al-Mubārak menggunakan kedua tangannya. Hal ini menandakan bahwa al-Bukhārī tumbuh dari lingkungan ulama. Namun, sang ayah wafat saat al-Bukhārī masih kecil, sehingga ia dibesarkan dan dididik sepenuhnya oleh sang ibu. Sejak dini, beliau memperlihatkan kecerdasan luar biasa dan hafalan yang amat kuat dalam mempelajari hadits. Al-Dzahabī mengutip perkataan ʿAbdān yang terpesona padanya: "Aku tidak pernah melihat dengan mataku seorang pemuda yang lebih cerdas daripada ini," seraya menunjuk al-Bukhārī. Sejak muda, al-Bukhārī berprinsip tidak akan duduk mengajar hadits sebelum benar-benar mampu membedakan hadits sahih dan cacat, serta selesai menelaah hampir seluruh kitab-kitab ra'yu (pendapat fiqih).

Didorong oleh dahaganya akan ilmu, al-Bukhārī melakukan rihlah ilmiah (perjalanan menuntut ilmu) ke berbagai penjuru negeri Islam. Beliau tercatat memasuki kota Bashrah sebanyak lima kali atau lebih, dan bersumpah tidak meninggalkan satu pun hadits sahih di sana melainkan telah menuliskannya. Beliau juga merantau ke Syam, Mesir, Hijaz, Kufah, Baghdad, dan kota-kota lainnya. Dalam pengembaraan tersebut, beliau berguru kepada ulama-ulama ternama seperti Makkī bin Ibrāhīm, ʿUbaidullāh bin Mūsā, Abū Mushir, Sulaimān bin Ḥarb, Surīj bin al-Nuʿmān, ʿAlī bin al-Jaʿd, Muḥammad bin al-Ṣabbāḥ, Khalaf bin Hishām, Abū Bakr bin Abī Shaibah, Bundār (Muḥammad bin Bashshār), Isḥāq bin Rāhawayh, Hishām bin ʿAmmār, Ḥarmalah bin Yaḥyā, ʿĪsā bin Zughbah, Muḥammad bin Bakkār, Abū Ḥumah Muḥammad bin Yūsuf al-Zubaidī, Muḥammad bin Rumḥ, Abū Nuʿaim al-Ḥalabī, Duḥaim, Abū Kuraib, serta ulama di tanah kelahirannya seperti Muḥammad bin Salām dan Hārūn bin al-Ashʿath. Beliau juga berguru kepada Aḥmad bin Ḥanbal dan ʿAlī bin al-Madīnī. Beliau begitu mengagumi ʿAlī bin al-Madīnī hingga menyatakan: "Aku tidak pernah merasa kecil diriku kecuali di hadapan ʿAlī bin al-Madīnī."

Keluasan ilmunya melahirkan murid-murid besar yang kelak menjadi pilar ilmu hadits. Di antara murid-murid beliau adalah Abū ʿĪsā al-Tirmidzī, Abū Ḥātim al-Rāzī, Ibrāhīm bin Isḥāq al-Ḥarbī, Abū Bakr bin Abī al-Dunyā, Abū Bakr Aḥmad bin ʿAmr bin Abī ʿĀṣim, Ṣāliḥ bin Muḥammad Jazarah, Muḥammad bin ʿAbdillāh al-Ḥaḍramī (Muṭayyan), Ibrāhīm bin Maʿqil al-Nasafī, ʿAbdullāh bin Nājiyah, Abū Bakr Muḥammad bin Isḥāq bin Khuzaimah, ʿUmar bin Muḥammad bin Bujair, Abū Quraish Muḥammad bin Jumʿah, Yaḥyā bin Muḥammad bin Ṣāʿid, Muḥammad bin Yūsuf al-Firabrī (perawi utama Ṣaḥīḥ al-Bukhārī), Manṣūr bin Muḥammad Mīzbazdah, Abū Bakr bin Abī Dāwud, al-Ḥusain dan al-Qāsim (al-Maḥāmilī), ʿAbdullāh bin Muḥammad bin al-Ashqar, Muḥammad bin Sulaimān bin Fāris, serta Maḥmūd bin ʿAnbar al-Nasafī. Imam Muslim juga meriwayatkan hadits darinya di luar kitab Ṣaḥīḥ-nya, dan Imam al-Nasāʾī meriwayatkan darinya dalam kitab al-Ṣiyām dari Sunan-nya. Pengaruh majelis ilmunya sangat masif; Abū ʿAlī Ṣāliḥ bin Muḥammad Jazarah mengisahkan bahwa ketika al-Bukhārī mengajar di Baghdad dan ia menjadi mustamlī (pengulang bacaan), jamaah yang hadir berkumpul lebih dari 20.000 orang.

Baca Juga: Imam Besar Australia Puji Indonesia Jadi Role Model Kerukunan Beragama, Juga Kagumi Peran Bung Karno Menemukan Makam Imam Buchori

Keagungan keilmuan al-Bukhārī diakui secara luas oleh para ulama zamannya hingga beliau digelari Amīr al-Muʾminīn fī al-Ḥadīts. Qutaibah bin Saʿīd menyatakan: "Seandainya Muḥammad (al-Bukhārī) berada di masa para sahabat, niscaya ia akan menjadi tanda keajaiban." Imam Aḥmad bin Ḥanbal menegaskan: "Tidak datang kepada kami dari Khurasan seorang yang seperti Muḥammad bin Ismāʿīl." Abū Ḥātim al-Rāzī menyebutnya sebagai orang paling berilmu yang pernah memasuki Irak, sementara Abū Bakr bin Khuzaimah mengaku tidak pernah melihat siapa pun di bawah naungan langit yang lebih paham dan hafal hadits Nabi ﷺ melebihi al-Bukhārī. Bahkan Imam Muslim pernah mendatanginya seraya berkata: "Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai guru para guru, pemimpin para ahli hadits, dan dokter hadits dalam penyakit-penyakitnya." Abū ʿĪsā al-Tirmidhī mengakui al-Bukhārī sebagai orang paling alim di Irak dan Khurasan dalam hal ʿilal (cacat hadits), sejarah, dan sanad. Mūsā bin Hārūn al-Ḥāfiẓ bahkan berpendapat bahwa seandainya seluruh umat Islam bersatu untuk mencetak sosok sepertti al-Bukhārī, mereka tidak akan sanggup. Spesialisasi utamanya meliputi kritik sanad, matan, al-jarḥ wa al-taʿdīl, serta biografi perawi. Dalam fiqih, beliau merupakan mujtahid independen yang secara umum cenderung pada madzhab Syafi'i.

Meskipun dihormati, perjalanan hidup al-Bukhārī tidak luput dari ujian berat. Di Naisabur, kedatangan beliau disambut hangat oleh Muḥammad bin Yaḥyā al-Dhuhlī. Namun seiring melonjaknya popularitas dan padatnya majelis al-Bukhārī, timbul kecemburuan yang berujung pada penyebaran isu kontroversial mengenai al-lafẓ bi al-Qurʾān makhlūq (lafal Al-Qur'an adalah makhluk). Ketika didesak di majelisnya, al-Bukhārī menjawab dengan bijak: "Al-Qur'an adalah Kalamullah yang tidak diciptakan, sedangkan perbuatan hamba adalah ciptaan, dan menguji orang dengan masalah ini adalah bid'ah." Jawaban ini tidak memuaskan kubu al-Dhuhlī hingga berujung pada larangan menghadiri majelis al-Bukhārī. Beliau akhirnya memutuskan keluar menuju Bukhara. Di sana, ujian lain menanti ketika Gubernur Khālid bin Aḥmad meminta beliau mengajar anak-anak istana secara khusus. Beliau menolaknya dengan tegas demi menjaga kehormatan ilmu: "Aku tidak suka jika sandal dipukulkan di kepalaku." Penolakan ini memicu kemarahan gubernur hingga al-Bukhārī diusir dari tanah kelahirannya.

Setelah diusir dari Bukhara dan sempat ditolak di Samarkand, beliau akhirnya memilih mengasingkan diri di desa Khartank, sebuah wilayah kecil di dekat Samarkand. Di desa inilah al-Bukhārī menghabiskan sisa hidupnya hingga wafat pada malam hari raya Idul Fitri, tepatnya malam Sabtu setelah shalat Maghrib, tanggal 1 Syawwal tahun 256 H (870 M). Meskipun al-Dhahabī sempat mencatat riwayat bahwa beliau wafat pada bulan Rajab tahun 263 H, ia mengoreksinya karena riwayat yang lebih kuat dan masyhur menetapkan tahun 256 H.

Imam al-Bukhārī meninggalkan warisan keilmuan yang tak ternilai bagi peradaban Islam. Karya terutamanya, al-Jāmiʿ al-Ṣaḥīḥ (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī), disusun selama 16 tahun dan diakui sebagai kitab paling otentik setelah Al-Qur'an. Beliau pernah berkata: "Aku menyusun al-Ṣaḥīḥ dalam enam belas tahun, dan aku menjadikannya sebagai hujjah antara aku dan Allah Ta'ala." Muridnya, al-Firabrī, mencatat bahwa kitab tersebut telah didengar langsung oleh 90.000 orang. Corak karya beliau sangat komprehensif, mencakup ilmu hadits riwayah (Ṣaḥīḥ al-Bukhārī), dirayah (Takhrīj al-Aḥādīth al-Marfūʿah), al-jarḥ wa al-taʿdīl (al-Ḍuʿafāʾ al-Ṣaghīr), sejarah perawi (al-Tārīkh al-Kabīr dan al-Tārīkh al-Awsat), adab dan akhlak (al-Adab al-Mufrad), akidah Ahlus Sunnah (Khalq Afʿāl al-ʿIbād), hingga fiqih praktis (Juzʾ al-Qirāʾah Khalfa al-Imām dan Qurrat al-ʿAynain bi Rafʿ al-Yadain fī al-Ṣalāh). Keseluruhan karyanya mengukuhkan posisi Imam al-Bukhārī sebagai pemuka utama dalam ilmu hadits, sejarah perawi, fiqih, dan teologi Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Baca Juga: Penyesalan Terbesar Maut: Ingin Hidup Lagi Hanya untuk Sedekah

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 06 Agustus 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:23
Maghrib
17:58
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan