Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 11 Agustus 2026
home masjid detail berita

Bahaya Ghibah: Kezaliman atas Kehormatan dan Ancaman Muflis di Akhirat

ahmad zuhdi Selasa, 11 Agustus 2026 - 08:13 WIB
Bahaya Ghibah: Kezaliman atas Kehormatan dan Ancaman Muflis di Akhirat
LANGIT7.ID, Jakarta; - ‎Perbuatan membicarakan keburukan orang lain atau ghibah bukan sekadar pelanggaran etika sosial, melainkan bentuk kezaliman nyata terhadap kehormatan sesama manusia. Dalam ajaran Islam, merusak nama baik orang lain memiliki konsekuensi hukum yang sangat berat, bahkan mampu menyeret pelakunya ke dalam jurang kebangkrutan hakiki di alam akhirat kelak.‎‎Dosen IAIPI Bandung, Ustaz Robi Permana menjelaskan, landasan utama mengenai hal ini bersandar pada sabda Rasulullah SAW dari sahabat Abu Hurairah RA yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari nomor 2449. Nabi SAW memperingatkan bahwa barang siapa yang pernah melakukan kezaliman kepada saudaranya, khususnya yang berkaitan dengan kehormatan ('irdh), hendaknya ia segera meminta maaf dan memohon pembebasan (at-tahallul) di dunia sebelum datang hari di mana dinar dan dirham tidak lagi bernilai.‎‎"Peringatan tegas ini menegaskan bahwa ghibah merupakan bentuk perampasan hak kemanusiaan (huququl 'ibad). Jika perkara tersebut tidak diselesaikan di dunia, maka kebaikan dan pahala amal saleh milik pelaku ghibah akan diambil untuk diberikan kepada korbannya. Bahkan jika pahala kebaikannya telah habis, dosa-dosa dari orang yang dighibahi justru akan dialihkan dan dibebankan kepada si pelaku ghibah," ujar Ustaz Robi dalam Kajian Hamalatul Hadits (Kahadis), dikutip Selasa (11/8/2026).‎Ancaman ini berbanding lurus dengan penjelasan Rasulullah SAW mengenai kriteria orang yang bangkrut (al-muflis) di akhirat dalam riwayat Imam Muslim nomor 2581. Dalam hadis tersebut, Nabi menceritakan sosok umatnya yang datang membawa pahala shalat, puasa, dan zakat yang melimpah, namun ia juga membawa dosa karena gemar mencela, menuduh, dan merusak kehormatan orang lain. "Pada akhirnya, seluruh pahalanya ludes terbagi-bagi untuk membayar kezalimannya hingga ia dilemparkan ke dalam neraka," ujarnya.‎Secara konseptual, papar Ustaz Robi, fenomena kezaliman ini membentuk rantai konsekuensi yang sistematis: berawal dari kezaliman terhadap sesama, tersisanya hak korban yang belum ditunaikan, hingga berujung pada pembalasan (qishash) menggunakan transfer pahala di hari kiamat. Hal ini menunjukkan bahwa dosa ghibah tidak bisa begitu saja selesai hanya dengan memohon ampun kepada Allah tanpa menyelesaikannya secara langsung dengan pihak yang dirugikan.‎Definisi ghibah sendiri ditegaskan kembali oleh Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim nomor 2589 sebagai tindakan menyebutkan sesuatu tentang saudara yang tidak disukainya. Meskipun apa yang dikatakan itu sesuai dengan kenyataan, tindakan tersebut tetap dikategorikan sebagai ghibah yang melanggar kehormatan; sedangkan jika perkataan itu dusta, maka pelakunya telah melakukan kebohongan besar (buhtan).‎‎"Maka dari itu, skema hubungan antara ghibah dan kezaliman dapat dirumuskan secara jelas. Perbuatan ghibah secara langsung melahirkan kezaliman terhadap kehormatan seseorang, yang kemudian menimbulkan hak bagi pihak yang dizalimi, sehingga memicu kewajiban mutlak bagi pelaku untuk meminta maaf dan memulihkan nama baik korbankan (at-tahallul)," terangnya.‎Di sisi lain, kebiasaan berghibah juga mencerminkan kontradiksi batin yang amat tajam terhadap makna istigfar. Ustaz Robi Permana menyoroti bahaya laten di balik perilaku ini bagi jiwa seorang muslim. "Ghibah itu membuat seseorang sibuk melihat kesalahan orang lain, sedangkan istigfar adalah kesadaran akan kesalahan diri sendiri," ujar Ustaz Robi.‎‎Dia menambahkan bahwa terus-menerus melakukan ghibah sambil mengucapkan istigfar menunjukkan ketidaksesuaian antara ucapan lisan dan sikap batin. Sikap tersebut secara langsung menyalahi makna hakiki dari istigfar itu sendiri.‎"Semoga kita dijauhkan dari perbuatan ghibah dan segera memulihkan kehormatan orang lain yang pernah dirusak, agar terhindar dari gelar 'Muflis' atau orang yang bangkrut di akhirat," pungkasnya.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 11 Agustus 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:58
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan