Seorang tabiin yang mulia, Yahya bin Abi Katsir berkata: Seseorang berpuasa dari yang halal dan baik (yakni makanan dan minuman), tetapi dia berbuka dengan yang haram dan buruk: memakan daging saudaranya.
Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan lisan dari perkataan yang sia-sia, dusta, dan menyakiti orang lain. Puasa sejati adalah yang disertai dengan pengendalian diri.
Ada 2 cara untuk bertaubat dari dosa gibah. Taubat dari dosa gibah tak bisa langsung memohon ampunan kepada Allah SWT, tapi meminta maaf dengan orang tersebut.
Ustaz Khalid menuturkan, satu hal yang bisa menyelamatkan si penggibah dari hukuman Allah yakni meminta maaf kepada sasaran gibahnya. Sebaliknya, sasaran si penggibah bila memaafkan akan mendapatkan pahala.
Dai asal Riau Ustaz Abdul Somad menjelaskan, ghibah diambil dari kata ghaabaha, yaghiibu ghaiban yang berarti ghaib artinya tak nampak. Menurutnya, perilaku ghibah ialah menyebut aib seseorang ketika dia tidak ada.
Islam melarang seseorang untuk membicarakan orang lain dengan hal yang tidak disenangi si mayit semasa hidup. Baik berkaitan dengan kekurangan fisik, akhlak, agama, dan lain sebagainya.
Bergunjing atau ghibah merupakan kegiatan membicarakan keburukan orang lain. Ghibah merupakan salah satu perilaku buruk, makanya dalam Islam tidak diperbolehkan untuk dilakukan dalam situasi apapun.