Metodologi, Kunci Pahami Hadis dan Menghargai Perbedaan Pendapat
Jaja SuhanaAhad, 19 Juni 2022 - 09:15 WIB
Mudir Mahad Imam Al-Bukhari Bandung, Ustaz Ginanjar Nugraha menjelaskan metodologi merupakan kunci dari mempelajari ilmu hadis. Foto: Istimewa.
LANGIT7.ID, Jakarta - Metodologi dinilai sebagai kunci bagi seorang muslim dalam memahami hadis. Selain itu, dengan menguasasi metodologi seseorang dapat menghargai orang lain yang berbeda pendapat.
Mudir Ma'had Imam Al-Bukhari Bandung, Ustaz Ginanjar Nugraha menjelaskan metodologi merupakan kunci dari mempelajari ilmu hadis. Menurut dia, wajar apabila berbeda metodologi memunculkan perbedaan makna dari suatu hadis.
"Jadi dengan belajar metodologi bisa memahami hadis lebih jelas, lebih soft dan lebih menghormati yang lain," ujar Ginanjar dalam program 'Apa Kabar Ustaz' Langit7, Ahad (19/6/2022).
Ginanjar mencontohkan pemaknaan tentang hadis isbal (menjulurkan pakaian hingga mata kaki), yang pertama-tama dilakukan adalah mengumpulkan hadis-hadis yang berkaitan dengan larangan isbal.
"Setelah dikumpulkan, diperiksa hadis-hadis tersebut mana yang sahih mana yang daif. Kemudian dipelajari makna dari hadis-hadis itu, caranya dengan menggunakan metodologi," katanya.
Menurut dia, perbedaan metodologi akan mengakibatkan perbedaan dari sisi kesimpulan. Hal itu tergantung pendekatan yang diambil, apakah bayani yang bertumpu pada teks, atau ta'lili yang bertumpu pada rasio atau akal.
"Misalnya pendekatan bayani atau mantuk, ambil contoh hadis Bukhari: Ma asfala minal ka'baini finnar (apa yang di bawah mata kaki tempatnya di neraka). Kalau secara bayani kesimpulannya apapun yang berada di bawah mata kaki, mau itu sarung, celana dan sebagainya maka di neraka," tuturnya.
Sedangkan pendekatan ta'lili menurut Ginanjar terlebih dahulu dicari illat atau sifat zahir untuk mendeteksi hukum. Pertama-tama hadis-hadis dikumpulkan lalu dikatogorikan mutlak dan mukayad.
Hadis mutlak pengertiannya sama dengan bayani, yakni apapun yang di bawah mata kaki hukumnya neraka. Sedangkan hadis mukayad mengandung pengertian khusus, bahwa isbal berkaitan dengan masalah kesombongan.
"Kemudian berlakulah illatnya bahwa orang yang diperingati memakai pakaian di bawah mata kaki itu maksudnya adalah terkait kesombongan," tuturnya.