Meskipun dihormati, perjalanan hidup al-Bukhari tidak luput dari ujian berat. Di Naisabur, kedatangan beliau disambut hangat oleh Muhammad bin Yahya al-Dhuhl.
Lahir pada 13 Syawal 194 Hijriah, Imam al-Bukhari mengubah wajah peradaban Islam melalui sains verifikasi hadis. Ketekunannya menyaring ribuan riwayat menjadi benteng keaslian ajaran Nabi hingga hari ini.
Imam al-Syafi i meletakkan dasar metodologi yang mengubah hadits dari sekadar tradisi lisan menjadi sistem hukum yang kokoh. Al-Kutub al-Sittah menjadi bukti sejarah kejujuran ilmiah umat Islam.
Godaan dalam proses mencari ilmu juga cukup banyak, beraneka ragam, dan datang silih berganti baik godaan dari luar maupun dalam diri sendiri. Begini nasihat Imam Bukhari.
Dan diantara jenis tanah itu ada yang berbentuk lembah yang dapat menampung air hingga penuh dan diantaranya ada padang sahara yang datar. (Hadits Shahih Al-Bukhari No. 77 - Kitab Ilmu)
Tepat hari ini, 1 September 870 Masehi, Ulama terbesar dalam bidang hadits ini wafat dan meninggalkan warisan ribuan hadits shahih yang jadi referensi umat Islam hingga kini.
Menurut dia, perbedaan metodologi akan mengakibatkan perbedaan dari sisi kesimpulan. Hal itu tergantung pendekatan yang diambil, apakah bayani yang bertumpu pada teks, atau ta'lili yang bertumpu pada rasio atau akal.